Puisi Tak Pernah Selesai Ditulis 

DALAM perpuisian Rusia, pernah ada seseorang yang begitu bersinar. Ia dikenal luas sebagai tokoh yang menggunakan bahasa sehari-hari atau nonformal dalam menulis puisi-puisinya. Namanya tergores abadi dalam sejarah sebagai penyair realis Rusia. 

Kehadiran sang penggagas lirik pemberontak itu pernah mengguncang dunia sastra Eropa Timur abad ke-19. Ia memberikan pengaruh penting dalam kehidupan masyarakat sipil. Menggaungkan geliat puisi "baru" dari Saint Petersburg, sebuah kota yang pernah dijuluki 'Belanda dari Utara'. 

Adalah Nikolai Alekseevich Nekrasov. Ia lahir pada 28 November 1821 di Nemirov, Ukraina (dahulu: Kekaisaran Rusia) dalam sebuah keluarga bangsawan yang miskin. Ketika Nekrasov berusia lima tahun, keluarganya pindah ke perkebunan leluhur di provinsi Yaroslavl, kota yang terletak di sebelah utara Rusia. 

Ayahnya ingin menugaskannya masuk ke dinas militer, tetapi penyair masa depan itu keras kepala. Nekrasov muda malah masuk ke Universitas Negeri Petersburg. Konsekuensi yang harus ia terima, yaitu kehilangan dukungan finansial dari keluarga. 

Selama beberapa tahun, Nekrasov muda hidup dalam kemiskinan.

Ia hanya cukup uang untuk makanan saja. Didapatkannya lewat menulis di berbagai surat kabar umum dan majalah sastra. Ia pun terpaksa harus tinggal di tempat penampungan bagi orang-orang miskin. 

Nekrasov bergabung dan bergiat di komunitas sastra selama di Petersburg. Ia menulis artikel, vaudeville, dan sajak. Vaudeville sendiri adalah suatu jenis pertunjukan pusparagam yang berkembang di Amerika Utara dan Eropa Timur, kira-kira pada 1880 sampai 1920-an. 

Kumpulan puisi pertama Nekrasov ialah Mimpi dan Suara. Pertama kali diterbitkan pada 1840. Pada tahun yang sama, ia menjadi karyawan Otechestvennye Zapiski, sebuah majalah sastra ternama Rusia, terbit setiap bulan antara 1818 sampai 1884. 

Nekrasov kian menekuni diri sebagai penulis profesional. Pengaruh kuat barulah terjadi saat ia berkenalan dengan Vissarion Belinsky, seorang kritikus sastra ternama saat itu. Diskusi dan debat pun sering terjalin secara intensif. Belinsky banyak mengkritisi sekaligus menyanjung karya rekanannya. 

Sebagai seorang penyair, Nekrasov terbilang berani. Pada awal 1847, ia merapat ke penyair berduit Ivan Pletnev (1792-1866). Kedua pun sepakan membeli majalah Sovremennik. Bisnis penerbitan pun mereka jalankan. Nekrasov menarik sejumlah kritikus dan penulis terkenal untuk bergabung sebagai tim editorial. Sayang, pada 1866 majalah itu ditutup. 

Dua tahun kemudian, Nekrasov kembali membeli majalah Otechestvennye Zapiski. Ia gesit melanjutkan kegiatan penerbitannya. Di situlah, ia melahirkan kumpulan puisi Siapa yang Hidup Baik di Rusia? Karya tersebut semacam generalisasi refleksi tentang nasib rakyat Rusia. 

Baca juga: Sajak-sajak Acep Zamzam Noor

Baca juga: Sajak-sajak Stevie Alexandra

Berawal dari Mimpi dan Suara 

Sebagaimana lazimnya sebuah buku puisi pertama penyair muda adalah fenomena yang sering dianggap sebagai peniruan. Kumpulan puisi Mimpi dan Suara tidak terkecuali diejek. Puisi-puisinya mendapatkan pengaruh kuat dari puisi romantis. Khususnya, turunan karya penyair terdahulu Vasily Zhukovsky (1783-1852). 

Antologi puisi tersebut mengalami nasib tidak terlalu menguntungkan. Pendapat tentang bakat puitis Nekrasov terbagi. Sebagian generasi tua melihat kehadiran Nekrasov laksana berkah sekaligus ancaman bagi penyair seusianya dalam dunia penerbitan. 

Meski demikian, salah satu puisi Nekrasov dalam Mimpi dan Suara, yaitu berjudul Si Roh Jahat begitu diperbincangkan ramai. Plot dan gayanya sangat memberontak. Mungkin relevan 15 atau 20 tahun kemudian, tetapi tidak pada 1839 saat puisi itu ditulisnya. Berikut saya coba untuk menerjemahan sajak Si Roh Jahat. Ini dilakukan tanpa menghilangkan simbol, pesan, dan makna. 

Iblis, si roh jahat, 
Bagaimana kau bisa menyelinap dalam jiwaku? 
Kenapa selalu ada di setiap bubungan malam? 
Di sini, kau sendirikah bersamaku? 
Tak ada salam terpancar dari bola matamu, 
Serupa tetua yang baru saja mati 
Menampakan bongkahan es tanpa nafsu di wajah, 
Mengenakan kegembiraan yang semu, - 
Hanya kesenangan jahanam 
Begitu girang sampai tertawa ngakak 
Mulut komat-kamit, tak mau menjawab 
Kau membuatku paham: 
“Panggil nama, demi penghormatan tulus 
Aku datang!.." 
        Begitu munafik 
Kau menjaga jiwa ini. 
Menjelma hembusan angin, saat musim gugur tiba, 
Terbang di atas kepala bertudung gelap gulita 
Dan menuangkan racun kegembiraan 
Di jantung dingin. 
Sungguh dahsyat, mengerikan kata-kata! 
Seringkali aku mendengar suara-suara aneh, 
Dari pertemuan-pertemuan sepi yang baru terlewati 
Mengendap di jiwa ini, buat pikiran suram. 
Kau menggoda dan membawa bahaya 
Roh-roh mengelilingi jiwaku 
Ragu-ragu tuk memberontak 
Kau menetap ke jantung yang murni. 
Segala sesuatu kau pikat pemuda-pemudi 
Kecemerlangan dan keindahan jadi menakjubkan, 
Tanpa sadar pada apa yang terpesona 
Di alam pikiran dan mimpi, - 
Kau tertawa di balik topeng 
Bercahaya suguhkan segudang pengalaman, 
Lukisan hitam menyiratkan makna 
Kejahatan, penderitaan, kesedihan, dan permasalahan 
Bersemayam di penjara bawah tanah yang pengap; 
Mengganggu anak-anak tak bersalah, 
Lalu meninggalkan mereka seketika 
Membawa kekuatan sihirmu - 
        Jangan pernah menolakku! 

(1839) 

Lewat puisinya, Nekrasov muda menuai bulan-bulanan kritik. Walau demikian, ia tetap tenang dan kreatif. Kritikan nyatanya menjadi salah satu penyemangat. Malahan membawanya kian dikenal luas sebagai tokoh penyair realis utama yang disegani di masanya. 

Nekrasov menulis sikapnya terhadap Mimpi dan Suara. Ia sedikit merasa kecewa. Akhirnya, mengumpulkan semua salinan. Menghancurkan sebagian besar karyanya. Nekrasov sempat menolak ajakan teman-teman untuk menulis karya-karya yang liris dan lembut dalam syair. Malahan, ia melanjutkan penulisan ke tema sipil. 

Penyair sipil 

Selama kehidupan Nekrasov di lingkungan pembaca, puisinya terkadang dihargai lebih tinggi daripada puisi Alexander Pushkin atau Mikhail Lermontov. Mungkin saja, alasannya dikarenakan kesedihan sipil dari lirik Nekrasov yang begitu kuat dan kental. 

Puisi-puisi cinta Nekrasov benar-benar jauh dari "kelembutan". Ia selalu menghadirkan drama pemberontakan. Cinta bagi penyair adalah nilai utama dalam kehidupan manusia, namun berbeda dengannya. Tengok saja puisi berjudul Kita Orang Dungu. Saya alih-bahasakan tanpa menghilangkan simbol dan gaya. 

               * * * 
Kita orang dungu: 
Tunggu sebentar, kilat nanti sambar! 
Relief mengendapi dada yang gelisah,
Kata kasar membuncah tak masuk akal. 

Bicaralah seperlu saja saat kau sedang marah
Segala sesuatu 'kan menggairahkan dan menyiksa jiwa!
Mari sahabatku, meruaklah biar membuncah:
Dunia lebih mudah - tak perlu jengah. 

Jika prosa cinta tak bisa dihindari, 
maka ambilah sepenggal kebahagiaannya saja: 
Setelah pertengkaran melambung tinggi, biarkan mereda lembut 
Kembalikan cinta dan resapkan, sayang... 

(1851) 

Puisi Nekrasov di atas secara singkat menggambarkan esensi hubungan antara Nekrasov dan Avdotya Panaeva. Mereka hidup dalam ikatan tali pernikahan selama hampir dua puluh tahun. Akibatnya, siklus Panaeva pun terbentuk dari puisi cinta. Selalu dramatis, penuh kesedihan, dendam, sakit hati, dan air mata. 

Kebaruan lirik cinta Nekrasov menggambarkan apa yang tidak pernah tercermin dari puisi lirik sebelumnya. Tema yang selalu ia tuangkan, seperti pertengkaran, keluarga, dan kehidupan. 

Nekrasov berhasil menyampaikan transisi secara akurat. Terutama, dari perasaan yang kuat ke perasaan yang samar-samar. Akhirnya, sang penyair masuk ke perasaan yang begitu memudar. Tengok saja puisi berjudul Saya Tak Suka Ironimu di bawah ini. Saya terjemahkan sajak ini secara sederhana saja. 

              * * *
Saya tak suka ironimu 
Biar saja tersapu zaman dan sirna 
Kau dan aku, begitu saling mencintai,
Masih ada perasaan tuk disimpan saja, - 
Terlalu dini bagi kita untuk menikmatinya! 

Saat masih malu-malu dan lembut 
Apakah kau ingin memperpanjang usia? 
Sementara tubuhku membuncah tuk berontak 
Kecemburuan dan kecemasan bercampur mimpi 
Jangan terburu-buru sebab kesudahan tak terelakkan! 

Ironimu tak 'kan lekang, tanpa semuanya: 
Lebih kuat mendidih daripada haus tumpah ruah, 
Meski dalam hatimu ada rahasia elegi dan rindu... 
Sungai lebih bergejolak saat musim dingin 
Namun amuk ombaknya syahdu nan tenang... 

(1850) 

Nekrasov berhasil memperbarui puisi liris Rusia. Ia menguraikan di dalamnya garis murni secara dramatis. Hal ini ditandai dengan kehalusan emosional, perhatian yang terperinci, dan puisi sederhana tentang kehidupan sehari-hari. 

Ia juga memperluas kemungkinan bahasa puitis. Termasuk, dalam lirik plot-narasi awal dalam karyanya. Sebut saja Di Jalan, memuat elemen puitik yang terdapat dalam kumpulan puisi Resmi (1844), dan tradisi esai fisiologis dalam kumpulan puisi Pemabuk (1845). 

Nekrasov sangat menguasai cerita rakyat Rusia. Ia memperkenalkannya ke dalam puisi modern. Menggunakan kecenderungan ritme dan intonasi lagu. Menggunakan anafora, paralelisme, pengulangan, dan ukuran tiga suku kata "berserabut" (dactyl dan anapesta) dengan sajak verbal. Ia juga tak luput menggunaan hiperbola cerita rakyat. 

Nekrasov secara luar biasa memperluas jangkauan gaya puisi Rusia. Ia menggunakan bahasa sederhana, ungkapan rakyat, dan dialektisme. Tidak sampai di situ, ia sangat berani memasukkan gaya bicara sehari-hari ke dalam dunia jurnalistik. Menggunakan kosa kata puitis, mulai dari gaya oratoris-sedih sampai dengan parodi-satir. 

Perjalanan dalam dunia perpuisian dan penerbitan membuat Nekrasov kian bersinar sebagai sosok penyair sipil mapan. Pada 1875, Nekrasov didiagnosis menderita kanker usus. Dua tahun kemudian penyair itu berpulang untuk selamanya. 

Ribuan orang mengikuti prosesi penghormatan terakhir bagi Nekrasov di Tempat Pemakaman Novodevichy. Mereka mengantar peti matinya dengan penuh kehilangan. Puisi tak pernah selesai ditulis. Menapaki tema sipil semacam kemampuan beradaptasi dengan perasaan amis, magis, dan pedis. (SK-1) 


Baca juga: Tersentak Reog oleh Abdul Kohar

Baca juga: Sajak-sajak Putri Sekar Ningrum

Baca juga: Sajak Kofe, Warung Puisi Pascakontemporer Indonesia

 

 

 

 

Iwan Jaconiah, penyair, esais, wartawan Media Indonesia dan Metro TV. Peraih Beasiswa Unggulan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI (2015) dan Beasiswa Penuh Pemerintah Rusia (2015). Ia adalah pesastra Indonesia pertama peraih Diploma of Honor Award pada helatan X International Literary Festival "Chekhov Autumn-2019" di Yalta, Republik Krimea, Federasi Rusia. Buku terbarunya kumpulan puisi Hoi! (Terbit Press, 2020).