Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Kebangkitan Nasional Mengenyahkan Korona

21/5/2020 05:00

PEPATAH Prancis mengatakan 'histoire se repete atau sejarah mengulang dirinya sendiri. Sejarah lebih dari 100 tahun lalu pun seperti terepetisi ketika dulu kita hidup di bawah penjajahan Belanda dan kini berada dalam cengkeraman kolonialisme virus korona atau covid-19.

Dua fakta sejarah itu memang tidak sama persis, tetapi sama-sama menghadirkan kesulitan luar biasa bagi bangsa. Dulu Belanda melakukan penindasan secara kasatmata, kini pandemi virus korona menebarkan penderitaan secara diam-diam.

Namun, sejarah juga menunjukkan penjajahan selalu bisa dikalahkan. Sama seperti ketika mengalahkan Belanda dulu, kita juga pasti bisa memecundangi korona. Itulah semangat dan keyakinan yang harus kita kedepankan, sama seperti semangat dan keyakinan anak-anak bangsa tatkala membentuk Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908 silam.

Boedi Oetomo digagas Wahidin Soedirohoesodo serta didirikan Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, dan Soeraji. Tujuan mereka amat mulia, yakni ingin mendobrak ketidakadilan yang dipelihara penjajah Belanda sekaligus menumbuhkan rasa kesadaran nasional sebagai orang Indonesia.

Itulah cikal bakal kebangkitan bangsa untuk semakin gigih melepaskan diri dari penjajahan. Kita pun kemudian mengenangnya sebagai Hari Kebangkitan Nasional yang selalu kita peringati saban 20 Mei.

Semangat Boedi Oetomo tak pernah lekang oleh zaman, bahkan dalam situasi sekarang amatlah relevan. Boedi Oetomo mengajarkan bahwa berbagai bentuk keterjajahan hanya bisa diatasi hingga datang kemerdekaan bila sebuah bangsa merajut persatuan dan kesatuan serta menanggalkan keterpecahbelahan. Penjajahan pasti bisa dienyahkan jika sebuah bangsa mengedepankan semangat nasionalisme secara kolektif.

Semangat-semangat itulah yang kita perlukan saat ini. Harus diakui, persatuan dan kesatuan masih menjadi persoalan tatkala kita menghadapi perang besar melawan covid-19. Sulit dibantah, kesadaran kolektif untuk bersama-sama menghadapi musuh berbahaya itu belum paripurna.

Ketika korona terus menyerang dari segala penjuru tanpa mengenal waktu, belum semua anak bangsa punya kepedulian untuk melawannya. Inkonsistensi dan ketidaktegasan terkadang masih dipertontonkan pemerintah sebagai pemimpin perang sehingga memantik kebingungan dan ketidakpercayaan rakyat. Sikap pengabaian pun terus diperlihatkan sebagian masyarakat dengan melanggar beragam ketentuan untuk memutus rantai penularan covid-19.

Betul bahwa sudah banyak upaya yang kita lakukan dalam beberapa bulan terakhir. Hasilnya pun mulai tampak di beberapa daerah, tetapi harus tegas dikatakan bahwa perang melawan virus korona masih jauh dari selesai. Laporan yang dilansir kemarin bahkan menunjukkan penambahan kasus positif mencatat rekor tertinggi, yakni 693, sehingga total menjadi 19.189 kasus. Sementara itu, pasien yang sembuh bertambah 108 menjadi 4.575 dan yang meninggal bertambah 21 menjadi 1.242 orang.

Dengan mengadopsi semangat Boedi Oetomo yang mengajarkan kegigihan, upaya untuk memutus rantai penyebaran covid-19 ialah prioritas yang harus terus kita maksimalkan. Dengan semangat Boedi Oetomo yang mengajarkan pentingnya pendidikan dan ilmu pengetahuan, kita mesti bekerja lebih keras lagi untuk ikut menemukan vaksin dan obat penyembuhan ke depan.

Para cerdik pandai kita telah sukses membuat inovasi dan memproduksi alat rapid test dan ventilator yang kemarin secara resmi diluncurkan Presiden Jokowi. Kita yakin, sangat yakin, anak-anak bangsa kita juga mumpuni untuk menghasilkan vaksin dan obat covid-19 yang juga sangat ditunggu-tunggu masyarakat dunia.

Untuk segera lepas dari penjajahan virus korona, tidak ada cara lain kecuali kita bersatu padu mengenyahkannya. Kesatuan sebagai sesama anak bangsa mutlak kita kedepankan, bukan malah saling menyalahkan dan menegasikan, dalam situasi yang sangat sulit sekarang ini. Apalagi, tak cuma melawan serangan langsung dari virus korona, kita juga menghadapi dampak turunan yang bisa jadi lebih berbahaya, yakni krisis ekonomi dan sosial.

Dulu, 112 tahun yang lalu, Wahidin Soedirohoesodo dan kawan-kawan memelopori kebangkitan nasional untuk melawan penjajahan Belanda. Kini, kebangkitan nasional menjadi kemestian untuk mengenyahkan kolonialisme covid-19.

 

 

 



Berita Lainnya
  • Kembalikan Akal Sehat Kasus Amsal Sitepu

    31/3/2026 05:00

    RUANG publik kembali disuguhi dinamika penegakan hukum yang menimbulkan kegelisahan.

  • Saat Tepat untuk Berhemat

    30/3/2026 05:00

    SABTU (28/3) lalu, genap satu bulan prahara di Timur Tengah berlangsung.

  • Mengawal Fajar Baru Perlindungan Anak

    28/3/2026 05:00

    MULAI hari ini, 28 Maret 2026, jagat digital Indonesia memasuki babak baru yang krusial.

  • Memetik Hasil Tata Kelola Mudik

    27/3/2026 05:00

    SETIAP musim mudik Lebaran tiba, pemerintah seolah kembali memasuki arena uji publik yang tak pernah benar-benar usai

  • Langkah Tepat Pembatalan Belajar Daring

    26/3/2026 05:00

    DI tengah langkah penghematan energi sebagai antisipasi terhadap gejolak global, pemerintah memastikan untuk tidak memberlakukan pembelajaran daring bagi para siswa.

  • Penghematan Tepat Sektor

    25/3/2026 05:00

    BERHEMAT adalah hal mutlak dalam menghadapi krisis global saat ini. Berhemat, khususnya BBM, merupakan adaptasi pertama dan minimal ketika Selat Hormuz belum juga aman.

  • Jalan Abu-Abu Status Tahanan Rumah

    24/3/2026 05:00

    PEMBERANTASAN korupsi di Indonesia kembali diuji. Di tengah persepsi publik bahwa praktik korupsi kian mengakar, langkah penegakan hukum justru dinilai melemah.

  • Privilese di KPK

    23/3/2026 05:00

    Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, atau yang akrab disapa Gus Yaqut, dilaporkan mendapatkan status tahanan rumah.

  • Memancarkan Takwa ke Sesama Manusia

    21/3/2026 05:00

    RAMADAN telah berlalu dan kini seluruh umat Islam di dunia merayakan Hari Raya Idul Fitri.

  • Peradilan Koneksitas untuk Penyiram Air Keras

    20/3/2026 05:00

    PENGUNGKAPAN identitas terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Andrie Yunus menjadi angin segar. 

  • Ujian Pengendalian Diri

    19/3/2026 05:10

    Ramadan dengan puasanya dan Nyepi dengan catur brata penyepiannya adalah dua jalan berbeda yang sama-sama menuju pada penguatan sikap pengendalian diri.

  • Kematangan Toleransi

    18/3/2026 05:00

    DALAM minggu ini, ada dua momentum besar ujian kematangan toleransi bangsa kita, yaitu Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri 1447 Hijriah.

  • Korupsi tak Kunjung Henti

    17/3/2026 05:00

    TAK salah kiranya jika Transparency International menempatkan Indonesia di level rendah dalam pemberantasan korupsi sepanjang 2025.

  • Ujian HAM dan Demokrasi untuk Negara

    16/3/2026 05:00

    Peristiwa itu merupakan ancaman serius terhadap demokrasi dan perlindungan hak asasi manusia (HAM) di Indone

  • Antisipasi Tepat, Mudik Selamat

    14/3/2026 05:00

    GELOMBANG mudik Lebaran selalu menjadi ujian besar bagi kapasitas negara dalam mengelola mobilitas manusia berskala besar.

  • Merawat Optimisme Publik lewat Mudik

    13/3/2026 05:00

    BAGAIMANAPUN dampak situasi global saat ini, pemerintah harus bisa memastikan mudik Lebaran berlangsung aman dan lancar.