Sajak-sajak Stevie Alexandra

Rumputmu Tak Lebih Hijau 

Butir putih menari dari langit 
kata orang itu indah 
menurutku tak seberapa 
 
Angin dingin musim semi 
kata orang membuat rindu 
menurutku bikin linu 
 
Tinggi tegap semampai 
kata orang itu molek 
menurutku sama saja 
 
Kulit putih, bulu mata lentik 
kata orang itu cantik 
menurutku kita lebih manis 
 
Gedung indah saksi peradaban 
kata orang itu sejarah 
menurutku itu bukan warisan kita 

Terpukau silaunya milik orang lain 
mengabaikan pesona sendiri 
bagiku; jauh pergi, ingin cepat kembali 
banyak melihat, kian mensyukuri. 

Stev, Maret 2021 


Aku Rindu 

Gelegar kembang api tahun baru
gema doa Natal di Januari bersalju
panekuk di Februari yang ditunggu

Hari Wanita dihujani kembang ungu
parade tank Hari Kemenangan yang berderu
di Lapangan Merah derap kaki serdadu
 
Teringat betul hari-hari itu
di tanah rantau menuntut ilmu 
banyak bahagia, tak kalah juga sedu
sekian purnama telah berlalu
pada Moskwa kutitip rindu
 
Stev, Februari, 2021 


Keluarga Donskaya 

Kala dunia terasa jauh
kau datang merengkuh 

Kala rindu Pertiwi tak terobati
kaulah pelipur hati
 
Kala semangat patah
kau yang memapah
 
Kala malam jadi muram
kau nyalakan cahaya temaram
 
Di situlah kusadari
tak penting darah-daging
merekalah yang menggenggam jemari
di saat dunia berpaling
betapa aku mensyukuri
akan keluarga baru yang membimbing
 
Stev, Februari, 2021 


Rumah 

Tak cukup Moskwa, aku ingin pergi ke Lima 
Elbrus sudah kudaki, saatnya ke Aconcagua 
Murmansk membosankan, ingin terbang ke Reykjavik 
Krimea tak menarik, bawa aku ke Giza 
Petersburg kurang cantik, ayo kita lihat Praha 
 
Tak bisa diam, tak kenal lelah 
Raga selalu haus untuk melangkah 
Pindah berkala mencari kisah 
Tak putus asa walau hati sering patah 
Di ujung jalan akhirnya bertemu rumah 
Semoga berujung indah 
 
Stev, Maret, 2021 


Arbat 

Raga menyusuri Arbat 
mentari sore tenteramkan hati 
saat berdua merasa selamat 
akan duka lara yang menggerogoti 
 
Lain hari, lain rasa 
beda raga, beda asmara 
akankah cepat binasa? 
biar waktu bersuara 
 
Masa pun tiba semua terungkap 
tampak bayangan bersidekap 
kembali ke Arbat aku bersiap 
melepas janji terlanjur terucap 
 
Stev, Februari 2021 


Yang Terasing 

Ke mana kaki melangkah 
ke situlah tujuan sorot 
tolong beritahu apa yang salah 
apakah ada yang melorot? 
atau mirip peminta sedekah? 
 
Kadang tampak seperti idiot 
dilirik dengan mata sebelah 
oh, mungkin aku yang terlalu kolot 
tak biasa dipandang payah 
 
Bukan aku, beda sendiri. 
 
Stev, Februari 2021 


Menunda Realitas 

Apa sebetulnya yang dicari?
benarkah ilmu? atau sekadar kabur berlari? 
mencari ke sana ke mari tanpa arah dan kata
hanya demi tak menjejak kaki di Jakarta
terhadap kerasnya Ibu Kota mereka tak sudi
memilih haha hihi di luar negeri berlagak studi 
 
Peduli setan pada keluarga yang mencari 
terpenting sebulan sekali telepon mengabari 
berjalan menjauh, berlagak senang bergelimang harta 
begitulah kalau menolak diburu realitas bara 
bersikeras melupa darah mengalir dalam sendi 
menatap senja di khatulistiwa tak berbudi 
 
Stev, Februari 2021 


Mencari 

Separuh dunia kutelusuri 
tak tahu apa yang dicari 
berguling, berjalan, berlari 
penghujungnya bertemu matahari
 
Sorot teduhku sendu 
jejak hari dijaga lagi berlalu
serupa semi, berganti salju 
bertahun-tahun tak menentu 
 
Sampai jua penghujung kutuju 
nyatanya harapan palsu 
empat musim berlalu 
di bibir Volga, aku menunggumu 
 
Stev, Maret 2021 
 
 


Stevie Alexandra, lahir di Jakarta, pada 25 September 1992. Dia menyukai kegiatan menulis, membaca, dan traveling. Tamatan sarjana Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. Berbekal Beasiswa Pemerintah Rusia dan LPDP, dia berhasil mendapat gelar Master dari Higher School of Economics di Moskwa (2016), setelah sebelumnya menyelesaikan Kelas Persiapan Bahasa dan Sastra Rusia di Orel State University di Kota Oryol. Sajak-sajak Stevie ini menjadi bagian dalam buku antologi puisi Doa Tanah Air: suara pelajar dari negeri Pushkin yang akan segera diterbitkan di Jakarta.