Kamis 25 Februari 2021, 16:30 WIB

Berburu jadi Gaya Hidup Baru Generasi Muda di Jerman

Adiyanto | Weekend

SEBELUM era modern, manusia mencukupi kebutuhan mereka dengan berburu dan meramu. Kini, salah satu tradisi itu, yakni berburu, mulai digemari kalangan muda di Jerman. Salah satunya adalah Shanna Reis. Perempuan berusia 28 tahun ini, mewakili generasi baru di Jerman yang peduli tentang dari mana mereka memperoleh daging, terutama ketika memasak di rumah menjadi kegiatan rutin selama pandemi.

Dengan rambut dreadlock gimbal dan tindik di sisi kiri hidungnya, Reis tidak terlihat seperti pemburu. Wajahnya terlalu manis, jauh dari kesan bengis. Berbekal teropong binocular sambil mencangklong senapan di bahunya, ia ditemani salah satu dari tiga anjingnya saat menjalani aktivitasnya tersebut.

Reis mengaku awalnya seorang vegetarian. Namun, setelah memperoleh lisensi berburunya sekitar lima tahun silam, ia jadi keranjingan hobi barunya itu dan mulai menempatkan daging hewan hasil buruannya di meja makan.

"Penting bagi saya untuk mengetahui dari mana asalnya daging yang saya makan," katanya di pinggiran desa Aspisheim, dekat Sungai Rhine, seperti dikutip AFP, Kamis (25/2).

Lisensi berburu kini semakin populer di Jerman, negara yang mayoritas penduduknya gemar mengonsumsi daging. Juru bicara Federasi Berburu Nasional, Anna Martinsohn mengungkapkan, ada sekitar 390.000 praktisi/pemburu pada akhir 2020, meningkat seperempat lebih dari 30 tahun yang lalu.

Jumlah itu memang jauh jika dibandingkan dengan negara tetangga mereka Prancis, yang angkanya diperkirakan sekitar satu juta pada 2019. Tapi, jumlah itu menyusut setengahnya dalam 40 tahun terakhir.

Di Jerman, 19.000 orang telah mengajukan izin berburu pada tahun lalu. “Sebagian besar dari mereka berhasil mendapat izin, dua kali lipat dari 10 tahun yang lalu,” kata Martinsohn.

Jerman yang merupakan negara dengan tingkat perekonomian tertinggi di Eropa adalah konsumen terbesar daging di wilayah itu. Namun produksi daging telah mengalami pukulan serius selama pandemi.

Liputan media tentang penyebaran infeksi yang memusatkan perhatian pada kondisi kerja di pusat pemotongan hewan, serta upah rendah bagi pekerjanya yang umumnya berasal dari eropa timur, ikut memberi dampak.

"Orang-orang mengatakan dalam jangka panjang mereka tidak ingin makan daging dari tempat seperti itu," kata Nicole Romig, 47, seorang guru sekolah menengah di Offenbach, di luar Frankfurt, yang kini juga mulai gemar berburu.

Dengan bantuan seorang tukang daging yang merupakan kolega keluarganya, dia membuat berbagai macam penganan menggunakan hasil buruannya, seperti steak panggang, sosis, dan hamburger.

Penggemar berburu lainnya, Ulf Grether, 55 tahun, mengaku daging hewan hasil buruannya, terutama babi, banyak yang memesan bahkan sebelum dia mencoba mencicipinya.

Pro-kontra

Alexander Polfers, direktur sebuah sekolah berburu di Emsland di negara bagian utara Lower Saxony menuturkan mereka yang baru menekuni hobi berburu tertarik untuk memahami hubungan antara hutan, ladang, dan hewan.

Reis sendiri mengaku tertarik untuk menghilangkan citra/anggapan kejam yang kerap dilekatkan kepada para pemburu.

“Ini tentang melestarikan biotop (habitat), berbicara dengan petani dan melestarikan ekonomi hutan,” kata Reis, yang memiliki lebih dari 20.000 pengikut di akun Instagram-nya, yang didedikasikan untuk gaya hidup barunya ini.

Seperti halnya Reis, kakak beradik Paul dan Gerold Reilmann, yang berusia 25 dan 22 tahun juga merupakan pemburu yang tekun. Mereka memiliki lebih dari 30.000 pengikut di Facebook dan giat mengampanyekan hobinya tersebut.

Tetapi, tidak semua menyukai apa yang dilakukan Reilman bersaudara ini, terutama mereka yang berasal dari negara yang menghormati kehidupan hewan. "Membunuh hewan tidak ada hubungannya dengan menghormati hidupnya," kata Sandra Franz, juru bicara LSM Animal Rights Watch.

"Tidak ada alasan rasional untuk berburu selain keinginan untuk membunuh dan mengumpulkan piala untuk dipamerkan," imbiuhnya.

Pemburu juga mesti mematuhi peraturan tentang habitat hewan liar. Para petani, umunnya cenderung mendukung perburuan ini, terutama untuk mencegah rusa memakan pucuk pohon/tanaman mereka dan gerombolan babi hutan yang merusak ladang jagung. (AFP/M-4)

Baca Juga

Sajjad HUSSAIN / AFP)

Kebiasaan Mengonsumsi Madu Ternyata Sudah Dimulai 3.500 Tahun Lalu

👤Galih Agus Saputra 🕔Kamis 15 April 2021, 04:10 WIB
Wilayah ekskavasi Breunig bersama Dunne di Nok kini dianggap sebagai situs perburuan madu tertua yang pernah...
123RF/Katarzyna BiaƂasiewicz

Ini yang Dapat Dilakukan untuk Melalui Masa Duka

👤Irana 🕔Rabu 14 April 2021, 23:11 WIB
Duka adalah proses yang cukup sepi tanpa kita perlu mengisolasi...
Ist

Mengenal Keunggulan Daging Sapi Khas Jepang

👤mediaindonesia.com 🕔Rabu 14 April 2021, 22:45 WIB
Daging sapi wagyu fullblood merupakan daging yang berasal 100% dari genetika sapi Jepang dan dibesarkan dengan menggunakan teknik...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Tajamnya Lancang Kuning di Lapangan

 Polda Riau meluncurkan aplikasi Lancang Kuning untuk menangani kebakaran hutan dan lahan. Berhasil di lapangan, dipuji banyak kalangan.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya