Sajak Kofe, Warung Puisi Pascakontemporer Indonesia 

KOFE, sebuah adjektiva. Perlahan ia hampir dilupakan generasi muda. Pun, tak tercatat dalam literatur sejarah pelayaran bangsa Tiongkok, India, dan Eropa berabad-abad silam saat menapak jalur rempah di timur Indonesia. 

Kata kofe memang biasa saja. Namun, bagi saya, ada unsur mantra di dalamnya. Terngiang di ingatan-ingatan lampau, memori kolektif semasa kecil di penghujung 80-an. 

Ia menjadi bagian tak terpisahkan dari sebuah masyarakat adat Dawan di Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Desa di tanah berbatu marmer dan wangi cendana yang pudar yang  saya tinggalkan. 

Tanah Pasundan pun jadi tempat berlabuh untuk sekadar menempuh pendidikan tinggi di Universitas Padjadjaran pada 2001. Selepas tamat dari sana, saya pun mengarungi dunia pers. Menapak karier bersama harian Media Indonesia pada 2007. 

Bandung menjadi tempat saya bekerja dan berkarya sebelum hijrah ke Jakarta pada 2008. Pada Oktober 2015, saya pun pamit baik-baik untuk mengais ilmu ke negeri Rusia. 

Setelah fase pertama di Bandung, fase baru pun saya jalani di Moskwa (lebih sering ditulis Moskow, Moskva, Moscow). Itu adalah tanah kelahiran penyair agung A S Pushkin. 

Suasana perpuisian di sana begitu terasa. Mempertemukan saya dengan berbagai watak orang-orang baik. Bergaul bersama sejumlah komunitas sastra. Berceloteh dalam bentuk bahasa yang tertata dan cermat di kafe-kafe Moskwa terasa berbeda. 

Juga menjadi pembicara di seminar-seminar kebudayaan yang diadakan oleh Persatuan Nusantara Moskwa. Semua memberikan pengetahuan berharga. Meskipun demikian, akar asal-usul seorang Dawan tetap menjadi pedoman. 
 
Di fase baru itulah saya banyak mendengar cerita dan kisah. Perihal dua sosok penting dalam kesusastraan Indonesia eksil, yakni penyair R Intojo (1912-1971) dan sastrawan Utuy Tatang Sontani (1920-1979). 

Saya mengenal dekat keluarga besar Intojo di Moskwa. Banyak kisah riang saya dapat dari keluarga itu. Sosok R Intojo, penyair cum profesor, yang bersinar di zaman Pujangga Baru. 

R Intojo mengajar bahasa Indonesia di MGIMO (Institut Hubungan Internasional Negeri Moskwa) pada 1956. Itu terjadi tiga pekan setelah kunjungan resmi pertama Presiden Sukarno ke Uni Soviet. 

Surat kuasa R Intojo ditandatangani langsung oleh Bung Karno dan Perdana Menteri Nikita Khrushchev. Sekaligus menandai tonggak awal bahasa Indonesia melepas diri dari bahasa Melayu. 
 
Jejak sajak 

Sejatinya, saya mulai mengenal dunia perpuisian Indonesia saat tinggal di Bandung. Atmosfer kota itu yang dingin dan asri. Ditambah lagi keramahan penduduknya, membuat siapa pun akan merasa nyaman. 

Saya membaca karya-karya terbaik sejumlah penyair dari sana. Sebut saja Wing Kardjo (1937-2002), Gerson Poyk (1931-2017), Sutardji Calzoum Bachri, Acep Zamzam Noor, Medy Loekito, Kyai Matdon, dan Remy Sylado. 

Dalam sebuah kesempatan, saya bertemu Remy pertama kali di sebuah diskusi novelnya yang berjudul Ca Bau Kan di Bandung pada 2002. “Anda dari Flores?” tanya Remy. “Tidak, Timor,” jawab saya, tempo itu. 

Dunia sastra pun sebenarnya sudah saya kenal sejak sekolah di Soe, kota kecil yang dingin dan sejuk di Timor. Walau di pelosok, orangtua menyediakan aneka bacaan. Mulai dari buku berbahasa Indonesia, Belanda, Inggris, Ibrani, Portugis, hingga Jerman. 

Kebetulan, opa saya mahir berbicara bahasa Belanda dan sedikit Portugis. Ia seorang mantri hewan. Opa berpulang ke pangkuan Sang Khalik bertepatan saat saya mengunjungi makam sastrawan Leo Tolstoy di Yasnaya Polyana pada musim dingin 2019 lalu. 

Dari opa, saya mendapatkan banyak petuah. Buku asing pertama yang saya baca adalah Three Musketeers (Les trois mousquetaires). Sebuah novel petualangan sejarah karya Alexandre Dumas (1802-1870), seorang dramawan dan penulis Prancis. 

Isi novel Three Musketeers masih lekat di kepala saya. Mengisahkan petualangan seorang bangsawan muda bernama d'Artagnan. Dia pergi ke Paris antara 1625 dan 1628 untuk menjadi musketeer, semacam penembak jitu. 

Ia memiliki tiga sahabat, yaitu Athos, Porthos, dan Aramis. Kisah tokoh d'Artagnan berlanjut dalam dua novel lain dalam sebuah trilogi, yakni Twenty Years Later dan The Viscount de Bragelon (Ten Years Later). 

Adapun novel karya sastrawan Indonesia pertama yang saya baca adalah Atheis. Satu karya hebat yang ditulis oleh Achdiat Karta Mihardja pada 1949 dan diterbitkan oleh Balai Pustaka. 

Setelah puluhan tahun pun, karya Dumas dan Achdiat masih diperbincangkan. Terus dibaca hingga kini. Itu memberi pemahaman penting bahwa membaca karya sastra serupa cara menengok masa lalu untuk melangkah ke masa depan. 

Kini, kata kofe seakan bernapas dan bernyawa kembali. Saya menggunakannya karena membawa nostalgia manis dan sukacita. Kenangan saat mendengar cerita mengenai gigi yang goyang, dililit benang, lalu dicabut secara spontan. Duh! 

Secara etimologis, kata kofe berasal dari bahasa Atoin Meto. Digunakan oleh penutur suku Dawan. Penyebarannya dari Soe, Kupang, Kefamenanu, sampai Oekusi, eksklave kecil di bagian barat Negara Demokratik Timor Leste. 

Kata kofe sendiri berarti kondisi awal gigi balita yang tumbuh pertama kalinya. Ia kemudian goyang dan jatuh sehingga terlihat ompong. 

Dalam tatanan kultural Dawan, balita ompong membawa keceriaan dan kebahagiaan di rumah tangga. Seiring berjalannya waktu, gigi baru pun akan tumbuh perlahan. Sebuah siklus kehidupan. 

 

Sama bunyi, beda arti 

Intonasi pelafalan dan bunyi kata kofe mirip sekali dengan kata kofe dalam bahasa Rusia. Meski begitu, artinya beda. Dalam bahasa Rusia kofe berarti kopi. 

Nah, kata kofe sebagaimana diucapkan akan terdengar mirip juga dalam bahasa-bahasa lain. Contoh, kaffe dalam bahasa Norwegia. Pun café dalam bahasa Portugis. 

Dalam ritus kofe masyarakat Dawan, ada kepercayaan halaik. Jika gigi atas tanggal, harus ditanam di sekitar pekarangan rumah. Sebaliknya jika gigi bawah yang luruh, harus dilempar ke atap rumah. 

Senyum kofe seorang balita selalu terlihat lucu dan gecul. Siapa pun anggota keluarga yang melihat si balita, pastilah ingin buru-buru menyentuh, mencium, dan memeluknya. Suasana pun jadi lebih cair. 

Pemilihan ‘Sajak Kofe’ sebagai nama ruang apresiasi puisi di Media Indonesia daring bukan kebetulan. Pertama, sebagai upaya mengangkat kembali khazanah kata lokal dari kawasan timur Indonesia yang mulai ditinggalkan. 

Kedua, sebagai ruang kreatif menampung karya para penulis, baik di dalam negeri maupun diaspora di luar negeri. Dan, ketiga, sebagai identitas kultural, yakni gerakan melestarikan nilai-nilai lokal di tengah perkembangan pesat media sosial. 

Dalam kebudayaan Rusia, Prancis, dan Amerika, misalnya, puisi adalah identitas bangsa. Bahkan puisi dibacakan saat pelantikan presiden di Amerika. Bukti bahwa bangsa besar selalu menghargai jasa penyairnya. 

Di Tanah Air, pada era 1972-1973, Remy Sylado pernah mengasuh sebuah rubrik puisi bernama ‘Sajak Mbeling’ di Majalah Aktuil. Kabarnya, sajak-sajak Seno Gumira Ajidarma pertama kalinya dipublikasikan di ruang asuhan Remy tersebut. 
 
Kini, ‘Sajak Kofe’ hadir sebagai tonggak melanjutkan semangat pers. Terutama, dalam menghadirkan referensi bacaan alternatif. Memberikan pilihan bacaan berkualitas, bermanfaat, dan bersukaria dalam mendukung perpuisian Indonesia. 

Sebuah Monumen Kapsul Waktu telah digagas Presiden Joko Widodo di Merauke, Papua. Di dalamnya ada harapan dan impian anak-anak Indonesia. Kelak kapsul itu akan dibuka dan dibaca kembali pada 2085. Sebagai harapan, begitu juga puisi. 

Gaudensius Suhardi, Direktur Pemberitaan Media Indonesia, mengamininya. “Puisi adalah doa,” ujarnya sedikit berdialektika dalam sebuah diskusi santai, ditemani secangkir kopi hitam, saat saya pulang ke Tanah Air dari Moskwa, Rusia. 

Kini, ‘Sajak Kofe’ hadir sebagai wadah mendukung perpuisian Indonesia. Sebuah gerakan nekat dan berani untuk melangkah menuju pascakontemporer. Menjadi rumah bersama. Terbuka pintu bagi, untuk, oleh yang mengetuknya. 


Iwan Jaconiah, pengasuh ‘Sajak Kofe’