Headline

RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.

FIFA Berencana Cabut Sanksi untuk Rusia, Menpora Ukraina Tuding Gianni Infantino Kekanak-kanakan dan tidak Punya Empati

Basuki Eka Purnama
04/2/2026 09:06
FIFA Berencana Cabut Sanksi untuk Rusia, Menpora Ukraina Tuding Gianni Infantino Kekanak-kanakan dan tidak Punya Empati
Presiden FIFA Gianni Infantino.(AFP/NORBERTO DUARTE)

HUBUNGAN antara otoritas olahraga Ukraina dan induk organisasi sepak bola dunia, FIFA, kembali memanas. Menteri Olahraga Ukraina, Matvii Bidnyi, melontarkan kritik tajam terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino yang menyuarakan rencana untuk mencabut sanksi terhadap tim nasional dan klub-klub Rusia.

Sebelumnya, FIFA dan UEFA telah membekukan keanggotaan Rusia dari seluruh kompetisi internasional sejak Februari 2022, sesaat setelah invasi skala penuh ke Ukraina dimulai. 

Namun, di tengah konflik yang masih berkecamuk, Infantino justru menyebut kebijakan boikot tersebut tidak efektif.

"Larangan ini tidak membuahkan hasil apa pun. Ini justru menciptakan lebih banyak rasa frustrasi dan kebencian," ujar Infantino. 

Ia menambahkan bahwa mengizinkan anak-anak Rusia kembali bertanding di Eropa akan sangat membantu situasi global.

Terputus dari Realitas

Menanggapi pernyataan tersebut, Matvii Bidnyi menyebut sikap Infantino sangat tidak bertanggung jawab. 

Melalui unggahan di media sosial, ia menegaskan bahwa sepak bola tidak bisa dipisahkan dari tragedi kemanusiaan yang sedang terjadi.

"Kata-kata Gianni Infantino terdengar tidak bertanggung jawab—bahkan bisa dibilang kekanak-kanakan," tegas Bidnyi. "Pernyataan itu menjauhkan sepak bola dari kenyataan di mana anak-anak terus menjadi korban pembunuhan."

Bidnyi memaparkan data tragis bahwa sejak agresi dimulai, lebih dari 650 atlet dan pelatih Ukraina telah gugur, termasuk lebih dari seratus pemain sepak bola. 

Bagi Ukraina, mengizinkan Rusia kembali ke panggung internasional selagi perang berlangsung adalah bentuk pengkhianatan terhadap nilai keadilan.

"Perang adalah kejahatan, bukan politik. Selama Rusia terus membunuh warga Ukraina dan mempolitisasi olahraga, bendera dan simbol nasional mereka tidak memiliki tempat di antara orang-orang yang menghormati nilai integritas dan fair play," tambahnya.

Kritik dari Klub dan Sektor Lain

Senada dengan pemerintah, CEO Shakhtar Donetsk, Serhii Palkin, menilai FIFA sedang mencoba menutup mata terhadap kejahatan perang. 

Sebagai informasi, Shakhtar sendiri telah terusir dari markas mereka di Donetsk sejak 2014 akibat konflik di Donbas dan harus berpindah-pindah stadion selama 12 tahun terakhir.

"Sepak bola tidak bisa eksis di luar realitas dan tidak berhak menutup mata terhadap kejahatan. Keputusan seperti itu (mencabut sanksi) membawa tanggung jawab besar, termasuk tanggung jawab atas keterlibatan dalam membungkam kejahatan perang," ujar Palkin.

Ketegangan ini bukan yang pertama bagi Ukraina. Tahun lalu, mereka juga mengecam Komite Paralimpiade Internasional (IPC) yang sempat mencabut larangan bagi atlet Rusia dan Belarus. 

Meski larangan tersebut akhirnya dicabut, atlet dari kedua negara tersebut tetap dipastikan absen dalam Paralimpiade Musim Dingin mendatang karena federasi cabang olahraga terkait tetap mempertahankan sanksi mereka.

Hingga saat ini, Rusia masih dilarang tampil di ajang besar seperti Euro 2024 dan Piala Dunia 2026. 

Meski demikian, timnas Rusia tetap aktif melakoni pertandingan persahabatan melawan negara-negara non-Barat tanpa memerlukan izin dari FIFA maupun UEFA. (bbc/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya