Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
NEBULA Boomerang adalah salah satu fenomena astronomi yang menarik dan unik di alam semesta.
Dikenal juga sebagai "nebulah terkering" di ruang angkasa, Nebula Boomerang terletak sekitar 5.000 tahun cahaya dari Bumi di konstelasi Centaurus.
Berikut adalah penjelasan lebih mendalam tentang apa itu Nebula Boomerang dan apa yang membuatnya begitu istimewa.
Baca juga : Bintang Aneh yang Sempat Hilang 840 Tahun Mendadak Kembali Muncul
Nama "Boomerang" diberikan karena bentuknya yang menyerupai bumerang atau busur.
Nebula ini pertama kali ditemukan pada tahun 1980-an oleh astronom Raghvendra Sahai dan Lars-Åke Nyman menggunakan teleskop di Chili.
Bentuknya yang unik dan keunikan suhu ekstremnya membuatnya menjadi subjek penelitian dan pengamatan astronomi yang mendalam.
Baca juga : 7 Fenomena Astronomi Ini Bisa Dilihat di Langit Indonesia sepanjang Juli 2024
Nebula Boomerang merupakan contoh dari apa yang dikenal sebagai nebula pra-planetari.
Ini adalah tahap evolusi bintang yang terjadi sebelum bintang tersebut menjadi nebula planetari sepenuhnya. Struktur nebula ini terdiri dari materi yang dikeluarkan dari bintang yang sekarat di pusatnya.
Salah satu karakteristik paling mencolok dari Nebula Boomerang adalah suhunya yang sangat rendah.
Baca juga : Bumi Sedang Tidak Baik, Transisi Energi Diminta Segera Dilakukan
Suhu di dalam nebula ini telah diukur sekitar 1 K (satu derajat Kelvin) atau -272 derajat Celsius, yang menjadikannya objek terdingin yang pernah ditemukan di alam semesta.
Suhu ini lebih dingin dari latar belakang radiasi kosmik yang merupakan sisa dari Big Bang, yang memiliki suhu sekitar 2,7 K.
Nebula Boomerang terbentuk dari proses yang melibatkan pelepasan cepat materi dari bintang pusat yang sekarat.
Baca juga : Fenomena Equinox Kembali Terjadi di Indonesia 21 Maret 2024, Apa Penyebabnya?
Materi ini dikeluarkan dengan kecepatan sangat tinggi, yang menciptakan angin bintang yang mendorong gas dan debu keluar dari bintang.
Ketika gas ini mengembang, ia mendingin dengan cepat, yang menyebabkan suhu ekstrem yang sangat rendah di dalam nebula.
Nebula Boomerang telah diamati dengan berbagai instrumen astronomi, termasuk Teleskop Hubble dan Atacama Large Millimeter/submillimeter Array (ALMA).
Pengamatan ini membantu astronom memahami lebih banyak tentang proses pendinginan yang ekstrem dan struktur materi yang dikeluarkan dari bintang sekarat.
ALMA, dengan resolusi tinggi dan kemampuan untuk mendeteksi emisi gelombang milimeter dari molekul gas dingin, memungkinkan para ilmuwan untuk memetakan distribusi gas di dalam nebula dengan lebih rinci.
Pengamatan ini mengungkapkan struktur dua lobus yang khas dari materi yang dikeluarkan, yang memberi nebula bentuk bumerang atau busur yang khas.
Nebula Boomerang memberikan wawasan penting tentang evolusi bintang dan tahap akhir kehidupan bintang yang mirip dengan Matahari.
Studi tentang nebula ini membantu astronom memahami lebih baik tentang bagaimana bintang kehilangan massa mereka dan bagaimana material yang dikeluarkan berinteraksi dengan medium antarbintang.
Keunikan suhu ekstrem di Nebula Boomerang juga menarik perhatian para ilmuwan yang mempelajari sifat termodinamika di ruang angkasa.
Fenomena pendinginan yang terjadi di nebula ini menawarkan peluang untuk mengeksplorasi fisika pada suhu yang mendekati nol absolut.
Nebula Boomerang adalah salah satu objek paling menarik dan unik di alam semesta.
Dengan suhu yang lebih rendah daripada latar belakang radiasi kosmik dan bentuk yang menyerupai bumerang, nebula ini menawarkan banyak informasi berharga bagi astronomi dan ilmu fisika.
Melalui pengamatan dan penelitian lebih lanjut, Nebula Boomerang terus mengungkap misteri tentang evolusi bintang dan proses-proses ekstrem yang terjadi di alam semesta. (Z-10)
Sabuk Orion terdiri dari tiga bintang superraksasa biru yang sangat terang. Alnitak, Alnilam, dan Mintaka bersinar hingga 200.000 kali Matahari.
Gerhana matahari cincin akan terjadi pada 17 Februari 2026. Simak fase, waktu puncak, lokasi pengamatan, dan alasan Indonesia tidak bisa menyaksikannya.
Gerhana Matahari total adalah salah satu pertunjukan langit paling menakjubkan yang bisa disaksikan manusia. Tapi ada kabar mengejutkan: fenomena itu tidak akan selamanya ada.
Penelitian terbaru mengungkap meteorit Mars Black Beauty menyimpan air purba jauh lebih banyak, memperkuat bukti Mars pernah basah dan layak huni.
Gerhana ini tidak aman untuk dilihat tanpa pelindung mata dengan filter matahari.
Fenomena Bulan yang perlahan menjauh dari Bumi dijelaskan secara ilmiah oleh pakar IPB University.
Gerhana Matahari total adalah salah satu pertunjukan langit paling menakjubkan yang bisa disaksikan manusia. Tapi ada kabar mengejutkan: fenomena itu tidak akan selamanya ada.
Sayangnya, Gerhana Matahari Cincin sempurna kali ini tidak melewati wilayah Indonesia dan hanya melintasi wilayah terpencil di Antartika.
Geminid dikenal menghasilkan meteor yang bergerak lebih lambat dan terkadang berwarna-warni. Fenomena ini dapat dinikmati dengan baik oleh pengamat di wilayah Asia Tenggara
Fenomena-fenomena ini dapat disaksikan di berbagai belahan dunia, termasuk sebagian wilayah Asia dan Indonesia untuk beberapa peristiwa.
Langit berwarna oranye pekat terlihat di sejumlah wilayah Jawa Timur dan sempat ramai diperbincangkan di media sosial.
Hujan meteor Geminid akan mencapai puncaknya pada malam 13-14 Desember 2025 (Sabtu-Minggu). Fenomena astronomi tahunan ini bisa disaksikan dari berbagai belahan duni
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved