Headline
Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.
Kumpulan Berita DPR RI
DI saat dunia butuh kerja sama seluruh umat manusia untuk menghadapi ekspansi virus korona, bibit-bibit perpecahan dan perseteruan justru mengemuka. Kebebasan tanpa batas dan fanatisme yang kebablasan menghadirkan masalah yang sangat mengkhawatirkan.
Bibit perpecahan dan perseteruan itulah yang belum lama ini ditebar di Prancis. Pemicunya ialah ketika seorang guru di Paris bernama Samuel Paty menunjukkan kartun Nabi Muhammad di majalah Charlie Hebdo kepada murid-muridnya untuk memberikan pemahaman mengenai kebebasan berpendapat sebagai hak dasar warga negara Prancis.
Tak pelak, perbuatan Paty tersebut menyulut kemarahan umat muslim. Dalam ajaran Islam, sosok Nabi Muhammad memang tidak boleh digambarkan menyerupai apa pun dan bagaimana pun bentuknya. Siapa pun yang melakukannya berarti telah melakukan penistaan luar biasa.
Di ladang penyemaian, perpecahan dan perseteruan yang dipantik Paty tumbuh subur, bahkan lantas merambah ke mana-mana menembus lintas negara. Pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang menekankan pada perlindungan kebebasan berpendapat dan berekspresi di negaranya ibarat bensin disiramkan ke api.
Macron berang karena Paty kemudian dibunuh. Tak hanya Paty, tiga orang yang sedang beribadah di Kota Nice juga menjadi sasaran aksi terorisme. Mereka, orang-orang yang tidak bersalah itu, harus kehilangan nyawa tatkala sedang berdoa di hadapan Sang Pencipta.
Atas dasar keyakinannya, umat Islam marah dengan kelakuan Paty. Mereka pun geram atas kebebalan Charlie Hebdo yang terus saja menampilkan kartun Nabi. Yang jadi soal ialah bagaimana mereka menyalurkan kemarahan dan kegeraman itu.
Ketika kemarahan dilampiaskan dengan membunuh sang guru, di situlah fanatisme kebablasan yang berbicara. Dengan alasan apa pun, menghilangkan nyawa manusia adalah perbuatan tercela. Menista keyakinan orang lain atas nama kebebasan berpendapat jelas berbahaya. Namun, mengedepankan kekerasan, apalagi merampas hak hidup orang lain karena fanatisme agama juga berbahaya.
Pada konteks itulah kita mengapresiasi sikap Presiden Joko Widodo yang mengecam Presiden Macron dan para pelaku kekerasan atas nama agama di Prancis. Sebagai pemimpin, Macron yang semestinya mendinginkan suasana dinilai justru mengobarkan api permusuhan. Pernyataannya dianggap telah menghina Islam, melukai perasaan umat Islam, dan berpotensi memecah belah persatuan umat beragama di dunia.
Jokowi benar ketika dia menegaskan bahwa kebebasan berekspresi jangan sampai mencederai kehormatan, kesucian, serta kesakralan nilai-nilai dan simbol agama. Kebebasan berpendapat memang merupakan hak fundamental. Tidak hanya bagi warga Prancis, tetapi juga untuk seluruh umat manusia. Tetapi, sangat sulit untuk diterima jika kebebasan itu digunakan secara semena-mena dengan menista agama.
Jokowi benar ketika dia mengutuk aksi kekerasan yang mengakibatkan sejumlah orang di Prancis tewas. Apa pun dalihnya, kekerasan tidak dapat dibenarkan.
Menjawab penistaan dengan kekerasan hanya akan melahirkan penistaan-penistaan lain. Ia akan menjadi lingkaran setan yang entah kapan bisa terselesaikan.
Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar, Indonesia perlu menyikapi kasus di Prancis dengan sangat serius. Lewat pernyataan Jokowi, sikap Indonesia pun sudah jelas dan tegas bahwa warga dunia harus mengedepankan persatuan dan toleransi untuk membangun kehidupan yang lebih baik.
Kasus di Prancis merupakan pelajaran sangat berharga bagi Republik ini yang juga dibangun di atas keberagaman suku, agama, ras, dan golongan. Jika kebebasan yang dijamin negara digunakan asal-asalan, ia berpotensi menjadi biang malapetaka.
NEGARA akhirnya menunjukkan taringnya di jagat digital yang kian sulit dikendalikan.
TEPAT sepekan lalu, negara superpower Amerika Serikat (AS) bersama sekondannya, Israel, membombardir Iran.
PENANGKAPAN Bupati Pekalongan Fadia Arafiq oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menegaskan satu hal, bahwa praktik korupsi di daerah bukanlah peristiwa tunggal
DUNIA kembali berdiri di tepi pusaran krisis. Ketidakpastian global menjelma menjadi badai yang sulit diprediksi arahnya.
PERANG di Timur Tengah telah berlangsung selama lebih dari tiga hari. Dampaknya mulai dirasakan oleh berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.
SETELAH menjadi polemik, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud akhirnya mengembalikan mobil dinas mewah seharga Rp8,5 miliar ke kas daerah.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
PROGRAM Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah oase bagi jutaan rakyat untuk mengakses layanan kesehatan.
PEMBAHASAN revisi Undang-Undang Pemilu kembali menghadirkan satu isu strategis, yakni ambang batas parlemen.
RUANG digital yang semula digadang-gadang sebagai wahana belajar dan berkreasi bagi generasi muda kini berubah menjadi medan yang semakin berbahaya bagi anak-anak.
FANDI Ramadhan adalah potret dari petaka yang disebabkan oleh narkoba.
Para awardee ini dibiayai miliaran rupiah untuk mendapatkan kemewahan bersekolah ke luar negeri agar mereka pulang sebagai agen perubahan yang ikut membereskan ketidakidealan tersebut.
DUNIA sedang menyaksikan titik balik luar biasa dalam lanskap perdagangan internasional.
Pemerintah perlu memastikan harmonisasi regulasi, mempercepat layanan perizinan, serta memperkuat lembaga pengawas mutu agar tidak terjadi kasus penolakan produk di pelabuhan tujuan.
IRAN menutup sementara Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan negara adidaya Amerika Serikat.
SEPERTI pada 2022 dan 2024, juga pada banyak tahun sebelumnya, perbedaan jatuhnya 1 Ramadan kembali terjadi di Indonesia dan sejumlah negara lain.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved