Headline
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
Kumpulan Berita DPR RI
GUGURNYA tiga prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam misi perdamaian di Libanon menjadi pukulan keras bagi Indonesia. Insiden di wilayah operasi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) itu bukan sekadar tragedi kemanusiaan, melainkan juga alarm nyaring bagi pemerintah untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh atas keterlibatan pasukan dalam konflik internasional.
Serangan yang diduga dilakukan Israel Defense Forces (IDF) terhadap pasukan penjaga perdamaian jelas mencederai prinsip dasar hukum internasional. Pasukan perdamaian hadir bukan untuk bertempur, melainkan menjaga stabilitas dan melindungi warga sipil. Ketika mereka justru menjadi target, dunia harus mengakui adanya kegagalan serius dalam sistem perlindungan internasional.
Pemerintah Indonesia layak diapresiasi karena bergerak cepat. Langkah membawa persoalan itu ke Dewan Keamanan PBB serta mendesak investigasi merupakan respons yang tepat. Komunikasi langsung dengan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres juga mencerminkan keseriusan diplomasi Indonesia.
Namun, kecaman dan desakan saja tidak cukup. Dunia internasional telah terlalu sering menyaksikan pelanggaran serupa tanpa konsekuensi yang tegas. Indonesia harus melangkah lebih jauh. Investigasi harus independen, transparan, dan berujung pada pertanggungjawaban nyata.
Tanpa itu, insiden ini hanya akan menambah panjang daftar impunitas dalam konflik global yang tak kunjung terselesaikan. Di sisi lain, tragedi ini membuka ruang refleksi yang tak kalah penting, yaitu apakah pengiriman pasukan TNI ke wilayah konflik masih relevan dalam kondisi saat ini?
Selama ini, partisipasi Indonesia dalam misi perdamaian menjadi kebanggaan nasional sekaligus wujud komitmen terhadap amanat konstitusi. Namun, ketika risiko meningkat dan perlindungan tidak memadai, evaluasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.
Data per Januari 2026 menunjukkan bahwa dari sekitar 5.000 personel UNIFIL, sebanyak 756 merupakan prajurit TNI. Jumlah itu tidak kecil. Dalam lanskap konflik yang semakin kompleks dan sulit diprediksi, keberadaan pasukan dalam jumlah besar justru berpotensi meningkatkan kerentanan.
Karena itu, evaluasi terhadap jumlah personel, pola rotasi, hingga mekanisme penugasan menjadi sangat mendesak.
Lebih jauh, pemerintah perlu meninjau ulang aspek keamanan operasional. Apakah sistem perlindungan yang ada sudah memadai? Apakah koordinasi dengan otoritas internasional berjalan efektif? Yang paling mendasar, apakah situasi di lapangan masih memungkinkan untuk menjamin keselamatan prajurit?
Jika jawabannya tidak, tidak ada alasan untuk memaksakan keberlanjutan misi. Penarikan sementara atau pengurangan pasukan harus menjadi opsi realistis. Keselamatan prajurit ialah prioritas utama yang tidak bisa ditawar.
Momentum itu semestinya menjadi titik balik dalam kebijakan luar negeri Indonesia terkait dengan partisipasi militer di misi internasional. Evaluasi terhadap berbagai forum dan keterlibatan di wilayah konflik lain perlu dilakukan secara objektif dan terukur. Indonesia harus memastikan bahwa setiap keikutsertaan benar-benar memberikan kontribusi nyata bagi perdamaian dunia, bukan sekadar simbol kehadiran.
Pada akhirnya, gugurnya prajurit TNI bukan hanya kehilangan bagi keluarga dan bangsa, melainkan juga pengingat bahwa misi perdamaian tidak pernah bebas risiko. Justru karena itulah, negara dituntut hadir dengan kebijakan yang matang, perlindungan maksimal, serta keberanian untuk mengevaluasi diri.
RUANG publik kembali disuguhi dinamika penegakan hukum yang menimbulkan kegelisahan.
SABTU (28/3) lalu, genap satu bulan prahara di Timur Tengah berlangsung.
MULAI hari ini, 28 Maret 2026, jagat digital Indonesia memasuki babak baru yang krusial.
SETIAP musim mudik Lebaran tiba, pemerintah seolah kembali memasuki arena uji publik yang tak pernah benar-benar usai
DI tengah langkah penghematan energi sebagai antisipasi terhadap gejolak global, pemerintah memastikan untuk tidak memberlakukan pembelajaran daring bagi para siswa.
BERHEMAT adalah hal mutlak dalam menghadapi krisis global saat ini. Berhemat, khususnya BBM, merupakan adaptasi pertama dan minimal ketika Selat Hormuz belum juga aman.
PEMBERANTASAN korupsi di Indonesia kembali diuji. Di tengah persepsi publik bahwa praktik korupsi kian mengakar, langkah penegakan hukum justru dinilai melemah.
Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, atau yang akrab disapa Gus Yaqut, dilaporkan mendapatkan status tahanan rumah.
RAMADAN telah berlalu dan kini seluruh umat Islam di dunia merayakan Hari Raya Idul Fitri.
PENGUNGKAPAN identitas terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Andrie Yunus menjadi angin segar.
Ramadan dengan puasanya dan Nyepi dengan catur brata penyepiannya adalah dua jalan berbeda yang sama-sama menuju pada penguatan sikap pengendalian diri.
DALAM minggu ini, ada dua momentum besar ujian kematangan toleransi bangsa kita, yaitu Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri 1447 Hijriah.
TAK salah kiranya jika Transparency International menempatkan Indonesia di level rendah dalam pemberantasan korupsi sepanjang 2025.
Peristiwa itu merupakan ancaman serius terhadap demokrasi dan perlindungan hak asasi manusia (HAM) di Indone
GELOMBANG mudik Lebaran selalu menjadi ujian besar bagi kapasitas negara dalam mengelola mobilitas manusia berskala besar.
BAGAIMANAPUN dampak situasi global saat ini, pemerintah harus bisa memastikan mudik Lebaran berlangsung aman dan lancar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved