Headline

DPR minta agar dana tanggap darurat bencana tidak dihambat birokrasi berbelit.

Arsenal Siap-Siap Runner Up Lagi?

Dhika Kusuma Winata
19/2/2026 20:20
Arsenal Siap-Siap Runner Up Lagi?
Pelatih Arsenal, Mikel Arteta.(Dok. AFP)

UNTUK pertama kalinya dalam sejarah Liga Primer Inggris, tim pemuncak klasemen gagal mempertahankan keunggulan dua gol saat menghadapi juru kunci. Catatan negatif itu melekat pada Arsenal setelah ditahan 2-2 oleh Wolverhampton Wanderers di Stadion Molineux, Kamis (19/2) dini hari WIB.

Hasil tersebut bukan sekadar kehilangan dua poin tetapi memunculkan kembali keraguan soal kapasitas Arsenal dalam menjaga konsistensi pada momen krusial perebutan gelar. Bahkan, sebagian pendukung the Gunners mulai mempertanyakan mentalitas tim.

Sang pelatih Mikel Arteta yang biasanya tampil penuh keyakinan dalam membela tim asuhannya kini berbeda nada. Kali ini dia tampak terpukul.

“Kami harus menyalahkan diri sendiri,” ujar Arteta seperti dikutip Sky Sports.

Ketika Piero Hincapie menggandakan keunggulan Arsenal, pertandingan seolah berada dalam genggaman. Namun gol balasan Hugo Bueno mengubah arah permainan. Sejak saat itu, Arsenal gagal merebut kembali kendali.

Manajemen permainan Arsenal pada babak kedua menjadi sorotan utama. Wolves justru lebih dominan dalam penguasaan bola selepas jeda dengan mencatat 180 umpan sukses berbanding 163 milik Arsenal.

Statistik itu mencerminkan betapa Arsenal kehilangan kontrol dan membuat sejumlah keputusan tergesa.

Sepanjang babak kedua, Arteta beberapa kali terlihat menggelengkan kepala dan memberi isyarat kepada bangku cadangan. Ia meminta para pemain tetap tenang dan mengalirkan bola dengan sabar.

Ketika skema umpan pendek dijalankan dengan baik, Wolves dipaksa bergerak tanpa arah. Namun pola itu tidak konsisten dipertahankan. Arsenal membiarkan ritme laga berubah, dan itu menjadi titik balik yang merugikan. 

Ironisnya, upaya memperlambat tempo dan mengulur waktu baru terlihat di masa tambahan waktu. Langkah tersebut terkesan sebagai usaha panik untuk bertahan.

Kesalahan penjaga gawang David Raya dalam proses gol penyeimbang Wolves menjadi momen paling merugikan. Namun sepanjang babak kedua, Raya juga kerap tidak efektif dalam melepaskan bola panjang. Jika pada paruh pertama ia disiplin menjaga penguasaan bola, setelah turun minum Raya berulang kali kehilangan bola.

Masalah Arsenal tak berhenti di situ. Duet gelandang Martin Zubimendi dan Declan Rice yang diharapkan menjadi jangkar kontrol permainan, gagal menghadirkan stabilitas. Umpan-umpan diagonal mereka kerap melenceng.

“Penampilan di babak kedua sama sekali tidak mendekati standar yang dibutuhkan untuk menang di liga ini,” ucap Arteta. 

“Walau kami mencetak gol kedua, kami tidak pernah benar-benar menguasai dan mengendalikan pertandingan," ungkapnya.

Data menunjukkan akurasi umpan Arsenal merosot tajam. Jika pada 45 menit pertama tingkat keberhasilan umpan mencapai 87%, setelah jeda turun menjadi 76%.

Lini depan Arsenal yang dihuni Viktor Gyokeres juga menjadi sorotan. Bek Wolves, Santi Bueno, bahkan mencatat sentuhan di kotak penalti lawan lebih banyak daripada striker Arsenal. Hal itu memperlihatkan tumpulnya daya dobrak the Gunners.

Usai laga, nyanyian suporter Wolves yang meneriakkan 'second again' (runner up) terdengar jelas sebagai sindiran atas reputasi Arsenal sebagai tim yang kerap finis kedua.

Situasi sekarang ini membuka peluang bagi Manchester City untuk kembali mengambil alih kendali persaingan. Tim asuhan Pep Guardiola yang telah enam kali juara dalam delapan musim terakhir paham benar cara memanfaatkan momentum di fase akhir kompetisi.

Pertanyaannya, apakah Arsenal akan kembali tergelincir dan City menikung jelang akhir musim? Yang jelas, kegagalan mempertahankan keunggulan di Molineux menjadi alarm keras bagi the Gunners dalam perburuan gelar. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya