Headline

Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.

Indef : Ramadan dan Lebaran Buka Peluang Ekonomi, tapi Dibayangi Tekanan Inflasi

Naufal Zuhdi
09/3/2026 16:40
Indef : Ramadan dan Lebaran Buka Peluang Ekonomi, tapi Dibayangi Tekanan Inflasi
ilustrasi.(MIi)

PENELITI Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Abdul Manap Pulungan menilai momentum Ramadan dan Idulfitri selalu menjadi salah satu periode penting bagi perekonomian nasional karena berpotensi meningkatkan aktivitas konsumsi masyarakat.

Menurutnya, peningkatan konsumsi biasanya didorong oleh pencairan tunjangan hari raya (THR) serta mobilitas masyarakat yang meningkat selama musim mudik.

“Momen Lebaran merupakan salah satu momen penting setiap tahunnya karena memberikan peluang sekaligus tantangan bagi perekonomian. Dari sisi permintaan, Ramadan dan Idulfitri biasanya mendorong peningkatan konsumsi, terutama dari THR maupun aktivitas mudik,” ujarnya pada acara Diskusi Publik “Ekonomi Lebaran di Tengah Gejolak Perang” yang digelar secara daring, Senin (9/3).

Ia mengatakan peningkatan konsumsi tersebut diharapkan dapat mendorong aktivitas pelaku usaha, khususnya sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), sehingga kapasitas produksi dapat meningkat dan perputaran uang di masyarakat menjadi lebih besar.

“Kita berharap aktivitas ini bisa mendorong UMKM agar bergerak dan meningkatkan kapasitas produksinya, sehingga pada akhirnya akan mempengaruhi jumlah uang yang beredar selama periode Ramadan dan Lebaran,” katanya.

Namun demikian, Pulungan menilai momentum tersebut juga selalu diiringi tantangan yang hampir terjadi setiap tahun, terutama kenaikan inflasi menjelang Ramadan dan Idulfitri.

“Tantangan yang sering kita alami adalah meningkatnya inflasi, khususnya dari kelompok bahan makanan karena stok pangan yang terbatas. Ini persoalan yang rutin terjadi tetapi belum terselesaikan secara fundamental,” ujarnya.

Selain tekanan dari harga pangan, ia menilai faktor global juga berpotensi memengaruhi stabilitas harga di dalam negeri, terutama melalui dampak terhadap harga energi.

Menurutnya, inflasi yang berasal dari komponen harga yang diatur pemerintah atau administered price juga menunjukkan tekanan yang cukup tinggi.

“Kalau kita lihat inflasi Februari, inflasi administered price sudah mencapai sekitar 12 persen,” ungkapnya..

Ia juga menyoroti tantangan lain bagi masyarakat yang melakukan perjalanan mudik, seperti kondisi infrastruktur, harga bahan bakar, hingga potensi kemacetan yang dapat menambah biaya perjalanan.

“Tantangan infrastruktur seperti BBM, kondisi jalan, hingga kemacetan bisa menambah biaya tambahan bagi pemudik. Dana yang seharusnya digunakan untuk konsumsi justru bisa terserap untuk biaya-biaya tak terduga,” ujarnya.

Selain itu, faktor bencana seperti banjir juga dapat memengaruhi alokasi pengeluaran masyarakat, termasuk penggunaan THR yang diterima menjelang Lebaran. Dalam situasi tahun ini, Pulungan menilai tantangan ekonomi menjadi lebih kompleks karena Ramadan berlangsung di tengah tekanan ekonomi global.

“Kondisi tahun ini agak berbeda karena Ramadan dan Lebaran terjadi ketika ekonomi global sedang mengalami tekanan. Hal ini akan memengaruhi nilai tukar rupiah dan pada akhirnya berdampak pada inflasi domestik,” katanya.

Ia menjelaskan kombinasi inflasi pangan, inflasi energi, serta depresiasi nilai tukar rupiah berpotensi meningkatkan inflasi impor dan menekan daya beli masyarakat.

Menurutnya, kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan apakah tambahan pendapatan dari THR benar-benar mampu mendorong daya beli atau hanya sekadar menahan dampak inflasi.

“Hipotesisnya adalah apakah tambahan THR yang diterima masyarakat benar-benar mampu meningkatkan daya beli atau hanya sekadar menahan agar inflasi tidak menggerus daya beli,” ujarnya.

Ia menambahkan tekanan inflasi dari berbagai sisi, baik dari sisi pasokan maupun permintaan, membuat potensi peningkatan konsumsi selama Ramadan dan Lebaran menjadi tidak optimal.

“Ketika inflasi datang dari berbagai sisi seperti pangan, energi, infrastruktur, dan nilai tukar, maka tambahan THR yang diterima masyarakat akan sulit dimaksimalkan untuk meningkatkan konsumsi,” beber Pulungan. (Fal/P-3)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya