Sajak-sajak Acep Zamzam Noor

Balohan

Kepergianku mungkin angin lalu 
Angin yang berasal entah dari mana 
Mengalir entah ke mana. Kepergianku 
Sekedar goresan pada lapisan udara 

Aku mengikuti saja ke mana perahu 
Harus melaju. Menghayati setiap detik 
Yang berdetak di kedalaman waktu 
Menghitung napas satu demi satu 

Kepergianku mungkin resonansi 
Dari kerinduan yang pecah di utara 
Memantul ke selatan. Kepergianku 
Hanya gema yang terbawa angin lalu 

 

Ulee Lheue 

Di dermaga yang tiangnya selalu bergetar 
Aku melihat seekor burung terbang sendiri 
Dari sebuah pohon besar. Langit diam dan bisu 
Sedang ufuk semakin kabur dalam tatapanku 

Di atas perahu yang membelah keheningan 
Suara air terdengar seperti napas seorang ibu 
Yang menyusui anaknya. Senja penuh awan 
Mengingatkanku pada makna kehilangan 

Sebuah pulau mungkin tengah menunggu 

Tapi entah siapa yang ditunggu. Seekor burung 
Seperti juga ikan tak pernah mempersoalkan  
Ke mana akan menuju. Ke mana harus kembali 

Di atas perahu yang menembus keremangan 
Aku dihantui pertanyaan lama. Semakin tak tahu 
Bagaimana menghayati sunyi seperti halnya burung 
Menghayati udara. Atau ikan menyelami segara 


Lampuuk  

Jejak waktu bagai bongkahan batu gamping 
Yang tertimbun pasir. Aku membayangkannya 
Ketika ombak bergerak lamban mendekati ufuk 
Lalu cahaya mengaburkan garis laut dan langit 

Suara azan magrib sayup terdengar dari utara 
Yang mengirimkan derau halus ke arah selatan 
Sendiri aku berjalan menyusuri lengkung pantai 
Menghayati buih-buih ombak yang berkejaran 

Sendiri aku mengumpulkan lokan dan teripang 
Menyerap sisa warna yang dipantulkan rembang 
Dari langit. Ketika matahari menenggelamkan diri 
Tubuhku melayang dalam pusaran angin sakal 

 

Iboih  

Dari ketinggian bukit aku memandangmu 
Seperti kembali merasakan kepedihan di dada 
Cinta yang terbuang selalu membutuhkan pantai 
Untuk bersandar. Jejak telah demikian panjang 
Sebagai penanda bagi kehilangan demi kehilangan 
Ketika teluk dan tanjung terpisah oleh sengketa 

Aku memandang biduk-biduk yang terlunta 

Serpihan-serpihan awan mengambang di udara 
Abad-abad terus berganti tanpa akanan yang pasti 
Lalu meredup bersama senja. Cinta mungkin kutukan 
Bencana demi bencana telah mengekalkannya 
Dan gelombang adalah persembunyianmu yang abadi 


Rubiah  

Di suatu pagi angin bertutur padaku 
Tentang burung-burung migran yang lupa 
Akan jalan pulang. Tentang para pengungsi 
Yang terusir oleh gempa dan gelombang besar 
Tentang puing-puing yang menyisakan cerita 
Juga anak-anak yang hanyut terseret arus 

Di suatu siang angin bertutur padaku 
Tentang gunung-gunung yang habis dikeruk 
Segala kandungannya. Tentang lubang-lubang gelap 
Tentang hutan belantara yang tinggal dongengan 
Keserakahan telah merampas semuanya tanpa sisa 
Juga makam leluhur yang entah menjelma apa 

Di suatu senja angin bertutur padaku 
Tentang seorang nelayan yang pergi melaut 
Dan menyongsong maut. Tentang hikayat-hikayat 
Yang dicatat sepanjang pelayarannya melintasi batas 
Tentang nubuat-nubuat yang membuatnya tersedu 
Juga cinta lama yang mendatangkan bencana 
 

 

Acep Zamzam Noor, penyair dan pelukis. Dia dilahirkan di Tasikmalaya, Jawa Barat, 28 Februari 1960. Pada 2001, kumpulan puisinya Di Luar Kata, meraih Penghargaan Penulisan Karya Sastra dari Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional. Pada 2005, ia memeroleh The SEA Write Awards dari Kerajaan Thailand sebagai wakil pengarang Indonesia dengan kumpulan sajaknya Jalan Menuju Rumahmu. Kini, dia bergiat di Sanggar Sastra Tasik (SST) dan Komunitas Azan. Ilustrasi MI/Gugun Permana.