Headline
Tradisi halal bi halal untuk menyempurnakan ibadah puasa Ramadan.
Tradisi halal bi halal untuk menyempurnakan ibadah puasa Ramadan.
Kumpulan Berita DPR RI
REKAPITULASI nasional perolehan suara Pemilu 2019 yang saat ini berlangsung di Komisi Pemilihan Umum (KPU) merupakan tahapan yang penting dan krusial.
Disebut penting karena hasil rekapitulasi secara manual itulah yang menentukan pemenang pemilu. Rekapitulasi juga disebut krusial karena harus menjamin kemurnian suara pemilih.
Suara pemilih wajib dikonversi menjadi kursi presiden dan wakil presiden serta kursi partai di legislatif sesuai kehendak murni pemilih yang telah mereka berikan di tempat pemungutan suara. Tidak boleh ada distorsi apalagi manipulasi suara pemilih.
Hampir tidak ada peluang untuk distorsi apalagi manipulasi kemurnian suara pemilih karena saat KPU menggelar rekapitulasi disaksikan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dan saksi dari peserta Pemilu 2019, baik dari calon presiden-calon wakil presiden, calon dari anggota DPD, maupun partai politik.
KPU patut diapresiasi karena hingga kemarin sudah rampung menyelesaikan rekapitulasi nasional di 27 dari 34 provinsi di Tanah Air. Sidang rekapitulasi suara nasional pada hari ke-8, kemarin, terpaksa diskors karena ketidaksiapan KPU provinsi. Rekapitulasi dilanjutkan hari ini.
Hasil sejauh ini, pasangan calon nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin unggul di 16 provinsi, sedangkan paslon nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menang di 11 provinsi. Jumlah perolehan suara Jokowi-Amin unggul dengan 70.324.295 suara, sedangkan Prabowo-Sandi mendapatkan 56.170.866 suara. Selisih perolehan suara di antara keduanya mencapai 14.153.429.
Masih ada tujuh provinsi yang mesti melakukan rekapitulasi nasional. Meskipun demikian, KPU tetap optimistis rekapitulasi nasional akan bisa memenuhi tenggat akhir yang diatur Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu. UU Pemilu mengatur KPU harus menetapkan perolehan suara pemilu paling lambat 35 hari setelah pemungutan suara atau pada 22 Mei 2019.
Boleh-boleh saja KPU optimistis. Namun, KPU mesti realistis memperhitungkan kendala di lapangan. Meski batas waktu rekapitulasi provinsi selesai pada 12 Mei, saat ini masih terdapat provinsi yang belum menyelesaikan proses rekapitulasi.
Keterlambatan rekapitulasi di tingkat daerah karena sejumlah sebab. KPU di beberapa daerah harus menjalani rekomendasi Bawaslu untuk melakukan pemungutan suara ulang. Ada pula KPU daerah yang harus melakukan penghitungan ulang suara hingga ke tingkat kecamatan karena ada keberatan dari sejumlah saksi dan dugaan penggelembungan suara.
Harus jujur diakui bahwa keterlambatan rekapitulasi di daerah itu sekaligus membuktikan bahwa pemilu sesungguhnya dilaksanakan secara transparan. Seluruh keberatan diselesaikan sesuai mekanisme yang sudah ada. Karena itu, tidak ada alasan untuk menuduh ada kecurangan yang sistematis, terstruktur, dan masif. Pihak yang menuding pemilu penuh kecurangan tanpa data sesungguhnya terjebak dalam delusi kemenangan semu.
Secara umum rekapitulasi suara yang dilakukan berjenjang mulai tingkat paling bawah hingga nasional berjalan lancar. Hampir tidak ada kontroversi terkait dengan penetapan hasil rekapitulasi. Hanya ada sejumlah saksi yang memang diperintah untuk tidak menandatangani hasil rekapitulasi meskipun mereka tidak mengajukan keberatan terhadap hasil keputusan pleno rekapitulasi suara.
Jika rekapitulasi nasional rampung tepat waktu pada 22 Mei, setelah rekapitulasi tidak adanya gugatan, KPU akan menetapkan calon presiden-wakil presiden terpilih beserta calon anggota legislatif pada 25 Mei.
Rekapitulasi yang baik tentu saja meninggikan martabat demokrasi karena ada jaminan kemurnian suara pemilih saat mencoblos dikonversikan menjadi pemenang pemilu.
RAMADAN telah berlalu dan kini seluruh umat Islam di dunia merayakan Hari Raya Idul Fitri.
PENGUNGKAPAN identitas terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Andrie Yunus menjadi angin segar.
Ramadan dengan puasanya dan Nyepi dengan catur brata penyepiannya adalah dua jalan berbeda yang sama-sama menuju pada penguatan sikap pengendalian diri.
DALAM minggu ini, ada dua momentum besar ujian kematangan toleransi bangsa kita, yaitu Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri 1447 Hijriah.
TAK salah kiranya jika Transparency International menempatkan Indonesia di level rendah dalam pemberantasan korupsi sepanjang 2025.
Peristiwa itu merupakan ancaman serius terhadap demokrasi dan perlindungan hak asasi manusia (HAM) di Indone
GELOMBANG mudik Lebaran selalu menjadi ujian besar bagi kapasitas negara dalam mengelola mobilitas manusia berskala besar.
BAGAIMANAPUN dampak situasi global saat ini, pemerintah harus bisa memastikan mudik Lebaran berlangsung aman dan lancar.
PEMERINTAH sejatinya lahir untuk melindungi, memberi kepastian, dan mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya.
Stok BBM untuk 21 hari yang selama ini disebut sebagai standar buffer operasional semestinya tidak dipandang sebagai zona aman.
LAILA Fathiah, dengan nama panggung Fadia Arafiq, menjadi kepala daerah kedelapan hasil pilkada serentak pada 2024 lalu yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
NEGARA akhirnya menunjukkan taringnya di jagat digital yang kian sulit dikendalikan.
TEPAT sepekan lalu, negara superpower Amerika Serikat (AS) bersama sekondannya, Israel, membombardir Iran.
PENANGKAPAN Bupati Pekalongan Fadia Arafiq oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menegaskan satu hal, bahwa praktik korupsi di daerah bukanlah peristiwa tunggal
DUNIA kembali berdiri di tepi pusaran krisis. Ketidakpastian global menjelma menjadi badai yang sulit diprediksi arahnya.
PERANG di Timur Tengah telah berlangsung selama lebih dari tiga hari. Dampaknya mulai dirasakan oleh berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved