Headline

Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.

Benahi Regulasi Ramah Investasi

06/9/2019 05:00

DI tengah perlambatan perekonomian dunia lantaran perang dagang di antara dua raksasa, Amerika Serikat dan Tiongkok, kecerdasan menjadi keniscayaan bagi setiap negara untuk bisa bertahan dari gelombang ketidakpastian. Pun dengan Indonesia yang mutlak sigap bertindak mengatasi segala rintangan dan mengoptimalkan semua peluang.

Perang dagang AS kontra Tiongkok di satu sisi memang buruk bagi perekonomian dunia, tetapi ada sisi baiknya pula karena menciptakan kesempatan baru bagi negara-negara lain. Akibat perang dagang, beberapa perusahaan manufaktur Tiongkok ingin memindahkan basis dari AS demi menghindari tarif tinggi yang dikenakan 'Negeri Paman Sam'.

Demikian pula dengan investor AS yang selama ini berinvestasi di 'Negeri Tirai Bambu'. Situasi seperti itu jelas menjadi peluang emas bagi mereka yang cerdik menyikapi. Ia sekaligus membuka perang baru, perang daya pikat untuk menarik para pebisnis yang hendak memindahkan basis industrinya dari AS ataupun Tiongkok.

Mereka yang benar-benar memiliki daya pikat tinggi bagi investasilah yang bakal menjadi pemenang. Mereka yang benar-benar bisa menyodorkan kemudahan bagi investorlah yang bakal mendapatkan limpahan investasi. Sayangnya, dalam situasi itu, kita justru tertatih-tatih. Ketika negara-negara tetangga mulai kebanjiran investasi akibat perang dagang AS-Tiongkok, kita masih gigit jari.

Berdasarkan catatan yang disampaikan Bank Dunia, dari 33 perusahaan yang angkat sauh dari Tiongkok pada dua bulan silam, tidak satu pun yang berlabuh di Indonesia. Sebanyak 23 perusahaan asal AS itu lebih memilih hijrah ke Vietnam, sisanya ke Malaysia, Thailand, dan Kamboja.

Realitas itu pula yang menjadi keprihatinan Presiden Joko Widodo sehingga merasa perlu menggelar rapat terbatas bersama jajaran terkait sebagai antisipasi menghadapi perlambatan ekonomi dunia, dua hari lalu.

Kegagalan kita memanfaatkan peluang yang terhampar di depan mata memang mengecewakan. Lebih mengecewakan lagi, kegagalan itu ialah akibat dari persoalan klasik bahwa kita masih kalah ramah ketimbang negara lain terhadap investor asing.

Betul bahwa di era pemerintahan Jokowi-JK, Indonesia mengalami perbaikan signifikan dalam peringkat kemudahan berbisnis. Pada 2017, misalnya, kita naik 19 tingkat ke posisi 72 dari 190 negara kendati setahun kemudian turun satu tangga.

Kendati begitu, kita masih tertinggal dari para pesaing utama di ASEAN. Salah satunya karena masalah regulasi atau perizin-an yang sejak dulu menjadi hambatan belum sepenuhnya bisa disingkirkan.

Karena itulah, kita sepakat, amat sepakat, dengan instruksi Presiden Jokowi kepada segenap bawahannya untuk terus membenahi regulasi yang menghambat investasi masuk ke Indonesia. Membersihkan jalan dari segala onak dan duri yang merintangi foreign direct invesment memang mesti secepatnya dilakukan.

Kepada investor asing, utamanya mereka yang hendak memindahkan bisnis dari AS atau Tiongkok, kita perlu menghamparkan karpet merah. Bagaimana mungkin mereka tertarik ke Indonesia jika perlu bertahun-tahun karena berbelitnya regulasi, sementara di Vietnam cuma butuh dua bulan untuk berinvestasi?

Jokowi sebenarnya tak mesti terus-menerus memberikan instruksi memangkas regulasi. Bukankah instruksi seperti itu sudah dia suarakan sejak awal ketika menjabat? Kalau di penghujung masa jabatan dia masih mengeluarkan instruksi yang sama, berarti selama ini ada bawahan yang tidak sepenuh hati mematuhinya. Bawahan-bawahan seperti itu jelas tak layak dipertahankan.

Tak mungkin optimal jika lokomotif surplus energi untuk membawa laju kereta api bergerak cepat, tetapi roda gerbongnya penuh karat. Sebagai lokomotif menuju Indonesia maju, Jokowi butuh para pembantu yang punya kegesitan dan kesigapan setara dalam menghadapi semua kendala.

Tak perlu ada lagi instruksi dari Jokowi perihal penyederhanaan regulasi demi menarik investasi. Instruksi yang telah berulang kali dia berikan bukan cuma untuk didengar, tetapi wajib dilaksanakan.



Berita Lainnya
  • Menjaga Tunas Bangsa

    09/3/2026 05:00

    NEGARA akhirnya menunjukkan taringnya di jagat digital yang kian sulit dikendalikan.

  • Cegah Panik Amankan Mudik

    07/3/2026 05:00

    TEPAT sepekan lalu, negara superpower Amerika Serikat (AS) bersama sekondannya, Israel, membombardir Iran.

  • Sanksi Korupsi yang Menjerakan

    06/3/2026 05:00

    PENANGKAPAN Bupati Pekalongan Fadia Arafiq oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menegaskan satu hal, bahwa praktik korupsi di daerah bukanlah peristiwa tunggal

  • Rapatkan Barisan Hadapi Guncangan

    05/3/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di tepi pusaran krisis. Ketidakpastian global menjelma menjadi badai yang sulit diprediksi arahnya.

  • Menyiasati Krisis Energi

    04/3/2026 05:00

    PERANG di Timur Tengah telah berlangsung selama lebih dari tiga hari. Dampaknya mulai dirasakan oleh berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.

  • Mobil Mewah bukan Penentu Muruah

    03/3/2026 05:00

    SETELAH menjadi polemik, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud akhirnya mengembalikan mobil dinas mewah seharga Rp8,5 miliar ke kas daerah.

  • Saatnya Semua Menahan Diri

    02/3/2026 05:00

    SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

  • Menambal Defisit tanpa Bebani Rakyat

    28/2/2026 05:00

    PROGRAM Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah oase bagi jutaan rakyat untuk mengakses layanan kesehatan.

  • Menata Ulang Efektivitas Demokrasi

    27/2/2026 05:00

    PEMBAHASAN revisi Undang-Undang Pemilu kembali menghadirkan satu isu strategis, yakni ambang batas parlemen.

  • Krisis Ruang Digital Anak

    26/2/2026 05:00

    RUANG digital yang semula digadang-gadang sebagai wahana belajar dan berkreasi bagi generasi muda kini berubah menjadi medan yang semakin berbahaya bagi anak-anak.

  • Ungkap Otak Sindikat Narkoba

    25/2/2026 05:00

    FANDI Ramadhan adalah potret dari petaka yang disebabkan oleh narkoba.

  • Menagih Imbal Hasil Investasi Pendidikan

    24/2/2026 05:00

    Para awardee ini dibiayai miliaran rupiah untuk mendapatkan kemewahan bersekolah ke luar negeri agar mereka pulang sebagai agen perubahan yang ikut membereskan ketidakidealan tersebut.

  • Sigap Membaca Perubahan Amerika

    23/2/2026 05:00

    DUNIA sedang menyaksikan titik balik luar biasa dalam lanskap perdagangan internasional.

  • Hasil Gemilang Negosiasi Dagang

    21/2/2026 05:00

    Pemerintah perlu memastikan harmonisasi regulasi, mempercepat layanan perizinan, serta memperkuat lembaga pengawas mutu agar tidak terjadi kasus penolakan produk di pelabuhan tujuan.

  • Memitigasi Penutupan Selat Hormuz

    20/2/2026 05:00

    IRAN menutup sementara Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan negara adidaya Amerika Serikat.

  • Ramadan Mempersatukan

    19/2/2026 05:00

    SEPERTI pada 2022 dan 2024, juga pada banyak tahun sebelumnya, perbedaan jatuhnya 1 Ramadan kembali terjadi di Indonesia dan sejumlah negara lain.