Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
AKSI tak patut yang dipertontonkan anggota TNI masih saja terjadi. Mereka dengan mudahnya pamer otot untuk melakukan kekerasan terhadap anggota Polri. Langkah tegas pun mutlak diambil agar aksi-aksi tercela itu bisa disudahi.
Anggota TNI dan Polri seharusnya menjadi mitra sejati dalam melayani, melindungi, dan mengayomi rakyat negeri ini. Sebagai mitra, mereka semestinya menjadi teladan kerekatan.
Namun, tidak semua anggota TNI punya semangat ideal seperti itu. Ada yang justru bertabiat sebaliknya dengan menjadikan anggota Polri sebagai lawan. Persoalan yang sangat sepele sudah cukup bagi mereka untuk memamerkan kedunguan di tempat umum.
Itulah yang terjadi di Kota Ambon, Maluku, 25 November silam. Hanya karena persoalan tilang ketika motornya dipinjam oleh saudaranya, personel Kodam XVI Patimura berkelahi dan menghajar dua anggota Polantas. Peristiwa nan memalukan ini viral di media sosial.
Kelakuan lebih memalukan lagi ditunjukkan oleh tiga prajurit Batalyon Raider 631/Antang di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, 4 Desember lalu. Mereka tanpa malu menggunakan kerasnya kepalan tangan untuk memukul wajah lembut anggota polisi wanita yang hendak membubarkan keributan.
Seperti biasa, baik pejabat TNI maupun Polri di wilayah tempat kejadian menyatakan kejadian-kejadian itu hanyalah kesalahpahaman. Seperti yang sudah-sudah pula, mereka menegaskan bahwa permasalahan sudah diselesaikan dan kedua pihak telah saling memaafkan.
Namun, beda dengan insiden-insiden yang lalu-lalu, kali ini damai saja tidak cukup. Tak tanggung-tanggung, Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa langsung menginstruksikan agar peristiwa itu diproses hingga tuntas.
Bagi Jenderal Andika, saling memaafkan satu soal, penindakan soal yang lain. Berdamai boleh-boleh saja, tetapi anggota yang bersalah tetap harus mempertanggungjawabkan kesalahannya.
Panglima TNI betul. Kita memang tak boleh menoleransi sedikit pun anggota TNI yang sumbu pendek, yang emosional dan gampang pamer otot. Prajurit beda dengan orang kebanyakan. Mereka dididik untuk disiplin, loyal pada intistusi dan segala peraturannya, serta patuh pada hukum.
Mendewakan kekerasan bukanlah jati diri anggota TNI, termasuk jika kekerasan itu ditujukan pada personel Polri. Akan sangat berisiko seandainya prajurit dan anggota Polri mudah marah lalu mengandalkan fisik untuk menyelesaikan masalah.
Menindak tegas anggota yang mengedepankan kekerasan meski sudah ada perdamaian perlu dilakukan untuk menghadirkan efek jera. Itulah yang kurang dalam menyikapi insiden-insiden sebelumnya sehingga kasus-kasus serupa terus terulang.
Di masa lalu, pimpinan TNI dan Polri lebih suka mengubur persoalan tanpa menyelesaikannya secara tuntas. Padahal, cara seperti itu ibarat menyimpan api dalam sekam. Kekerasan demi kekerasan setiap saat bisa mencuat, bahkan yang awalnya cuma urusan pribadi dapat meledak menjadi gesekan antarkesatuan.
Itulah yang kerap terjadi selama ini. Masih lekat dalam ingatan ketika sekitar 100 anggota TNI menyerang Polsek Ciracas, Jakarta Timur, Mei tahun lalu. Bahkan, belum lama ini meletup bentrok antara Brimob dan Kopassus di Papua hanya gara-gara persoalan jualan rokok.
Padamkan api selagi masih kecil, jangan tunggu ia membesar. Menindak tegas setiap anggota TNI dan Polri yang suka mengandalkan kekerasan ialah keniscayaan agar kekerasan seperti itu tak terus mengalami repetisi.
TNI dan Polri ialah institusi yang oleh negara diberi kewenangan menggunakan senjata. Akan sangat berbahaya jika mereka dibiarkan suka-suka pamer kekerasan. Tabiat itu tak hanya menodai institusi, tetapi juga membuat rakyat ngeri.
KABAR cerah datang dari Badan Pusat Statistik (BPS), kemarin.
BALI, kata Presiden Prabowo Subianto, merupakan etalase Indonesia di mata dunia. Etalase itu mestinya bersih, indah, dan sedap dipandang.
SEJAK Olimpiade dihidupkan lagi pada 1859, dunia sudah melihat bahwa menang di pertandingan olahraga antarnegara punya arti amat besar.
KUALITAS demokrasi suatu bangsa selalu berbanding lurus dengan kesehatan partai politik.
DI saat gonjang-ganjing yang terjadi di pasar modal Indonesia belum tertangani secara tuntas, kita kembali disuguhi berita buruk lain di sektor ekonomi.
KEPUTUSAN mengundurkan diri Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman, Jumat (30/1), pantas diapresiasi.
DALAM beberapa hari terakhir, ruang publik kembali diharubirukan oleh dua kasus yang melibatkan aparat penegak hukum.
PEMERINTAHAN di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming Raka mulai menyentuh bola panas, yakni mengutak-atik bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.
BEA cukai dan pajak merupakan tulang punggung penerimaan negara. Dari sanalah roda pemerintahan dan negara mendapatkan bahan bakar untuk bergerak.
Jika dihitung secara sederhana, gaji bupati Rp5,7 juta per bulan selama lima tahun masa jabatan hanya menghasilkan sekitar Rp342 juta.
NEGERI ini agaknya sudah berada pada kondisi normalisasi bencana. Banjir setinggi perut orang dewasa? Normal. Tanah longsor menimbun satu kampung? Normal.
BANJIR lagi-lagi merendam Jakarta dan daerah penyangganya, Bekasi dan Tangerang.
PENCABUTAN izin 28 perusahaan membuka peluang bagi pemulihan lingkungan pascabencana Aceh dan Sumatra.
PELEMAHAN nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dalam beberapa bulan terakhir bukan sekadar fenomena singkat.
Korupsi tersebut adalah gejala dari penyakit sistemik yang belum juga disembuhkan, yakni politik berbiaya tinggi.
PEMBERANTASAN korupsi di Republik ini seolah berjalan di tempat, bahkan cenderung mundur.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved