Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

PPKM yang Sigap

01/12/2021 05:00
PPKM yang Sigap
Ilustrasi MI(MI/Seno)

 

 

KEBIJAKAN pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) bukanlah benteng kita dalam menghadapi pandemi. Sebab memang PPKM harus berfungsi lebih dari benteng yang kaku dan pasif.

PPKM semestinya ibarat mercusuar karena harus mampu memandu kapal jauh ke depan. Terlebih dalam kondisi serbaketidakpastian ini PPKM harus sigap memilih jalur yang akan menghindarkan kita dari kondisi lebih buruk.

Ketepatan level PPKM tentunya akan dicapai jika semakin lengkap pula dasar perhitungan yang digunakan. Sebagai negara, kita telah dibantu WHO yang memberikan asesmen berkala akan kondisi pandemi melalui pengamatan terhadap tracing, testing, dan treatment. 

Namun, pemerintah tentunya wajib terus melengkapi faktor-faktor perhitungan untuk penentuan level PPKM. Pengamatan, bahkan prediksi, akan tren mobilitas semestinya menjadi faktor perhitungan penting sebab penyebaran virus selalu mengikuti penyebaran masyarakat.

Atas faktor-faktor itulah wajar jika level PPKM di sejumlah daerah kembali ke level 2. Tertuang dalam Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 63 Tahun 2021, status PPKM level 2 berlaku di seluruh kabupaten/kota di DKI Jakarta.

Keputusan itu tidak saja mengacu pada hasil asesmen WHO pada 27 November 2021, yang menunjukkan turunnya angka tracing di wilayah anglomerasi tersebut, tetapi juga karena hasil survei mobilitas masyarakat yang menunjukkan indikasi kenaikan.

Dengan level 2 yang akan berlaku hingga 13 Desember itu, kapasitas sekolah, kantor nonesensial, hingga mal kembali ke 50%. Pasar rakyat masih diperbolehkan dengan kapasitas 75%, tetapi hanya dapat beroperasi hingga pukul 18.00. Sementara transportasi masih dapat beroperasi dengan kapasitas 100%.

Dasar-dasar perhitungan, yang berupa asesmen tracing hingga tren mobilitas, memanglah yang memberi kondisi gamblang ketimbang hanya melihat kasus aktif. Seperti yang terjadi beberapa hari ini dimana kasus aktif nasional cenderung turun. Namun, bergembira akan hasil itu ialah salah karena tracing yang turun.

Karena itu, pemerintah sebenarnya punya pekerjaan rumah besar yang belum selesai hanya dengan menaikkan kembali level PPKM. Pemerintah harus segera meningkatkan lagi tracing. Ini tidak hanya harus dilakukan di daerah anglomerasi Jabodetabek, tetapi juga daerah anglomerasi lainnya. Sebab sebagaimana tren mobilitas yang diperkirakan naik menjelang Nataru 2022, bahaya penularan kian tinggi di daerah-daerah anglomerasi.

Lebih jauh lagi, turunnya angka tracing harusnya menjadi alarm kinerja pemerintah di saat dunia dalam ancaman penyebaran varian omicron. Varian of concern (VoC) ke-5 yang muncul selama pandemi covid-19 ini telah diingatkan banyak ahli memiliki daya tular yang lebih tinggi dari varian delta.

Kengerian varian omicron juga terjadi akibat mutasi protein pada 30 spike virus itu. Akibatnya, varian ini dapat menurunkan efektivas vaksin hingga 20%.

Peringatan sejumlah ahli epidemiologi bahwa varian itu kemungkinan telah masuk Indonesia harus dijawab dengan tracing yang bahkan lebih dari angka ideal. Jika kinerja tracing saja masih kendur, tentunya sangat sulit mengharapkan masyarakat bisa percaya pernyataan Kementerian Kesehatan bahwa omicron belum masuk Indonesia. Sudah saatnya pemerintah benar-benar paham jika pembuktian ialah lewat kerja, bukan kata-kata.

Tidak hanya menuntut pemerintah segera memperbaiki tracing dan terus menggenjot vaksinasi, kita juga menuntut pemerintah agar menegakkan aturan karantina sepenuhnya. Kita mengapresiasi kerja cepat pemerintah dengan menutup pintu kedatangan warga asing dari Afrika.

Kita juga memaklumi pemerintah tetap membuka pintu kedatangan dari benua Afrika, khusus bagi WNI. Aturan itu diterapkan dengan kewajiban karantina 14 hari.

Meski begitu, kita sendiri telah menyaksikan mudahnya kewajiban karantina itu diterabas. Oknum petugas culas terdapat di berbagai level. Mereka tidak saja gampang tergiur uang pelancong nakal, tetapi aktif menawarkan jasa.

Kasus-kasus yang lalu harus menjadi pelajaran mahal yang harus dipastikan tidak akan terulang lagi. Semua lini pemerintah dan lembaga terkait harus benar-benar menyadari jika ancaman badai kasus sudah di depan mata. Hal itu hanya bisa dicegah jika semua instrumen penanggulangan pandemi dijalankan sepenuhnya.



Berita Lainnya
  • Stabilitas Harga BBM hanya Awal

    02/4/2026 05:00

    KEPASTIAN kerap menjadi barang langka di tengah gejolak global.

  • Evaluasi Pengiriman Prajurit TNI

    01/4/2026 05:00

    GUGURNYA tiga prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam misi perdamaian di Libanon menjadi pukulan keras bagi Indonesia.

  • Kembalikan Akal Sehat Kasus Amsal Sitepu

    31/3/2026 05:00

    RUANG publik kembali disuguhi dinamika penegakan hukum yang menimbulkan kegelisahan.

  • Saat Tepat untuk Berhemat

    30/3/2026 05:00

    SABTU (28/3) lalu, genap satu bulan prahara di Timur Tengah berlangsung.

  • Mengawal Fajar Baru Perlindungan Anak

    28/3/2026 05:00

    MULAI hari ini, 28 Maret 2026, jagat digital Indonesia memasuki babak baru yang krusial.

  • Memetik Hasil Tata Kelola Mudik

    27/3/2026 05:00

    SETIAP musim mudik Lebaran tiba, pemerintah seolah kembali memasuki arena uji publik yang tak pernah benar-benar usai

  • Langkah Tepat Pembatalan Belajar Daring

    26/3/2026 05:00

    DI tengah langkah penghematan energi sebagai antisipasi terhadap gejolak global, pemerintah memastikan untuk tidak memberlakukan pembelajaran daring bagi para siswa.

  • Penghematan Tepat Sektor

    25/3/2026 05:00

    BERHEMAT adalah hal mutlak dalam menghadapi krisis global saat ini. Berhemat, khususnya BBM, merupakan adaptasi pertama dan minimal ketika Selat Hormuz belum juga aman.

  • Jalan Abu-Abu Status Tahanan Rumah

    24/3/2026 05:00

    PEMBERANTASAN korupsi di Indonesia kembali diuji. Di tengah persepsi publik bahwa praktik korupsi kian mengakar, langkah penegakan hukum justru dinilai melemah.

  • Privilese di KPK

    23/3/2026 05:00

    Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, atau yang akrab disapa Gus Yaqut, dilaporkan mendapatkan status tahanan rumah.

  • Memancarkan Takwa ke Sesama Manusia

    21/3/2026 05:00

    RAMADAN telah berlalu dan kini seluruh umat Islam di dunia merayakan Hari Raya Idul Fitri.

  • Peradilan Koneksitas untuk Penyiram Air Keras

    20/3/2026 05:00

    PENGUNGKAPAN identitas terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Andrie Yunus menjadi angin segar. 

  • Ujian Pengendalian Diri

    19/3/2026 05:10

    Ramadan dengan puasanya dan Nyepi dengan catur brata penyepiannya adalah dua jalan berbeda yang sama-sama menuju pada penguatan sikap pengendalian diri.

  • Kematangan Toleransi

    18/3/2026 05:00

    DALAM minggu ini, ada dua momentum besar ujian kematangan toleransi bangsa kita, yaitu Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri 1447 Hijriah.

  • Korupsi tak Kunjung Henti

    17/3/2026 05:00

    TAK salah kiranya jika Transparency International menempatkan Indonesia di level rendah dalam pemberantasan korupsi sepanjang 2025.

  • Ujian HAM dan Demokrasi untuk Negara

    16/3/2026 05:00

    Peristiwa itu merupakan ancaman serius terhadap demokrasi dan perlindungan hak asasi manusia (HAM) di Indone