Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

Demi Pilkada Aman saat Pandemi

10/9/2020 05:00

PADA Selasa (8/9/2020) lalu, jumlah kasus positif virus korona (covid-19) di Indonesia sudah menembus angka 200 ribu. Ini jelas tak bisa dianggap sepele. Angka 200 ribu kasus itu harus dimaknai sebagai tanda bahaya yang sungguh serius dan mesti direspons dengan tindakan yang tak kalah serius.

Poin pertama yang mesti menjadi perhatian ialah soal kecepatan transmisi yang belakangan bukannya semakin turun, malah semakin tinggi. Bayangkan, virus itu hanya butuh waktu 43 hari untuk menggandakan penyebarannya dari 100 ribu (27 Juli) menjadi 200 ribu kasus positif.

Kecepatannya luar biasa, dalam sebulan terakhir penambahan rata-rata kasus positif tiap harinya sekitar 3.000. Pemprov DKI Jakarta pun memutuskan kembali ke titik awal, memberlakukan kembali pembatasan sosial berskala besar.

Kecepatan transmisi itu pula yang boleh kita duga menjadi dasar sejumlah negara menilai bahwa pemerintah Indonesia belum berhasil mengendalikan wabah ini. Imbasnya, dalam dua hari kemarin, dua kabar buruk datang beruntun.

Pertama, sebanyak 59 negara telah menutup pintu masuk bagi warga negara Indonesia (WNI). Kedua, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (Centers for Disease Control and Prevention/CDC) mengeluarkan peringatan level 3 bagi warga AS yang berencana berkunjung ke Indonesia. Keduanya berpegang atas dasar yang sama, yakni risiko covid-19 di Indonesia yang tergolong tinggi.

Meskipun penilaian negara-negara itu mungkin tak sepenuhnya benar, pemerintah semestinya tak menganggap ini main-main. Faktanya, dengan tembus 200 ribu kasus positif saja, penyebaran wabah covid-19 di negeri ini memang sudah berada di level mengkhawatirkan. Ditambah lagi dengan adanya ‘ketakutan’ dari negara-negara lain, artinya memang pemerintah harus menguatkan lagi level fokus dan keseriusan menanggulangi pandemi.

Fokus artinya harus tepat menentukan prioritas, katakanlah antara menyembuhkan sisi kesehatan atau sisi ekonomi. Harus fokus untuk menentukan kapan harus ngegas, kapan harus ngerem. Keduanya tak boleh ditinggalkan, tetapi prioritas harus ditentukan sehingga kebijakan yang keluar juga presisi dan sesuai porsi.

Serius artinya tidak ada lagi main-main. Aturan main harus ditegakkan, terutama aturan tentang penerapan protokol kesehatan yang saat ini praktiknya masih letoi. Keseriusan akan mencegah bolongnya penanganan dan kebijakan di sana-sini yang membuat si virus makin leluasa mengobrakabrik negeri ini.

Keseriusan pemerintah itu salah satunya akan diuji pada saat penyelenggaran pemilihan kepala daerah (pilkada), Desember 2020 mendatang. Terus terang agak miris ketika melihat rangkaian pilkada yang kini sudah mulai tahapan krusial justru diawali dengan banyak pelanggaran protokol kesehatan oleh bakal pasangan calon kepala daerah maupun pendukung mereka. Itu terjadi pada saat pendaftaran peserta pilkada, akhir pekan lalu.

Dengan awalan yang kurang bagus seperti itu, cukup ngeri kita membayangkan bagaimana dengan tahapan-tahapan pilkada berikutnya? Ketakutan sebagian pihak bahwa pilkada akan menjadi klaster baru penularan covid-19 mungkin tidak berlebihan bila pemerintah dan pihak-pihak yang terkait dalam pilkada tidak mampu memastikan atmosfer pilkada tetap dalam koridor protokol kesehatan.

Dengan kekhawatiran itu kiranya ancaman pidana bagi pelanggar protokol kesehatan pilkada patut kita dukung. Ini langkah tepat untuk mencegah hal yang lebih buruk. Pemerintah, KPU, Bawaslu, dan kepolisian harus merumuskan hal itu segera sebelum tahapan pilkada semakin jauh.

Publik menginginkan, meski dalam situasi pandemi, Pilkada 2020 tetap bisa menjadi kontestasi demokrasi yang berkualitas. Pilkada tetap diharapkan mampu menghasilkan pemimpin-pemimpin daerah yang punya kapabilitas, kualitas, dan integritas yang mumpuni. Namun, semua mimpi itu boleh jadi akan seketika lenyap jika pilkada justru menciptakan klaster baru penyebaran korona.



Berita Lainnya
  • Menyiasati Krisis Energi

    04/3/2026 05:00

    PERANG di Timur Tengah telah berlangsung selama lebih dari tiga hari. Dampaknya mulai dirasakan oleh berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.

  • Mobil Mewah bukan Penentu Muruah

    03/3/2026 05:00

    SETELAH menjadi polemik, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud akhirnya mengembalikan mobil dinas mewah seharga Rp8,5 miliar ke kas daerah.

  • Saatnya Semua Menahan Diri

    02/3/2026 05:00

    SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

  • Menambal Defisit tanpa Bebani Rakyat

    28/2/2026 05:00

    PROGRAM Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah oase bagi jutaan rakyat untuk mengakses layanan kesehatan.

  • Menata Ulang Efektivitas Demokrasi

    27/2/2026 05:00

    PEMBAHASAN revisi Undang-Undang Pemilu kembali menghadirkan satu isu strategis, yakni ambang batas parlemen.

  • Krisis Ruang Digital Anak

    26/2/2026 05:00

    RUANG digital yang semula digadang-gadang sebagai wahana belajar dan berkreasi bagi generasi muda kini berubah menjadi medan yang semakin berbahaya bagi anak-anak.

  • Ungkap Otak Sindikat Narkoba

    25/2/2026 05:00

    FANDI Ramadhan adalah potret dari petaka yang disebabkan oleh narkoba.

  • Menagih Imbal Hasil Investasi Pendidikan

    24/2/2026 05:00

    Para awardee ini dibiayai miliaran rupiah untuk mendapatkan kemewahan bersekolah ke luar negeri agar mereka pulang sebagai agen perubahan yang ikut membereskan ketidakidealan tersebut.

  • Sigap Membaca Perubahan Amerika

    23/2/2026 05:00

    DUNIA sedang menyaksikan titik balik luar biasa dalam lanskap perdagangan internasional.

  • Hasil Gemilang Negosiasi Dagang

    21/2/2026 05:00

    Pemerintah perlu memastikan harmonisasi regulasi, mempercepat layanan perizinan, serta memperkuat lembaga pengawas mutu agar tidak terjadi kasus penolakan produk di pelabuhan tujuan.

  • Memitigasi Penutupan Selat Hormuz

    20/2/2026 05:00

    IRAN menutup sementara Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan negara adidaya Amerika Serikat.

  • Ramadan Mempersatukan

    19/2/2026 05:00

    SEPERTI pada 2022 dan 2024, juga pada banyak tahun sebelumnya, perbedaan jatuhnya 1 Ramadan kembali terjadi di Indonesia dan sejumlah negara lain.

  • Kendalikan Harga Segera

    18/2/2026 05:00

    KENAIKAN harga bahan pokok menjelang Ramadan kembali terulang. Polanya nyaris seragam dari tahun ke tahun.

  • Imlek dan Ramadan Merajut Tenun Kebangsaan

    17/2/2026 05:00

    SUDAH lebih dari dumedia a dekade, Hari Raya Imlek berdiri tegak sebagai simbol kematangan Republik dalam merawat keberagaman.

  • Meneror Penggarong Uang Negara

    16/2/2026 05:00

    BADAN Pusat Statistik (BPS), awal Februari lalu, baru saja merilis angka pertumbuhan ekonomi yang dapat dicapai Indonesia sepanjang 2025, yakni 5,11% secara tahunan.

  • Percepat Rekonstruksi, Pulihkan Harapan

    14/2/2026 05:00

    DI antara puing-puing yang perlahan berganti struktur permanen, tersimpan doa ribuan warga terdampak bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.