Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
PUISI Aku Laut, Aku Ombak karya Iverdixon Tinungki menggambarkan laut sebagai bagian hidup yang dekat dengan manusia. Puisi ini mengingatkan bahwa laut bukan hanya tempat indah, tetapi ruang yang menyimpan sejarah, budaya, dan kehidupan banyak orang.
Di tengah kondisi laut Indonesia yang semakin terancam, pesan dalam puisi ini terasa penting untuk mengajak kita lebih peduli dan menjaga laut agar tetap sehat.
Ketika puisi menyebut “taufan selat Basilan mengantar mahkota enam kerajaan”, laut muncul sebagai tempat perjalanan panjang para leluhur. Baris seperti “syair manusia perahu melintas abad” menunjukkan bagaimana laut membawa cerita dan hubungan antarpulau selama berabad-abad.
Puisi ini mengingatkan bahwa laut adalah bagian dari jati diri bangsa; tempat yang menjadi penghubung, bukan penghalang. Laut dalam puisi Tinungki hadir sebagai ruang hidup yang mengajarkan keteguhan, sebagaimana ombak yang terus bergerak tanpa henti.
Melalui baris “ikan tak letih di pusaran arus, paus hiu menunggang gelombang”, laut digambarkan penuh kehidupan. Namun ada pula peringatan dalam larik “tak ada tempat bersembunyi bila kuda angin berpacu”, yang menggambarkan bahwa laut bisa rusak bila keseimbangannya terganggu.
Kondisi ini sesuai dengan kenyataan hari ini: sampah plastik, penangkapan ikan yang berlebihan, dan kerusakan terumbu karang membuat laut Indonesia berada dalam situasi yang mengkhawatirkan.
Dengan menghadirkan laut sebagai sesuatu yang “berbicara” kepada manusia, puisi ini mengajak kita merasakan pentingnya merawat laut. Ketika penulis menutup dengan “akulah laut, akulah ombak”, ia seakan berkata bahwa manusia dan laut saling terhubung. (Perpus Ar-Rohmah/Z-10)
Puisi “Perempuan dan Tubuhnya” karya Akromah Zonic menyoroti objektifikasi, pengawasan sosial, dan nilai tubuh perempuan melalui lirik reflektif yang kuat dan menyentuh.
Kontribusi Chairil Anwar lewat puisi tersohor seperti Aku, Doa, dan Derai-Derai Cemara menjadikannya simbol perlawanan dan kebebasan berpikir.
Falcon Pictures ingin menghadirkan kembali sosok Chairil bukan hanya sebagai sastrawan, tetapi sebagai manusia yang mencintai, memberontak, dan hidup sepenuh tenaga.
Pelatihan daring ini diikuti ratusan sekolah peserta Festival Literasi Kutai Timur #1. Para siswa dan guru mengadakan nonton bareng di sekolah masing-masing.
Dilengkapi layanan chat multibahasa, Sahabat-AI mampu memahami nuansa bahasa, merangkai kata, dan menghasilkan karya sastra dalam bahasa lokal.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved