Headline
Warga AS menolak kepemimpinan yang kian otoriter.
Kumpulan Berita DPR RI
PAPUA masih membara. Aksi kekerasan, tindakan anarkistis, bahkan pembunuhan menjadi noda nan pekat di Bumi Cenderawasih yang belakangan ini memang akrab dengan gejolak.
Boleh dibilang, ujian mahaberat sedang dihadapi Papua. Unjuk rasa besar-besaran di wilayah itu pada pertengahan bulan lalu sebagai reaksi atas ucapan dan tindakan rasial terhadap mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang, Jawa Timur, ternyata tak begitu saja berlalu.
Emosi rakyat Papua telanjur meluap. Bara dalam hati mereka panas membara sehingga ketika ada pemantik sekecil apa pun langsung membakar ke mana-mana. Karena emosi begitu tinggi, hasutan, provokasi, dan propaganda dengan mudahnya menemukan mangsa.
Itulah yang terjadi akhir-akhir ini di Papua. Berawal dari berita bohong (hoaks) bahwa ada seorang guru yang bertindak rasial terhadap muridnya, masyarakat Wamena, Kabupaten Jayawijaya, turun ke jalan. Celakanya, demonstrasi yang mereka lakukan jauh dari kata damai. Justru sebaliknya, unjuk rasa menjelma menjadi pamer kekerasan.
Masyarakat mempertontonkan amuk. Mereka merusak dan membakar rumah warga, gedung pemerintah, juga fasilitas umum. Belum cukup, massa pun menghilangkan nyawa lebih dari 30 orang dengan cara-cara di luar keadaban.
Sungguh, sikap dan tindakan mereka patut kita kecam. Dengan alasan apa pun, merusak properti pribadi ataupun milik negara tidak dapat ditoleransi. Dengan dalih apa pun, menghilangkan nyawa orang lain tidak bisa dibenarkan.
Apa yang terjadi di Wawena kian membuktikan adanya persoalan serius, sangat serius, di Papua. Harus kita katakan, berbeda ketimbang aksi demonstrasi di sejumlah wilayah lain di Papua, kejadian di Wamena jauh lebih mengkhawatirkan.
Insiden di Wamena bukan masalah biasa karena sudah menjurus ke konflik horizontal bernuansa SARA. Banyaknya masyarakat pendatang yang menjadi korban, termasuk ribuan orang yang memilih eksodus dari Wamena, merupakan penegas bahwa negara tak boleh main-main menyikapinya.
Kita percaya, sangat percaya, masih lebih banyak rakyat Papua yang cinta damai, yang ingin hidup rukun dengan sesama anak bangsa. Kita yakin, sangat yakin, mereka yang berlaku di luar batas kemanusiaan itu tak mewakili sikap dan pandangan masyarakat Papua secara keseluruhan.
Namun, kita tak bisa memandang remeh keberadaan pihak-pihak yang menyimpang itu. Pada konteks itu pula negara harus benar-benar menunjukkan kehadirannya bagi rakyat Papua, baik itu masyarakat pribumi maupun pendatang.
Kehadiran negara antara lain harus ditunjukkan dengan penegakan hukum yang tegas. Tindak mereka yang merusak, membakar, atau yang membunuh jangan ada lagi kompromi. Dengan begitu, mereka sadar bahwa apa yang sudah dilakukan ialah salah dan wajib dipertanggungjawabkan. Jika negara masih saja memberikan toleransi terhadap orang Papua yang melanggar hukum seperti selama ini, jangan harap ada damai di sana.
Akan tetapi, penegakan hukum semata tidaklah cukup. Kita perlu keterlibatan para tokoh agama dan tokoh-tokoh adat di Papua untuk terus menyerukan dan membumikan pesan damai kepada seluruh masyarakat. Hal itu perlu sebagai tambahan modal untuk mencegah konflik komunal meluas.
Pencegahan meluasnya konflik komunal mesti menjadi prioritas karena belakangan upaya-upaya provokasi kian gencar dilakukan oleh pihak-pihak yang tak senang negeri ini aman. Negara, para pemuka agama, dan tokoh-tokoh masyarakat harus bergerak bersama mendamaikan Papua.
Jangan biarkan perpecahan di Papua semakin menganga. Rekonsiliasi harus secepatnya dilakukan untuk kemudian bersama-sama membangun Papua agar kembali menjadi Papua yang damai, Papua yang penuh harmoni.
MULAI hari ini, 28 Maret 2026, jagat digital Indonesia memasuki babak baru yang krusial.
SETIAP musim mudik Lebaran tiba, pemerintah seolah kembali memasuki arena uji publik yang tak pernah benar-benar usai
DI tengah langkah penghematan energi sebagai antisipasi terhadap gejolak global, pemerintah memastikan untuk tidak memberlakukan pembelajaran daring bagi para siswa.
BERHEMAT adalah hal mutlak dalam menghadapi krisis global saat ini. Berhemat, khususnya BBM, merupakan adaptasi pertama dan minimal ketika Selat Hormuz belum juga aman.
PEMBERANTASAN korupsi di Indonesia kembali diuji. Di tengah persepsi publik bahwa praktik korupsi kian mengakar, langkah penegakan hukum justru dinilai melemah.
Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, atau yang akrab disapa Gus Yaqut, dilaporkan mendapatkan status tahanan rumah.
RAMADAN telah berlalu dan kini seluruh umat Islam di dunia merayakan Hari Raya Idul Fitri.
PENGUNGKAPAN identitas terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Andrie Yunus menjadi angin segar.
Ramadan dengan puasanya dan Nyepi dengan catur brata penyepiannya adalah dua jalan berbeda yang sama-sama menuju pada penguatan sikap pengendalian diri.
DALAM minggu ini, ada dua momentum besar ujian kematangan toleransi bangsa kita, yaitu Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri 1447 Hijriah.
TAK salah kiranya jika Transparency International menempatkan Indonesia di level rendah dalam pemberantasan korupsi sepanjang 2025.
Peristiwa itu merupakan ancaman serius terhadap demokrasi dan perlindungan hak asasi manusia (HAM) di Indone
GELOMBANG mudik Lebaran selalu menjadi ujian besar bagi kapasitas negara dalam mengelola mobilitas manusia berskala besar.
BAGAIMANAPUN dampak situasi global saat ini, pemerintah harus bisa memastikan mudik Lebaran berlangsung aman dan lancar.
PEMERINTAH sejatinya lahir untuk melindungi, memberi kepastian, dan mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya.
Stok BBM untuk 21 hari yang selama ini disebut sebagai standar buffer operasional semestinya tidak dipandang sebagai zona aman.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved