Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Petaka Harga Pangan Nihil Jawaban

06/3/2024 05:00

SAAT tidak memiliki jawaban, minimal pemimpin harus mau untuk mendengarkan. Sebab, mendengarkan adalah bentuk terendah dari melayani. Maka, jika ia tidak mau lagi melayani, yang ada bukanlah pemimpin, melainkan sekadar penguasa.

Gelagat itulah yang justru semakin terlihat dari gaya kepemimpinan Presiden Joko Widodo dalam persoalan melonjaknya harga bahan pokok. Hampir sebulan dikejar pertanyaan soal harga yang terus melambung, Jokowi kini bahkan sudah emoh menjawab.

Dua hari lalu di Halim Perdanakusuma, Jakarta, kepada para wartawan yang bertanya, Presiden menjawab untuk tidak lagi menanyakan soal harga pangan kepada dirinya. Ia menyuruh para awak media untuk mengecek ke pasar.

Presiden tentu bukan orang yang naif. Begitu pula kita sebagai rakyat. Pertanyaan soal harga pangan sejatinya bukan sekadar tentang angka rupiah, melainkan bentuk protes, mengapa negara seolah tak mampu berbuat apa-apa ketika rakyatnya dihantam sangat keras oleh naiknya harga pangan?

Namun, Presiden dengan sadar memilih mengerdilkan pertanyaan itu, dan secara tidak langsung mengerdilkan dirinya sendiri. Ia menempatkan diri seperti pedagang yang lingkup pengetahuannya hanya harga secara angka. Presiden tutup kuping akan pesan ‘protes rakyat’ yang dibawa para wartawan.

Ketidakcuhan Presiden sesungguhnya hanya membuat situasi kekacauan harga makin miris. Sikap Presiden itu sekaligus menyiratkan tidak ada solusi yang ia miliki. Ketiadaan solusi tersebut terpampang melalui berbagai fakta yang kerap dijabarkan para pengamat dan media, bahwa lonjakan harga ialah buah dari kegagalan mitigasi pangan.

Pada persoalan beras, misalnya, cadangan beras yang sudah minim sejak 5 Desember 2022 membuat pemerintah memutuskan melakukan impor. Akan tetapi, jorjoran impor yang dilakukan tahun lalu, total 2,53 juta ton sampai November, malah tidak dikelola dengan cermat. Malah ditengarai cadangan itu dipakai untuk keperluan bansos yang lebih berbau politis ketimbang sesuai kebutuhan.

Hasilnya kini, wajar jika kita limbung menghadapi El Nino yang berkepanjangan. Panen raya terus mundur hingga diperkirakan, paling cepat, akhir Maret. Realisasi sisa impor pun seret karena negara-negara lumbung beras juga memilih menutup keran demi mengamankan stok mereka masing-masing.

Dalam situasi itu, harga beras yang melambung menjadi keniscayaan. Kenaikan harga akan terus terjadi selama stok tidak benar-benar aman. Kalaupun seperti klaim pemerintah bahwa harga beras mulai turun dalam beberapa hari terakhir, itu hanya bisa terjadi situasional dan cuma di beberapa tempat tertentu, seperti pasar induk beras. Sementara itu, di rak-rak toko ritel atau di pedagang eceran beras, harga tetap awet tinggi.

Kini, semestinya pemerintah memfokuskan pada upaya diplomasi untuk pelonggaran atau penghapusan restriksi impor dari negara-negara sumber beras. Pemerintah harus menyadari, jika memasuki bulan Ramadan harga beras belum juga melandai, akan membawa dampak yang berat, baik pada efek domino harga pangan lainnya maupun efek psikologis masyarakat.

Permasalahan yang berlarut akan membuat masalah kian pelik jika dibiarkan hingga menjelang Idul Fitri. Secara tradisi, Ramadan dan Idul Fitri sudah membuat efek kenaikan harga pangan tersendiri. Lantas bagaimana kalau harga awal sebelum dua perayaan besar itu saja sudah tinggi?

Jawaban akan masalah-masalah itulah yang seharusnya dapat diberikan dan disampaikan Presiden Jokowi. Bukan malah ngeles dan cenderung berlindung di balik alasan kondisi alam yang buruk. Ketidakacuhan Presiden bukan saja meminggirkan nestapa rakyat, tapi juga menunjukkan kegamangannya dalam menghadapi petaka harga yang mengancam di pertengahan bulan depan.



Berita Lainnya
  • Mobil Mewah bukan Penentu Muruah

    03/3/2026 05:00

    SETELAH menjadi polemik, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud akhirnya mengembalikan mobil dinas mewah seharga Rp8,5 miliar ke kas daerah.

  • Saatnya Semua Menahan Diri

    02/3/2026 05:00

    SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

  • Menambal Defisit tanpa Bebani Rakyat

    28/2/2026 05:00

    PROGRAM Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah oase bagi jutaan rakyat untuk mengakses layanan kesehatan.

  • Menata Ulang Efektivitas Demokrasi

    27/2/2026 05:00

    PEMBAHASAN revisi Undang-Undang Pemilu kembali menghadirkan satu isu strategis, yakni ambang batas parlemen.

  • Krisis Ruang Digital Anak

    26/2/2026 05:00

    RUANG digital yang semula digadang-gadang sebagai wahana belajar dan berkreasi bagi generasi muda kini berubah menjadi medan yang semakin berbahaya bagi anak-anak.

  • Ungkap Otak Sindikat Narkoba

    25/2/2026 05:00

    FANDI Ramadhan adalah potret dari petaka yang disebabkan oleh narkoba.

  • Menagih Imbal Hasil Investasi Pendidikan

    24/2/2026 05:00

    Para awardee ini dibiayai miliaran rupiah untuk mendapatkan kemewahan bersekolah ke luar negeri agar mereka pulang sebagai agen perubahan yang ikut membereskan ketidakidealan tersebut.

  • Sigap Membaca Perubahan Amerika

    23/2/2026 05:00

    DUNIA sedang menyaksikan titik balik luar biasa dalam lanskap perdagangan internasional.

  • Hasil Gemilang Negosiasi Dagang

    21/2/2026 05:00

    Pemerintah perlu memastikan harmonisasi regulasi, mempercepat layanan perizinan, serta memperkuat lembaga pengawas mutu agar tidak terjadi kasus penolakan produk di pelabuhan tujuan.

  • Memitigasi Penutupan Selat Hormuz

    20/2/2026 05:00

    IRAN menutup sementara Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan negara adidaya Amerika Serikat.

  • Ramadan Mempersatukan

    19/2/2026 05:00

    SEPERTI pada 2022 dan 2024, juga pada banyak tahun sebelumnya, perbedaan jatuhnya 1 Ramadan kembali terjadi di Indonesia dan sejumlah negara lain.

  • Kendalikan Harga Segera

    18/2/2026 05:00

    KENAIKAN harga bahan pokok menjelang Ramadan kembali terulang. Polanya nyaris seragam dari tahun ke tahun.

  • Imlek dan Ramadan Merajut Tenun Kebangsaan

    17/2/2026 05:00

    SUDAH lebih dari dumedia a dekade, Hari Raya Imlek berdiri tegak sebagai simbol kematangan Republik dalam merawat keberagaman.

  • Meneror Penggarong Uang Negara

    16/2/2026 05:00

    BADAN Pusat Statistik (BPS), awal Februari lalu, baru saja merilis angka pertumbuhan ekonomi yang dapat dicapai Indonesia sepanjang 2025, yakni 5,11% secara tahunan.

  • Percepat Rekonstruksi, Pulihkan Harapan

    14/2/2026 05:00

    DI antara puing-puing yang perlahan berganti struktur permanen, tersimpan doa ribuan warga terdampak bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

  • Swasembada Energi semata demi Rakyat

    13/2/2026 05:00

    SWASEMBADA pangan dan energi, itu dua janji Prabowo Subianto saat membacakan pidato pelantikannya sebagai presiden pada 2024 lalu.