Headline
Serangan terhadap pasukan perdamaian melanggar hukum internasional.
Serangan terhadap pasukan perdamaian melanggar hukum internasional.
Kumpulan Berita DPR RI
PENYAKIT Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) sering kali dianggap sebagai gangguan kesehatan menahun yang sulit hilang. Namun, Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Konsultan Gastroenterologi, Hepatologi FK UI RSCM, Ari Fahrial Syam, menegaskan bahwa GERD sebenarnya bisa sembuh total.
Kuncinya terletak pada kedisiplinan penderita dalam mengelola faktor risiko dan menjalani pengobatan medis hingga tuntas.
"Obatinya tadi menghilangkan gejala juga komplikasi, gaya hidup, kalau dia merokok stop merokok, kalau dia (minum) alkohol juga stop, berat badan penting untuk diturunkan, kemudian diet rendah lemak," ujar Ari dilansir dari Antara, Kamis (5/3).
Ari menekankan bahwa mengubah gaya hidup dengan pola makan yang baik dapat secara signifikan mengurangi keparahan GERD. Berikut adalah beberapa langkah esensial yang disarankan:
Berdasarkan penelitian, penderita GERD umumnya adalah pria perokok dengan obesitas di atas usia 40 tahun. Namun, saat ini banyak ditemukan kasus GERD pada anak-anak. Ari menengarai hal ini disebabkan oleh paparan makanan mengandung keju dan cokelat yang berlebihan sejak bayi.
"Sekarang cenderung anak-anak ini juga kurang bergerak karena gadget. Kurangi gadget, artinya mereka harus sering di playground untuk bergerak," tambahnya.
Kebiasaan langsung tidur setelah makan juga menjadi pemicu utama naiknya asam lambung pada anak maupun dewasa.
Dokter biasanya akan merekomendasikan tindakan endoskopi jika pasien mengalami gejala berikut:
Endoskopi bertujuan untuk melihat luka pada usus/kerongkongan serta mengevaluasi celah pada katup lambung. Langkah ini juga penting untuk deteksi dini risiko kanker akibat luka yang tidak diobati.
Dalam hal medikasi, dunia kedokteran kini memasuki era P-CAB (Potassium-Competitive Acid Blockers). Obat-obatan golongan baru seperti Vonoprazan, Tegoprazan, dan Fexuprazan menjadi solusi bagi pasien yang tidak mempan dengan pengobatan lama.
"Sekitar 20% pasien yang diobati dengan obat sebelumnya itu gagal. Jadi, P-CAB ini menjadi harapan baru bagi penderita GERD, termasuk yang disebabkan oleh bakteri Helicobacter pylori," jelas Ari.
Selain obat-obatan, ia juga menyarankan penderita untuk mencoba metode puasa intermiten (intermittent fasting) dan memastikan asupan protein yang cukup guna membantu pemulihan jaringan lambung yang rusak.
1. Apakah GERD bisa sembuh permanen?
Ya, dengan kombinasi pengobatan medis yang tuntas dan perubahan gaya hidup sehat secara konsisten.
2. Apa perbedaan maag biasa dengan GERD?
Maag umumnya menyerang lambung, sedangkan GERD terjadi ketika asam lambung naik kembali ke kerongkongan (refluks) sehingga menimbulkan rasa terbakar di dada.
3. Bolehkah penderita GERD berpuasa?
Sangat boleh. Puasa intermiten justru disarankan oleh ahli untuk membantu menstabilkan produksi asam lambung. (Z-10)
Penumpang MRT Jakarta melonjak hingga 135.117 orang selama dua hari Lebaran 2026. Tarif Rp1 jadi pemicu utama minat warga gunakan transportasi publik.
Fenomena menyewa tas bermerek kini menjadi tren yang semakin digandrungi, terutama untuk merek-merek ikonik seperti Dior dan Chanel.
Pengembangan kawasan hunian di Bali mulai bergerak ke arah yang lebih luas dari sekadar pembangunan properti.
Ramadan selalu menjadi momen istimewa untuk berkumpul dan menikmati kebersamaan bersama orang terdekat.
Sekitar 619 juta orang mengalami nyeri punggung bawah pada 2020.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved