Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
Hal itu sekaligus menunjukkan betapa bergantungnya Indonesia pada komoditas bahan baku utama meski diversifikasi ekspor telah dilakukan.
Sentimen eksternal yang memengaruhi pergerakan rupiah datang dari rilis laporan inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih tinggi dari konsensus.
Neraca perdagangan masih berlanjut surplus sebesar USD 3,35 miliar atau dengan melambat jika dibandingkan dengan realisasi bulan sebelumnya sebesar USD 3,89 miliar.
Salah satu hal yang mempengaruhi penurunan surplus neraca perdagangan adalah pertumbuhan ekspor secara bulanan yang diperkirakan akan terkontraksi.
Langkah tersebut bertujuan mendongkrak cadangan devisa negara. Kementerian/lembaga terkait masih melakukan pembahasan secara detil, agar aturan bisa dijalankan secara maksimal.
Surplus dagang tersebut ditopang oleh surplus neraca komoditas nonmigas yang mencapai US$6,83 miliar.
POLEMIK kebijakan pascapandemi, dan memanasnya konflik geopolitik menjadi faktor pembeda jika dibanding dengan pemicu krisis ekonomi sebelumnya, seperti pada 1998 dan 2008.
Meskipun neraca perdagangan terbukti telah mencatatkan surplus, Faisal menilai bahwa surplus perdagangan akan mengalami penyempitan ke depannya.
Capaian tersebut tumbuh 47,52% dibandingkan periode yang sama pada 2021. Bahkan, neraca perdagangan pada Januari-Oktober 2022 lebih besar dari total surplus pada 2021.
BPS mencatat nilai impor Indonesia periode Oktober 2022 mencapai US$19,13 miliar, yang terdiri dari impor migas sebesar US$3,36 miliar dan impor nonmigas US$15,77 miliar.
Neraca perdagangan Indonesia kuartal III 2022 tercatat surplus US$14,9 miliar. Ini dapat meredam capital outflow akibat penaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat atau The Fed.
Angka ini lebih besar dibanding era ledakan komoditas (boom commodity) pada 2010-2011.
Berkurangnya jumlah tenaga kerja dan produksi berimplikasi pada mengurangi jumlah perdagangan
IHSG ditutup menguat 16,59 poin atau 0,24% ke posisi 6.831,12. Kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 5,93 poin atau 0,61% ke posisi 972,67.
Kinerja impor secara tahunan (yoy) masih mencatatkan pertumbuhan positif. Dibandingkan capaian September 2021 sebesar US$16,23 miliar, impor pada September 2022 tumbuh 22,01% (yoy).
Nilai surplus dagang itu didapat dari realisasi nilai ekspor nasional pada September 2022 yang mencapai US$24,80 miliar. Itu lebih tinggi dari realisasi impor sebesar US$19,81 miliar.
Berdasarkan data BPS, neraca perdagangan per Agustus 2022 tercatat surplus, yakni sebesar US$5,76 miliar. Alhasil, Indonesia mencetak surplus selama 28 bulan berturut-turut.
Surplus neraca dagang itu terjadi lantaran nilai ekspor nasional tercatat masih lebih tinggi dari nilai impor.
BPS mencatat performa impor pada periode tersebut didorong kenaikan impor nonmigas sebesar 9,23%. Lalu, terjadi penurunan kinerja impor migas sebesar 16,92%.
Indeks Harga Saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (14/9) sore ditutup menguat didukung masih terus berlanjutnya surplus neraca perdagangan Indonesia.
Media Indonesia berusaha menghadirkan foto-foto eksclusive sehingga pembaca dapat melihat kejadian aktual dengan lebih baik
LOAD MORECopyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved