Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
GEDUNG Putih ingin badan antariksa AS, NASA, mengembangkan zona waktu baru untuk Bulan, yaitu Waktu Terkoordinasi Bulan (Coordinated Lunar Time - LTC).
Karena kekuatan medan gravitasi yang berbeda di Bulan, waktu bergerak lebih cepat di sana dibandingkan dengan Bumi – 58,7 mikrodetik setiap hari. Ini mungkin tampak tidak signifikan, tetapi dapat berdampak besar saat mencoba menyinkronkan pesawat luar angkasa.
Pemerintah AS berharap waktu baru ini akan membantu menjaga upaya nasional dan swasta untuk mencapai Bulan tetap terkoordinasi.
Baca juga : Amerika Serikat Minta NASA Ciptakan Standar Waktu Bulan, Apa Tujuannya?
Prof Catherine Heymans, Astronomer Royal dari Skotlandia, mengatakan "Teori fundamental gravitasi di alam semesta kita memiliki konsekuensi penting bahwa waktu berjalan berbeda di tempat yang berbeda di alam semesta. Gravitasi di Bulan sedikit lebih lemah dan jam berjalan berbeda."
Saat ini, waktu diukur di Bumi oleh ratusan jam atom yang ditempatkan di seluruh planet kita yang mengukur perubahan keadaan energi atom untuk mencatat waktu hingga tingkat nanodetik. Jika jam-jam ini ditempatkan di Bulan, selama 50 tahun mereka akan berjalan satu detik lebih cepat.
"Jam atom di Bulan akan berdetak dengan kecepatan yang berbeda dari jam di Bumi," kata Kevin Coggins, pejabat komunikasi dan navigasi utama NASA.
Baca juga : NASA Berencana Jelajahi Dunia Baru yang Mungkin Layak Huni, Oktober Mendatang.
"Masuk akal bahwa ketika Anda pergi ke benda langit lain, seperti Bulan atau Mars, setiap tempat memiliki ritme waktunya sendiri," katanya.
Namun, NASA bukan satu-satunya yang berupaya mewujudkan waktu lunar. Badan Antariksa Eropa juga telah mengembangkan sistem waktu baru ini selama beberapa waktu. Nantinya, harus ada kesepakatan antara negara-negara dan badan pengoordinasi terpusat – saat ini, waktu di Bumi dikelola oleh Biro Internasional Ukuran dan Timbangan.
Saat ini, di Stasiun Luar Angkasa Internasional, Waktu Universal Terkoordinasi (UTC) digunakan karena orbitnya yang rendah. Elemen lain yang harus disepakati oleh negara-negara adalah dari mana kerangka waktu baru dimulai dan sejauh mana cakupannya.
Baca juga : NASA Mengumumkan Pesawat Penjelajah Menuju Bulan Jupiter
AS ingin LTC siap tahun 2026 untuk mendukung misi berawaknya ke Bulan. Artemis-3 akan menjadi misi pertama yang kembali ke permukaan Bulan sejak Apollo 17 pada 1972. Misi ini dijadwalkan mendarat di kutub selatan Bulan, yang diyakini memiliki cadangan besar es air di kawah-kawah yang tidak pernah terkena sinar matahari.
Menentukan lokasi dan mengarahkan misi ini memerlukan presisi ekstrem hingga tingkat nanodetik. Kesalahan dalam navigasi dapat berisiko mengarahkan pesawat ke orbit yang salah.
Namun, Artemis-3 juga merupakan salah satu dari banyak misi nasional yang direncanakan ke Bulan, serta upaya dari pihak swasta.
Jika waktu tidak dikoordinasikan di antara mereka, hal ini dapat menimbulkan tantangan dalam pengiriman data dan komunikasi antara pesawat ruang angkasa, satelit, dan Bumi. (BBC/Z-3)
Para astronom kini berburu tanda-tanda kehidupan di 6.000 exoplanet. Mulai dari deteksi gas atmosfer hingga misi masa depan NASA, inilah cara kita menjawab apakah Bumi itu unik.
Teleskop James Webb menampilkan detail baru Nebula Helix, memperlihatkan struktur gas, debu, dan akhir kehidupan bintang dengan resolusi inframerah tinggi.
Setelah 27 tahun berkarir dan mencetak berbagai rekor, astronot NASA Suni Williams resmi pensiun. Misi Boeing Starliner menjadi penutup karir ikoniknya.
Program Artemis tidak hanya bertujuan untuk mendaratkan manusia, tetapi juga membangun fondasi kehadiran jangka panjang di Bulan.
Fenomena astronomi langka akan kembali terjadi: Gerhana Matahari Total diprediksi melintasi sejumlah wilayah Eropa hingga kawasan Arktik pada 12 Agustus 2026.
NASA berupaya menghubungi kembali pengorbit Mars MAVEN yang mendadak diam sejak Desember lalu. Peluang pemulihan menipis setelah kegagalan deteksi terbaru.
Kilatan cahaya singkat yang muncul di sisi gelap Bulan pada Desember 2025 bukan hanya peristiwa astronomi biasa.
Selama lebih dari satu dekade, Bulan terbesar milik planet Saturnus, Titan dikenal sebagai salah satu kandidat terkuat tempat adanya kehidupan di luar Bumi.
Sebagian partikel atmosfer Bumi ternyata “bocor” dan berpindah ke permukaan Bulan. Proses ini diduga telah berlangsung selama miliaran tahun.
Pusat ini dibangun berdasarkan pengalaman JPL selama lebih dari 30 tahun dalam mengembangkan dan mengoperasikan misi permukaan Mars
Hasil pengukuran tersebut menunjukkan bahwa Bulan bergerak menjauhi Bumi sekitar 3,8 sentimeter setiap tahun, kira-kira secepat kuku manusia tumbuh.
Fenomena supermoon kembali menyapa di penghujung tahun.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved