Headline

Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.

Menimbang Jalan Koalisi dan Oposisi

15/10/2019 05:00

INTENSITAS kesibukan politik selalu meningkat di pekan-pekan terakhir jelang pe­­lantikan presiden dan wakil presiden. Hari-hari itu bakal menentukan komposisi, siapa menjadi bagian peme­­rintah terpilih dan siapa yang beroposisi.

Dalam sejarahnya, batas koalisi atau oposisi kerap tak rigid. Terlihat kaku keti­ka pemilu, tapi mendadak bisa menjadi lentur di saat-saat akhir. Saking lenturnya, yang dulunya rival, bahkan seolah tidak ada titik temu di antara keduanya, bisa berubah menjadi kawan dekat. Sepertinya benar adanya, politik ialah seni mengolah yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Begitu juga yang publik lihat hari-hari ini; pertemuan presiden terpilih Joko Widodo dengan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, dan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan.

Pun gerilya Prabowo menemui para petinggi parpol koalisi pemenang pemilu. Bolehlah semua itu kita baca sebagai bagian dari seni olah-mengolah kemungkinan tersebut.

Pertanyaannya pokoknya ialah, akankah Gerindra, Demokrat, atau bahkan PAN masuk pemerintahan, yang artinya mereka bakal punya wakil dalam kabinet bentukan Jokowi mendatang?

Jika itu yang terjadi, apakah otomatis mereka bergabung dalam koalisi Jokowi dan melepaskan diri dari status oposisi meskipun dalam pemilu mereka ada di kubu yang kalah?

Pada tataran ideal, betul bahwa dalam sistem pengelolaan negara dan pemerintahan kita butuh keseim-bangan kekuatan politik. Dalam mengelola negara, perlu fungsi checks and balances. Ada pembagian yang jelas, mana pemerintah, mana oposisi. Yang menang pemilu memerintah, yang kalah jadi oposisi. Teori sim­­pelnya seperti itu.

Akan tetapi, publik juga mesti ingat, ihwal kabinet ialah murni hak prerogatif presiden. Dalam kerangka sistem presidensial yang kita anut, sah-sah saja bila presiden terpilih ingin menampung kekuatan-kekuatan di luar koalisinya untuk memperkuat pemerintahan li­ma tahun ke depan.

Bahkan, kalau dia mau menarik semua kekuatan ma­­suk ke kabinet pun tak jadi soal. Termasuk bila Jokowi, dalam hal ini, merangkul partai-partai yang sedianya ada di kubu oposisi, itu juga bukan perkara haram. Hak prerogatif memungkinkan semua hal itu dilakukan dan semua pihak harus menghormati hak tersebut.

Yang mesti digarisbawahi dan terus menjadi titik perhatian ialah siapa pun yang dipilih masuk ke kabinet seharusnya menanggalkan loyalitas kepada partai atau kelompoknya. Hanya satu kepatuhan yang wajib mereka pegang, yakni patuh kepada presiden.

Begitu pula dengan partainya, kelompoknya. Begitu kadernya ada yang masuk kabinet, artinya mereka sudah menjadi bagian dari koalisi pemerintah. Mereka bukan lagi oposisi, bukan pula penyeimbang. Sebagai partai koalisi, mereka harus mendukung pemerintah sepenuh hati, bukan sesuka hati atau bahkan malah bermain dua kaki.

Ada kisah lalu ketika partai pendukung pemerintah malah melampaui oposisi, yang pada akhirnya memasung kebijakan presiden. Dengan dalih apa pun, perilaku semacam itu mestinya tak boleh terjadi. Politik yang katanya kotor pun punya keadaban, norma, juga etika yang harus dijunjung tinggi.

Maka, pilihlah jalan politik dengan selalu menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan yang lain. Ketika memilih jalan koalisi, jadilah pendukung, teman, mitra yang baik bagi pemerintah.

Begitu pun ketika memilih jalan oposisi, jadilah oposisi yang bukan sekadar berisik, melainkan betul-betul menjalankan fungsi kontrol dan pengawasan yang menggigit, tapi tetap objektif.



Berita Lainnya
  • Cegah Panik Amankan Mudik

    07/3/2026 05:00

    TEPAT sepekan lalu, negara superpower Amerika Serikat (AS) bersama sekondannya, Israel, membombardir Iran.

  • Sanksi Korupsi yang Menjerakan

    06/3/2026 05:00

    PENANGKAPAN Bupati Pekalongan Fadia Arafiq oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menegaskan satu hal, bahwa praktik korupsi di daerah bukanlah peristiwa tunggal

  • Rapatkan Barisan Hadapi Guncangan

    05/3/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di tepi pusaran krisis. Ketidakpastian global menjelma menjadi badai yang sulit diprediksi arahnya.

  • Menyiasati Krisis Energi

    04/3/2026 05:00

    PERANG di Timur Tengah telah berlangsung selama lebih dari tiga hari. Dampaknya mulai dirasakan oleh berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.

  • Mobil Mewah bukan Penentu Muruah

    03/3/2026 05:00

    SETELAH menjadi polemik, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud akhirnya mengembalikan mobil dinas mewah seharga Rp8,5 miliar ke kas daerah.

  • Saatnya Semua Menahan Diri

    02/3/2026 05:00

    SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

  • Menambal Defisit tanpa Bebani Rakyat

    28/2/2026 05:00

    PROGRAM Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah oase bagi jutaan rakyat untuk mengakses layanan kesehatan.

  • Menata Ulang Efektivitas Demokrasi

    27/2/2026 05:00

    PEMBAHASAN revisi Undang-Undang Pemilu kembali menghadirkan satu isu strategis, yakni ambang batas parlemen.

  • Krisis Ruang Digital Anak

    26/2/2026 05:00

    RUANG digital yang semula digadang-gadang sebagai wahana belajar dan berkreasi bagi generasi muda kini berubah menjadi medan yang semakin berbahaya bagi anak-anak.

  • Ungkap Otak Sindikat Narkoba

    25/2/2026 05:00

    FANDI Ramadhan adalah potret dari petaka yang disebabkan oleh narkoba.

  • Menagih Imbal Hasil Investasi Pendidikan

    24/2/2026 05:00

    Para awardee ini dibiayai miliaran rupiah untuk mendapatkan kemewahan bersekolah ke luar negeri agar mereka pulang sebagai agen perubahan yang ikut membereskan ketidakidealan tersebut.

  • Sigap Membaca Perubahan Amerika

    23/2/2026 05:00

    DUNIA sedang menyaksikan titik balik luar biasa dalam lanskap perdagangan internasional.

  • Hasil Gemilang Negosiasi Dagang

    21/2/2026 05:00

    Pemerintah perlu memastikan harmonisasi regulasi, mempercepat layanan perizinan, serta memperkuat lembaga pengawas mutu agar tidak terjadi kasus penolakan produk di pelabuhan tujuan.

  • Memitigasi Penutupan Selat Hormuz

    20/2/2026 05:00

    IRAN menutup sementara Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan negara adidaya Amerika Serikat.

  • Ramadan Mempersatukan

    19/2/2026 05:00

    SEPERTI pada 2022 dan 2024, juga pada banyak tahun sebelumnya, perbedaan jatuhnya 1 Ramadan kembali terjadi di Indonesia dan sejumlah negara lain.

  • Kendalikan Harga Segera

    18/2/2026 05:00

    KENAIKAN harga bahan pokok menjelang Ramadan kembali terulang. Polanya nyaris seragam dari tahun ke tahun.