Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Cukup Sekian Perjalanan Amorim

Dewan Redaksi Media Group Suryopratomo
09/1/2026 05:10
Cukup Sekian Perjalanan Amorim
Suryopratomo Pemerhati Sepak Bola(MI/Seno)

RUBEN Amorim, yang disebut-sebut sebagai penyelamat Manchester United, ternyata hanya diberi waktu 18 bulan untuk memimpin. Kegagalan untuk memberikan harapan bagi kebangkitan kembali ‘Setan Merah’ membuat manajemen Manchester United berkeyakinan bahwa tidak lagi ada harapan yang bisa digantungkan kepada pelatih muda asal Portugal tersebut.

Keputusan drastis pun diambil. Manchester United memilih menggantungkan harapan pada mantan pemain mereka, Darren Fletcher, untuk memimpin ‘Setan Merah’.

Jadwal yang harus dilewati Manchester United hingga dua pekan ke depan sangatlah terjal. Sabtu nanti mereka harus menjamu tetangganya, Manchester City. Setelah itu, Bruno Fernandes dan kawan-kawan harus bertemu Arsenal dan juga Tottenham Hotspur.

Dengan dua hasil imbang melawan Wolverhampton Wanderers dan Leeds United, Manchester United akan sulit mengimbangi tim-tim besar. Tidak ada kreativitas bermain yang bisa meyakinkan bahwa ‘Setan Merah’ merupakan klub papan atas yang pantas disegani.

Manajemen Manchester United berpandangan, lebih baik berharap pada orang yang masih bisa diharapkan daripada bergantung pada pelatih yang tidak bisa diharapkan. Enough is enough melihat sepak terjang Amorim yang tidak kunjung membawa konsistensi perbaikan dalam permainan tim.

Amorim, yang dinilai sukses membangun Sporting Lisbon, sejak awal mempunyai prinsip yang kuat. Ia meyakini pola kesukaannya, 3-4-3, merupakan pola terbaik yang bisa mengembalikan kebesaran ‘Setan Merah’.

Sayang Amorim hanya memegang prinsip dan melupakan realitas. Meski berulang kali pola itu tidak berjalan efektif, ia tidak mau menyesuaikan diri dengan tantangan yang harus dihadapi.

Akibatnya, penampilan Manchester United seperti roller coaster, yang naik turun secara cepat. Tiga puluh gol yang bersarang di gawang tim asuhannya dalam 20 pertandingan yang dimainkan, tidak juga menyadarkan Amorim bahwa pola tiga center-back yang ia terapkan tidak efektif.

 

MENYALAHKAN PEMAIN

Amorim cenderung menyalahkan pemain yang dianggap tidak disiplin dalam menjalankan strategi. Seperti pendahulunya, Erik ten Hag, pelatih asal Portugal itu senang berseteru dengan anak asuhnya.

Banyak pemain yang merasa tidak betah berada di Manchester United. Mereka pun memilih untuk pindah ke klub lain karena pelatih di klub baru tidak hanya bisa menyalahkan, tetapi merangkul dan menyuntikkan kepercayaan diri.

Begitu banyak pemain yang memilih hijrah, dan ironisnya malah menampilkan permainan terbaik di klub baru mereka. Marcus Rashford, misalnya, menjadi pemain andalan baru bagi Barcelona. Sebelumnya bintang jebolan Akademi Manchester United itu bersinar juga di Aston Villa.

Prestasi yang sama ditorehkan oleh Scott McTominay. Di musim lalu, gelandang asal Skotlandia itu membawa Napoli menjadi juara Seri A dan bahkan terpilih sebagai pemain terbaik Liga Italia.

Masih ada Alejandro Garnacho yang kini bersinar di Chelsea. Adapun pemain yang dibeli mahal dari Borussia Dortmund, Jadon Sancho, kini masih dipinjamkan ke Aston Villa yang menempati peringkat tiga klasemen Liga Primer.

Suasana yang tidak menyenangkan di dalam tim membuat banyak pemain merasa frustrasi. Gelandang muda berbakat, Kobbie Mainoo, sudah berulang kali menyatakan keinginannya untuk pindah ke klub lain.

Ketidakmampuan Amorim untuk memberikan penjelasan yang rasional membuat pemain muda akhirnya meledak. Ketika kekesalan itu diekspresikan keadaan menjadi bertambah buruk karena Amorim merespons secara ‘otoriter’.

 

KASUS GARNACHO

Keputusan Manchester United memecat Amorim memunculkan kembali konflik yang pernah dialami Garnacho. Penyerang sayap muda asal Argentina itu mempertanyakan keputusan Amorim untuk memainkan dirinya hanya 20 menit saat final Liga Eropa musim lalu.

“Sejak pertandingan pertama, saya selalu menjadi starter sampai membawa Manchester United melaju ke final. Tetapi entah mengapa ketika di final, pelatih hanya memberi kesempatan saya bermain selama 20 menit,” kata Garnacho.

Ia merasa yakin, kalau diberi kesempatan lebih lama bermain di final ketika itu, banyak yang bisa dikontribusikannya. Bukan mustahil ‘Setan Merah’ bisa mengalahkan Tottenham Hotspur untuk menjadi juara.

Pernyataan Garnacho ketika itu memancing kemarahan Amorim. Penyerang muda tersebut dianggap sudah memberikan komentar di luar batas kepada media. “Dia mengakui kesalahan yang diperbuat. Sebagai hukumannya, ia harus membayar makan malam untuk seluruh anggota tim,” kata Amorim ketika itu.

Suasana yang tidak kondusif seperti itu tidak mungkin terus dibiarkan sehingga keputusan keras harus diambil. Secara finansial pihak Manchester United memang wajib membayar kompensasi kepada Amorim sebesar 10 juta pound sterling.

Namun, risiko itu tetap dipilih karena secara bisnis Manchester United masih baik. Di musim lalu, misalnya, pendapatan yang diperoleh ‘Setan Merah’ mencetak rekor baru yakni mencapai 666,5 juta pound sterling.

Kalau Manchester United bisa konsisten menjaga penampilan, apalagi mencatat kemenangan, pendapatan musim ini masih bisa meningkat. Penggemar ‘Setan Merah’ di seluruh dunia sangat besar dan mereka menunggu kembalinya kejayaan tim kesayangan.

Harapan untuk setidaknya menembus kompetisi Eropa musim mendatang masih terbuka. Dengan berada di peringkat ketujuh, tiket untuk itu masih bisa didapatkan sepanjang 17 pertandingan yang tersisa bisa membawa poin maksimal bagi ‘Setan Merah’.

Termasuk Sabtu malam saat menjamu the Citizens. ‘Setan Merah’ membutuhkan suasana baru, semangat baru, pendekatan baru untuk bisa mengimbangi tim asuhan Josep Guardiola. Harapan itu kini dipikulkan kepada pundak Fletcher, yang pada penampilan perdananya Rabu lalu hanya bisa membawa tim asuhannya bermain Imbang 2-2 melawan Burnley.

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Riky Wismiron
Berita Lainnya