Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
BANJIR bandang dan tanah longsor di tiga provinsi di Sumatra kian membukakan mata kita betapa masifnya aktivitas ekonomi di kawasan hutan yang mesti dibayar mahal. Bahkan, teramat mahal karena ratusan nyawa harus melayang akibat kawasan hutan yang rusak.
DPR menengarai kerusakan hutan di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat tidak hanya disebabkan oleh aktivitas ilegal, tetapi juga sebagai akibat dari obral pemberian hak pengelolaan lahan (HPL) oleh pemerintah.
Banyak hutan lindung yang kini sudah berubah status menjadi kawasan ekonomi. Atas nama pembangunan ekonomi, pemerintah pusat dan daerah dengan mudah menerbitkan izin HPL kepada perusahaan untuk mengeksploitasi isi hutan.
Ya, HPL diberikan dengan teramat mudah bak barang obralan. Bahkan ada dugaan asal cuan sudah terlihat di depan mata, aturan pun diterabas karena dinilai menjadi penghalang kemajuan ekonomi.
Negeri ini sejatinya sudah punya regulasi yang amat mumpuni untuk mengatur pemanfaatan hutan. UU No 41/1999 tentang Kehutanan telah mengklasifikasi hutan berdasarkan fungsinya. Ada hutan produksi untuk dimanfaatkan hasil hutannya, ada hutan lindung untuk sistem penyangga kehidupan, dan ada pula hutan konservasi untuk menjaga keanekaragaman hayati.
Sudah lebih dari seperempat abad usia aturan itu untuk menjaga hutan lindung. Sesuai dengan namanya, hutan lindung ialah kawasan hutan yang wajib dilindungi demi keberlanjutan kehidupan. Fungsinya sangat vital untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan keberlanjutan kehidupan manusia, seperti menyediakan air bersih, mencegah bencana alam (banjir, erosi, tanah longsor), dan menjaga keanekaragaman hayati.
Perlindungan itu penting bukan hanya untuk kehidupan hari ini, melainkan juga bagi generasi mendatang. Sulit dibayangkan akibatnya jika kawasan berstatus hutan lindung justru tak dilindungi. Banjir, erosi, dan tanah longsor menjadi akibat terdekat yang pertama kali akan terjadi. Tiga hal itu yang mewujud menjadi fakta baru-baru ini di Sumatra.
Jika pembabatan hutan lindung dibiarkan dalam jangka panjang, bukan hanya banjir dan tanah longsor yang kian menjadi, melainkan juga hilangnya keberlanjutan kehidupan manusia. Apa yang disampaikan wakil rakyat itu bermula dari beralihnya kawasan hutan lindung menjadi hutan produksi. Itu tak lepas dari banyaknya aturan baru yang kini mempermudah mengeksploitasi isi hutan.
Namun, dengan banyaknya kayu batangan yang hanyut bersama luapan air dan banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat sulit dibantah bahwa di kawasan hulu sudah terjadi kerusakan hutan sangat parah. Itulah akibat dari cara pandang yang semata meletakkan keuntungan ekonomi di atas segalanya. Keseimbangan ekosistem dan keberlanjutan hidup dipandang sebagai prinsip usang.
Karena itu, segera setop pemberian izin HPL untuk mengeksploitasi isi hutan. Aturan harus dikembalikan ke substansi seutuhnya, bukan dibelok-belokkan untuk mengakomodasi urusan hasrat atau syahwat ekonomi.
Hutan lindung harus dikembalikan ke fungsinya semula yang salah satunya sebagai penyangga keberlanjutan hidup manusia. Memang saat ini sudah teramat rusak, tapi belum terlambat untuk memperbaikinya.
Bencana di Sumatra menjadi pelajaran yang sangat mahal dan berharga sekaligus mengingatkan kita semua untuk kembali insaf bahwa keberadaan hutan merupakan sebuah kesatuan utuh dari kehidupan manusia.
Apa pun alasannya, apalagi hanya karena urusan perut, keberadaan hutan tak boleh dinomorduakan. Itu disebabkan, realitasnya, kita yang butuh hutan, bukan sebaliknya karena hutan tak pernah membutuhkan kita.
GUGURNYA tiga prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam misi perdamaian di Libanon menjadi pukulan keras bagi Indonesia.
RUANG publik kembali disuguhi dinamika penegakan hukum yang menimbulkan kegelisahan.
SABTU (28/3) lalu, genap satu bulan prahara di Timur Tengah berlangsung.
MULAI hari ini, 28 Maret 2026, jagat digital Indonesia memasuki babak baru yang krusial.
SETIAP musim mudik Lebaran tiba, pemerintah seolah kembali memasuki arena uji publik yang tak pernah benar-benar usai
DI tengah langkah penghematan energi sebagai antisipasi terhadap gejolak global, pemerintah memastikan untuk tidak memberlakukan pembelajaran daring bagi para siswa.
BERHEMAT adalah hal mutlak dalam menghadapi krisis global saat ini. Berhemat, khususnya BBM, merupakan adaptasi pertama dan minimal ketika Selat Hormuz belum juga aman.
PEMBERANTASAN korupsi di Indonesia kembali diuji. Di tengah persepsi publik bahwa praktik korupsi kian mengakar, langkah penegakan hukum justru dinilai melemah.
Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, atau yang akrab disapa Gus Yaqut, dilaporkan mendapatkan status tahanan rumah.
RAMADAN telah berlalu dan kini seluruh umat Islam di dunia merayakan Hari Raya Idul Fitri.
PENGUNGKAPAN identitas terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Andrie Yunus menjadi angin segar.
Ramadan dengan puasanya dan Nyepi dengan catur brata penyepiannya adalah dua jalan berbeda yang sama-sama menuju pada penguatan sikap pengendalian diri.
DALAM minggu ini, ada dua momentum besar ujian kematangan toleransi bangsa kita, yaitu Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri 1447 Hijriah.
TAK salah kiranya jika Transparency International menempatkan Indonesia di level rendah dalam pemberantasan korupsi sepanjang 2025.
Peristiwa itu merupakan ancaman serius terhadap demokrasi dan perlindungan hak asasi manusia (HAM) di Indone
GELOMBANG mudik Lebaran selalu menjadi ujian besar bagi kapasitas negara dalam mengelola mobilitas manusia berskala besar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved