Senin 02 November 2020, 05:00 WIB

Bahaya Kebebasan tanpa Batas

Administrator | Editorial
Bahaya Kebebasan tanpa Batas

MI/DUTA
.

DI saat dunia butuh kerja sama seluruh umat manusia untuk menghadapi ekspansi virus korona, bibit-bibit perpecahan dan perseteruan justru mengemuka. Kebebasan tanpa batas dan fanatisme yang kebablasan menghadirkan masalah yang sangat mengkhawatirkan.

Bibit perpecahan dan perseteruan itulah yang belum lama ini ditebar di Prancis. Pemicunya ialah ketika seorang guru di Paris bernama Samuel Paty menunjukkan kartun Nabi Muhammad di majalah Charlie Hebdo kepada murid-muridnya untuk memberikan pemahaman mengenai kebebasan berpendapat sebagai hak dasar warga negara Prancis.

Tak pelak, perbuatan Paty tersebut menyulut kemarahan umat muslim. Dalam ajaran Islam, sosok Nabi Muhammad memang tidak boleh digambarkan menyerupai apa pun dan bagaimana pun bentuknya. Siapa pun yang melakukannya berarti telah melakukan penistaan luar biasa.

Di ladang penyemaian, perpecahan dan perseteru­an yang dipantik Paty tumbuh subur, bahkan lantas merambah ke mana-mana menembus lintas negara. Pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang menekankan pada perlindungan kebebasan berpendapat dan berekspresi di negaranya ibarat bensin disiramkan ke api.

Macron berang karena Paty kemudian dibunuh. Tak hanya Paty, tiga orang yang sedang beribadah di Kota Nice juga menjadi sasaran aksi terorisme. Mereka, orang-orang yang tidak bersalah itu, harus kehilangan nyawa tatkala sedang berdoa di hadapan Sang Pencipta.

Atas dasar keyakinannya, umat Islam marah dengan kelakuan Paty. Mereka pun geram atas kebebalan Charlie Hebdo yang terus saja menampilkan kartun Nabi. Yang jadi soal ialah bagaimana mereka menyalurkan kemarahan dan kegeraman itu.

Ketika kemarahan dilampiaskan dengan membunuh sang guru, di situlah fanatisme kebablasan yang berbicara. Dengan alasan apa pun, menghilangkan nyawa manusia adalah perbuatan tercela. Menista keyakinan orang lain atas nama kebebasan berpendapat jelas berbahaya. Namun, mengedepankan kekerasan, apalagi merampas hak hidup orang lain karena fanatisme agama juga berbahaya.

Pada konteks itulah kita mengapresiasi sikap Presiden Joko Widodo yang mengecam Presiden Macron dan para pelaku kekerasan atas nama agama di Prancis. Sebagai pemimpin, Macron yang semestinya mendinginkan suasana dinilai justru mengobarkan api permusuhan. Pernyataannya dianggap telah menghina Islam, melukai perasa­an umat Islam, dan berpotensi memecah belah persatuan umat beragama di dunia.

Jokowi benar ketika dia menegaskan bahwa kebebasan berekspresi jangan sampai mencederai kehormatan, kesucian, serta kesakralan nilai-nilai dan simbol agama. Kebebasan berpendapat memang merupakan hak fundamental. Tidak hanya bagi warga Prancis, tetapi juga untuk seluruh umat manusia. Tetapi, sangat sulit untuk diterima jika kebebasan itu digunakan secara semena-mena dengan menista agama.

Jokowi benar ketika dia mengutuk aksi kekerasan yang mengakibatkan sejumlah orang di Prancis tewas. Apa pun dalihnya, kekerasan tidak dapat dibenarkan.

Menjawab penistaan dengan kekerasan hanya akan melahirkan penistaan-penistaan lain. Ia akan menjadi lingkaran setan yang entah kapan bisa terselesaikan.

Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar, Indonesia perlu menyikapi kasus di Prancis dengan sangat serius. Lewat pernyataan Jokowi, sikap Indonesia pun sudah jelas dan tegas bahwa warga dunia harus mengedepankan persatuan dan toleransi untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

Kasus di Prancis merupakan pelajaran sangat berharga bagi Republik ini yang juga dibangun di atas keberagaman suku, agama, ras, dan golongan. Jika kebebasan yang dijamin negara digunakan asal-asalan, ia berpotensi menjadi biang mala­petaka.

Baca Juga

MI/Seno

Darurat Keteladanan

👤Administrator 🕔Sabtu 28 November 2020, 05:00 WIB
BANGSA ini tidak hanya mengalami darurat kesehatan akibat pandemi covid-19. Ada persoalan yang lebih besar lagi, yakni darurat...
MI/Duta

Tegas Memutus Penularan Korona

👤Administrator 🕔Jumat 27 November 2020, 05:00 WIB
POLDA Jawa Barat dan Polda Metro Jaya ke marin bersamaan menaikkan status penanganan perkara kerumunan di kawasan Megamendung dan...
MI/Duta

Menuju Pertaruhan Pilkada

👤Administrator 🕔Kamis 26 November 2020, 05:00 WIB
PEMILIHAN kepala dae rah (pilkada) serentak di 270 wilayah (9 provinsi, 224 kabupaten, dan 37 kota) tinggal menghitung...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya