Headline
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
Kumpulan Berita DPR RI
SALAH perencanaan dan tata kelola dinilai bakal menyulitkan upaya pengendalian harga bahan pangan yang akan dilakukan pemerintah. Lonjakan harga-harga diperkirakan akan tetap terjadi dan menambah kesusahan masyarakat sebagai konsumen.
Sebab, kenaikan harga bahan pangan selama Ramadan dan Lebaran merupakan fenomena musiman. Pengendalian akan semakin sulit karena sejumlah komoditas pangan membutuhkan waktu untuk diproduksi dan disalurkan ke pasar.
"Bahan-bahan yang sekarang ini bukan merupakan musim panen harganya akan tinggi. Tapi kalau panen memang akan agak terkendali. Misal, beras, kita ini kan baru masuk musim panen, harga mungkin akan sedikit turun, walau memang masih lebih tinggi dari Januari-Februari lalu," ujar Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad saat dihubungi, Kamis (7/3).
Baca juga : Jokowi Tekankan Pentingnya Menjaga Ketersediaan dan Kestabilan Harga Pangan
Salah satu komoditas pangan yang akan sulit dikendalikan kenaikan harganya ialah telur. Sebab produksi telur tak bisa dilakukan dengan cepat atau menggunakan opsi instan seperti mengimpor beras.
Kenaikan harga telur diperkirakan akan sulit ditekan. Harga komoditas itu diproyeksikan akan terus naik seiring dengan kenaikan permintaan selama Ramadan dan Idulfitri 2024. "Telur ini kan masih ada yang Rp30 ribu per kg, ini kan tinggi sekali. Yang lain juga tampaknya memang akan sulit, karena sekarang ini musim hujan, itu akan berat untuk cabai," kata Tauhid.
Dia menilai, pemerintah telah gagal mengatasi persoalan harga dan ketersediaan pangan. Itu tercermin dari sengkarut harga beras yang dalam beberapa waktu terakhir cukup tinggi. Padahal di saat yang sama pengambil kebijakan juga menyadari adanya produksi beras yang berkurang akibat El Nino.
Baca juga : Jelang Ramadan, Pemprov DKI Diminta Waspadai Lonjakan Harga Pangan
"Memang pengendalian harga ini kurang terencana, kurang terkelola dengan baik. Katanya stok aman, tapi barangnya sulit diperoleh, sulit di pasar. Seharusnya kalau aman kan harga tidak setinggi ini. Jadi tidak terkontrol," tutur Tauhid.
"Pemerintah sendiri sebetulnya tahu produksi akan turun karena El Nino, musim panen yang mundur, tapi stok yang ada itu sangat kurang dan tidak diantisipasi dengan baik," lanjutnya.
Dus, kenaikan harga yang diperkirakan akan terus terjadi selama Ramadan dan Idulfitri itu akan memberi pengaruh pada kemampuan belanja masyarakat. Tauhid menilai, itu akan menekan pertumbuhan konsumsi rumah tangga meski terbilang minor.
Pasalnya, lapisan kelompok masyarakat bawah telah menerima banyak stimulus dari pemerintah berupa pangan hingga uang tunai. Karenanya, tekanan di konsumsi rumah tangga disebut akan terjadi meski tak signifikan menggerus daya beli secara keseluruhan.
"Jadi secara umum relatif turun tapi tidak terlalu drastis. Tekanan itu pasti ada karena memang ada ekspektasi inflasi juga, pedagang bisa dengan alasan macam-macam menaikan harga saat Ramadan dan Lebaran," kata Tauhid. (Mir/Z-7)
Arah kebijakan Baznas ke depan termasuk target pengumpulan zakat nasional yang ditetapkan mencapai Rp160 triliun dan Baznas pusat sebesar Rp10 triliun pada 2031.
Momentum Ramadan mendorong spektrum belanja yang lebih luas—dari kebutuhan harian hingga pengeluaran yang lebih aspiratif.
Tradisi halal bi halal untuk menyempurnakan ibadah puasa Ramadan.
Human Initiative terus melakukan evaluasi dalam setiap pelaksanaan program.
Konsumsi makanan dengan kadar gula maupun garam tinggi dapat menyebabkan kulit kehilangan hidrasi dan menjadi lebih kering.
Inisiatif ini hadir sebagai solusi nyata bagi para pekerja kebun dan masyarakat sekitar dalam menghadapi lonjakan harga kebutuhan pokok yang biasanya terjadi selama bulan suci.
Tingginya angka kunjungan ini mengukuhkan situs warisan budaya sebagai pilihan utama keluarga untuk berekreasi sekaligus mengedukasi diri.
DI tengah ritme kehidupan yang semakin cepat, menjaga kualitas interaksi dalam keluarga menjadi tantangan tersendiri.
Setelah perjalanan mudik jarak jauh di atas 500 km, terutama jika kendaraan kita yang umumnya sempat membawa beban berlebih, pemeriksaan dasar menjadi sangat penting.
MOMENTUM libur Idulfitri 1447 H menjadi berkah tersendiri bagi pelaku usaha di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Bagi pemilik mobil hybrid seperti HEV dan PHEV, pemeriksaan dasar pada ban, rem, dan kaki-kaki tetap menjadi kewajiban. Namun, sistem kelistrikan dan baterai memerlukan atensi tambahan.
Dalam satu hari tersebut, jumlah transaksi pengisian daya mencapai 18.088 kali dengan total konsumsi energi sebesar 427.980 kWh.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved