Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Hargai Politik Kesukarelaan

10/2/2024 05:00
Hargai Politik Kesukarelaan
https://youtu.be/JYgCbN4CVM0(Ilustrasi/MI)

PEMILU di Indonesia kerap digambarkan sebagai pesta demokrasi. Sehingga, pemilu bukan sekadar ajang yang dimonopoli elite untuk mengganti atau mempertahankan kekuasaan. 

Pemilu menjadi ajang bagi publik untuk bergembira meski berbeda pilihan. Karena siapa pun yang terpilh atau tergusur, berada di bawah satu Merah Putih. Pemilih bisa menggunakan hak pilih tanpa harus diiming-imingi uang, makan siang gratis, ataupun ketakutan.

Gambaran kegembiraan seperti itulah yang hendak dirayakan salah satu pasangan calon presiden dan cawapres Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar dalam penutup musim kampanye di Jakarta International Studium, pagi ini. Jutaan orang secara sukarela berpartisipasi dalam kampanye akbar ini.

Mereka ada yang berjalan kaki, bersepeda, konfoi sepeda motor, memakai transpirtasi umum, menyewa kendaraan, dan seterusnya. Bahkan banyak yang rela merogoh kocek pribadi demi mengongkosi partisipasi. Bagi mereka, hambatan, pembatalan, bahkan intimidasi mesti diterobos demi menyelamatkan demokrasi dan berpartisipasi untuk perubahan.

Pemilu 2024 tinggal menghitung hari. Suasana pembelahan antarpendukung tidak terlalu terlihat. Sungguh, satu hal yang amat positif. Akan tetapi, pemilu kali ini tidak terlepas dari noktah hitam. 

Kalangan aktivis dan tokoh bangsa bahkan pernah mencap pemilu kali ini terburuk sepanjang sejarah demokrasi di Indonesia. Alasannya, dua dari empat tahapan besar pemilu yang sudah berjalan telah terbukti bermasalah. Kedua tahapan itu ialah pendaftaran pasangan calon dan kampanye. Adapun dua tahapan lain ialah pemungutan suara dan penghitungan. Repotnya, persoalan serius dalam tahapan pemilu justru melibatkan penyelenggara pemilu. 

Di kasus yang terkini ialah saat Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) menyatakan komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) melanggar kode etik dalam pendaftaran putra Presiden Jokowi, Gibran Rakabuming Raka, sebagai calon wakil presiden atau cawapres. 
Putusan DKPP itu seakan segendang sepenarian dengan Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi (MKMK) yang sampai memberhentikan ipar Presiden Jokowi, Anwar Usman, dari posisi Ketua MK karena telah melakukan pelanggaran berat kode etik yang mengabulkan permohonan uji materi terkait syarat batas bawah usia capres atau cawapres. 

Akan tetapi, keputusan pelanggaran etik seakan tidak laku lagi di kalangan penyelenggara negara. Malahan dianggap sebagai angin lalu sehingga tidak perlu merasa malu karena melanggar etika. Gibran pun dipastikan tetap sah secara  hukum untuk masuk dalam kontestasi pilpres. 

Akademisi dan guru besar berbagai kampus di Tanah Air juga mulai gerah. Petisi demi petisi bergulir dari kampus. Mereka gelisah tentang kondisi di republik ini yang mengancam kehidupan demokrasi. 

Hanya saja, seruan maupun petisi dari kalangan kampus mengalami nasib serupa dengan putusan pelanggaran etika. Bukannya respons, kalangan kampus malah mendapat tudingan. Pesan moral dari kampus malah dianggap partisan atau sebagai buah dari agitasi saja. 

Mendapat sikap pemerintah seperti itu, wajar saja kalau kampus apalagi guru besar marah terhadap pemerintah. Karena kampus adalah tempat olah dan adu pikiran yang berbeda-beda. Termasuk pemikiran yang berbeda dengan pandangan rezim berkuasa. Pikiran atau pesan moral yang tidak sesuai keinginan pemerintah, malah dengan enteng dicap sebagai partisan. 

Di tengah pengabaian prinsip moral dan etika oleh penyelenggara negara, suara dan sikap anak muda dan mereka yang sukarela berpartisipasi dalam proses politik justru menjadi oase. Mereka yang ngeri melihat wajah politik, melawan dengan politik kesukarelaan. 

Mereka bukan sekadar relawan yang siap dipanggil untuk mengisi panggung musik di masa kampanye. Mereka bahkan menawarkan diri untuk melakukan perubahan. Ada yang sukarela patungan uang untuk membuat dan memasang videotron.

Meski video karya mereka di beberapa kota di-take down, semangat kesukarelaan bukannya terhenti. Gerakan mereka justru kian meluas ke daerah lain. Semua bergerak mengandalkan donasi dan saweran dari dompet mereka sendiri. 

Semangat kesukarelaan seperti itu haruslah diapresiasi. Salah satu bentuk terpenting dari apresiasi ialah para penyelenggara pemilu bekerja keras mewujudkan pemilu yang bersih dan jujur serta adil. Mereka seyogianya menjadi tulang punggung pelaksanaan pemilu yang jujur dan adil. 

Hargailah semangat mereka yang sukarela untuk terlibat dalam pemilu dengan menghentikan aksi mengabaikan etika demi kepentingan sesaat nan sesat. Jangan sampai kebebalan penyelenggara negara terhadap etika akhirnya menimbulkan warga yang apatis. 



Berita Lainnya
  • Mobil Mewah bukan Penentu Muruah

    03/3/2026 05:00

    SETELAH menjadi polemik, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud akhirnya mengembalikan mobil dinas mewah seharga Rp8,5 miliar ke kas daerah.

  • Saatnya Semua Menahan Diri

    02/3/2026 05:00

    SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

  • Menambal Defisit tanpa Bebani Rakyat

    28/2/2026 05:00

    PROGRAM Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah oase bagi jutaan rakyat untuk mengakses layanan kesehatan.

  • Menata Ulang Efektivitas Demokrasi

    27/2/2026 05:00

    PEMBAHASAN revisi Undang-Undang Pemilu kembali menghadirkan satu isu strategis, yakni ambang batas parlemen.

  • Krisis Ruang Digital Anak

    26/2/2026 05:00

    RUANG digital yang semula digadang-gadang sebagai wahana belajar dan berkreasi bagi generasi muda kini berubah menjadi medan yang semakin berbahaya bagi anak-anak.

  • Ungkap Otak Sindikat Narkoba

    25/2/2026 05:00

    FANDI Ramadhan adalah potret dari petaka yang disebabkan oleh narkoba.

  • Menagih Imbal Hasil Investasi Pendidikan

    24/2/2026 05:00

    Para awardee ini dibiayai miliaran rupiah untuk mendapatkan kemewahan bersekolah ke luar negeri agar mereka pulang sebagai agen perubahan yang ikut membereskan ketidakidealan tersebut.

  • Sigap Membaca Perubahan Amerika

    23/2/2026 05:00

    DUNIA sedang menyaksikan titik balik luar biasa dalam lanskap perdagangan internasional.

  • Hasil Gemilang Negosiasi Dagang

    21/2/2026 05:00

    Pemerintah perlu memastikan harmonisasi regulasi, mempercepat layanan perizinan, serta memperkuat lembaga pengawas mutu agar tidak terjadi kasus penolakan produk di pelabuhan tujuan.

  • Memitigasi Penutupan Selat Hormuz

    20/2/2026 05:00

    IRAN menutup sementara Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan negara adidaya Amerika Serikat.

  • Ramadan Mempersatukan

    19/2/2026 05:00

    SEPERTI pada 2022 dan 2024, juga pada banyak tahun sebelumnya, perbedaan jatuhnya 1 Ramadan kembali terjadi di Indonesia dan sejumlah negara lain.

  • Kendalikan Harga Segera

    18/2/2026 05:00

    KENAIKAN harga bahan pokok menjelang Ramadan kembali terulang. Polanya nyaris seragam dari tahun ke tahun.

  • Imlek dan Ramadan Merajut Tenun Kebangsaan

    17/2/2026 05:00

    SUDAH lebih dari dumedia a dekade, Hari Raya Imlek berdiri tegak sebagai simbol kematangan Republik dalam merawat keberagaman.

  • Meneror Penggarong Uang Negara

    16/2/2026 05:00

    BADAN Pusat Statistik (BPS), awal Februari lalu, baru saja merilis angka pertumbuhan ekonomi yang dapat dicapai Indonesia sepanjang 2025, yakni 5,11% secara tahunan.

  • Percepat Rekonstruksi, Pulihkan Harapan

    14/2/2026 05:00

    DI antara puing-puing yang perlahan berganti struktur permanen, tersimpan doa ribuan warga terdampak bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

  • Swasembada Energi semata demi Rakyat

    13/2/2026 05:00

    SWASEMBADA pangan dan energi, itu dua janji Prabowo Subianto saat membacakan pidato pelantikannya sebagai presiden pada 2024 lalu.