Sajak-sajak Acep Zamzam Noor 

Gema Tanpa Sahutan 

Sebuah perahu 
Mengambang di sungai 
Tanpa nama. Sulur-sulur pohon 
Rambut bagi keheningan

Sebuah muara 
Tergambar di kejauhan 
Seperti pintu. Arus tanpa riak 
Gema tanpa sahutan 

Sebuah jarak 
Cahaya yang perlahan redup 
Di ufuk barat. Antara dua tebing 
Pandangan terhalang kabut 

Sebuah batas 
Tercipta dari kehilangan 
Yang membekas. Menjelang senja 
Surya entah beranjak ke mana 

2020 


Setiap Mendengar 

Setiap mendengar 
Kokok ayam yang pertama 
Aku paham bahwa subuh adalah saat 
Di mana kita khusyuk merindu 

Setiap memandang 
Gunung yang tertutup awan 
Aku menduga bahwa keterpisahan kita 
Hanya sejauh jarak mendung dengan hujan 

Setiap mengingat 
Rembang yang memancarkan sinar 
Aku percaya bahwa bintang-bintang di langit 
Semuanya berasal dari pantulan hatimu 

2020 


Tugas Penyair 

Puisi menugaskanmu untuk selalu siaga 
Mengamati setiap gerak angin dan getar udara 
Yang sering kali tak pernah tersimak telinga 

Puisi menugaskanmu untuk selalu terjaga 
Memaknai setiap putik daun dan bulir embun 
Yang terkadang luput dari tangkapan mata 

Puisi menugaskanmu untuk selalu peka 
Mendengar kata-kata yang tak diucapkan mulut 
Namun getarannya langsung menembus dada

2018 


Gugusan Mega 

Dalam kebisuan kudengar senandung 
Yang dihempaskan ombak ke arah tanjung 
Remang kabut menyelimuti udara dan cuaca 
Membuat sampanku terlena. Dengan nanar 
Kulepas fajar berlabuh pada gugusan mega 
Dan pandanganku menemukan ujungnya 

Dalam kediaman kusenandungkan lagu 
Namun suaraku terlindas gemuruh angin 
Titik-titik lampu di pantai semakin memudar 
Ketika subuh memamerkan lukisan cahaya 
Di ufuk yang jauh. Sebuah garis membentang 
Batas yang sekian lama memisahkan kita 

2018 


Dilipat Waktu 

Membuka lembar-lembar almanak 
Tampak tahun-tahunku yang panjang 
Dilipat waktu dalam satu helaan napas 
Perpisahan telah menggulirkan air mata 
Hingga gelas di atas meja menjadi segara 
Yang menampung kesedihanku. Kau tahu 
Aku melewati pagi tanpa celoteh burung 
Semerbak kopi hanya kusesap sendiri 

Kehilangan adalah seekor rama-rama
Yang terbang meninggalkan kepompong
Namun kepaknya masih jelas kedengaran
Sebagai gaung dari suatu masa yang lampau
Bernama jarak. Aku hayati kesementaraan
Lewat permukaan segara yang berombak
Di mana ikan-ikan bagai kelebat ingatan
Yang bergerak di antara ada dan tiada

2018 


Menjadi Mawar 

Cinta telah menitipkan setangkai duri 
Untuk kuterjemahkan menjadi mawar 
Cinta menggulirkan setetes embun pagi 
Untuk meneguhkan hatiku yang gemetar 
Lalu tanganku bergerak menuliskan puisi 
Yang disampaikan surya lewat sinarnya 

Cinta telah mengirimkan sepucuk surat 
Untuk kuselami maknanya bersama senja 
Cinta menghempaskan ombak ke tengah selat 
Untuk mengusik kerinduanku yang lama reda 
Lalu langkahku beranjak menuju kaki langit 
Di mana semua warna lebur menjadi sepi

2018 


Amanat Galunggung

Kuikuti langkah kabut yang samar di antara deretan pinus 
Daun-daun yang runcing nampak berserakan di atas tanah 
Siang terasa lain dengan bulir-bulir embun yang masih lekat
Pada kulit pohon. Galunggung bagaikan kitab yang terbuka

Dinding-dinding di sekeliling kepundan gunung seakan
Menunjukkan bahwa magma adalah rindu yang disimpan 
Dan akan terus disimpan waktu. Ketika menengok ke bawah
Permukaan telaga tampak hijau di tengah putihnya belerang   

Di sini aku ingin belajar pada kelembutan kabut yang bergerak
Tanpa mengusik. Aku ingin berguru pada gunung yang tahan
Menyimpan dan merawat kerinduannya bertahun-tahun
 
Aku ingin belajar pada kesabaran magma yang tahu kapan
Saatnya harus bicara. Aku ingin berguru pada ketulusan rindu
Yang tak pernah berontak pada waktu yang memendamnya

2016 


*] Catatan redaksi: Sajak Amanat Galunggung merupakan sebuah karya yang dibacakan secara hybrid dalam rangka Indonesia Sejati: Festival Bahasa dan Sastra 2021. Sajak tersebut menjadi bagian dalam Indonesia Berpuisi dan Lelang Puisi yang digelar Media Indonesia di Grand Studio Metro TV, Kedoya, Jakarta Barat, Jumat (29/10). 

 

 

 

 

Acep Zamzam Noor, penyair nasional. Dia dilahirkan di Tasikmalaya, Jawa Barat, pada 28 Februari 1960. Pada 2001, kumpulan puisinya Di Luar Kata, meraih Penghargaan Penulisan Karya Sastra dari Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional. Pada 2005, ia memperoleh The SEA Write Awards dari Kerajaan Thailand sebagai wakil pengarang Indonesia dengan kumpulan sajaknya Jalan Menuju Rumahmu. Kini, dia bergiat di Sanggar Sastra Tasik (SST) dan Komunitas Azan. Ilustrasi oleh Artur Saryan, pelukis berkebangsaan Armenia berdomisili di Moskwa, Rusia.