Puisi Esok Pagi, Jalan Tikus Pascakontemporer 

Ilustrasi: Yopi Cahyono 

LANGIT berkelambu abu-abu menggantung di atas Terowongan Kendal, Jakarta. Satu per satu pengunjung tampak ramai berdatangan. Mereka mampir untuk sekadar menikmati berbagai suguhan pada Festival Hari MRT 2022, siang itu. 

Tak berapa lama, gemuruh halilintar bertubi-tubi dan bersahut-sahutan dari angkasa. Bunyi-bunyinya begitu terdengar jelas. Di samping terowongan, suara mesin kereta pun masih berlalu-lalang. Setop sejenak menurunkan dan menaikkan penumpang dari Stasiun Sudirman. 

Gerimis akhirnya luruh perlahan. Rambut di ubun-ubun saya pun basah sesaat. Cepat-cepat berlari ke Terowongan Kendal. Dulu, sebuah kawasan yang sering menjadi lokasi vandalisme. Kini, dipenuhi mural karya para seniman kontemporer. 

Dari pintu masuk lokasi festival, seorang rekan, Theresya Remica Pakpahan, muncul. Ia menjemput saya sambil memegang erat sebuah payung lipat. Jalanan pun basah. “Hujan, namun acara tetap sesuai jadwal ya,” tuturnya ramah, membuka pembicaraan. “Hujan serupa sajak. Biarlah ia turun,” balas saya. Theresya hanya tersenyum simpul. 

Di panggung utama festival, Sabtu, (26/3), tepat pukul 12.00 WIB, satu per satu peserta mengambil tempat duduk. Saya bersiap-siap hendak menyampaikan coaching clinic. Tema kali ini bertajuk Puisi Esok Pagi: saat embun pecah di atas dedaunan

Suara gemuruh halilintar sesekali terdengar. Hujan mengguyur kian deras. Di terowongan, para pengunjung mondar-mandir. Festival Hari MRT kali ini memasuki usia ketiga penyelenggaraan. Program perpuisian hanya bagian terkecil Ruang Komunitas dalam mendukung Jakarta sebagai kota literasi. 

Maklum, DKI Jakarta merupakan salah satu dari 49 kota besar di dunia yang terpilih sebagai City of Literature atau Kota Sastra Dunia. UNESCO, sebuah Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa, mengumumkannya sejak 8 November 2021 lalu. 

Kegiatan coaching clinic ikut mendukung Festival Hari MRT. Tujuannya ialah menggemakan puisi menuju era pascakontemporer Indonesia bersama masyarakat. Khususnya, mereka yang notabene belum menjadikan puisi sebagai irama kehidupan sehari-hari. 

Dalam sesi tersebut, saya memaparkan materi puisi secara sederhana. Menyampaikan kiat-kiat menulis dan membaca karya sastra yang berkualitas di era digital. Puisi adalah kehidupan sehingga dapat ditulis oleh siapapun.

Mulai dari petani, buruh pabrik, pekerja kantoran, menteri, sampai dengan presiden. 

Dalam waktu 45 menit, moderator membagi waktu dalam tiga bagian. Pertama ialah pemaparan pengalaman saya dalam mengarungi dunia perpuisian di Rusia. Kedua, pemaparan contoh-contoh puisi yang telah tayang di Sajak Kofe. Terakhir, melibatkan peserta untuk ikut menulis puisi secara spontan. 

Baca juga: Sajak-sajak Faris Al Faisal

Tetap angkat penamu 

Siang itu, saya menunjukkan beberapa buku yang laik dibaca. Ini untuk merangsang daya kreatif para peserta agar aktif menulis puisi secara langsung di tempat. Salah satunya buku berjudul Tangisan Elang Musim Dingin, kumpulan puisi 1962-1989, karya penyair Rusia-Amerika Joseph Brodsky, Komite Sastra Leningrad (1990). 

Ada cerita menarik di balik mendapatkan buku karya Brodsky tersebut. Saya terima sebagai hadiah dari seorang sahabat penyair Rusia Egor Nikulin di Moskwa pada 2019. Ia menyarankan saya membaca buku tersebut untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Rusia. 

Berbekal pengetahuan seadanya tentang puisi-puisi Brodsky, saya pun ‘setel yakin’ bercerita. Brodsky memang penyair kelas dunia. Ia adalah peraih Hadiah Nobel Sastra 1987. Puisi-puisinya banyak dibaca di berbagai negara. 

Dalam coaching clinic, saya tidak menyarankan kepada para peserta untuk menjadi penulis puisi atau penyair. Hanya memberikan petuah untuk tetap mengangkat pena demi merangsang daya pikir mereka. Ya, minimal ikut merasakan bagaimana menuangkan ide-ide cemerlang dalam bentuk puisi. 

Hampir seluruh peserta menulis keadaan realis. Terutama, ketika mereka melihat suasana Jakarta yang sedang diguyur hujan selama acara berlangsung. Seorang peserta asal Tangerang, Banten, Muhammad Dwi Putra, 31, misalnya. Ia menuliskan sebuah puisi pendek berjudul Hujan

Bulir air membasahi hari 
sejenak aktivitas pun terhenti 
membuatku sejenak berteduh diri. 

Aduh, 
tanggung jawab dipegang 
hidup harus dijalankan, sayang. 

2022 

Peserta lainnya ialah Robi Candra, 33, asal Sumatra Barat. Lelaki berambut cepak itu berprofesi sebagai petugas keamanan di Ibu Kota. Ia mulai bekerja dari pagi sampai sore atau malam sampai pagi. Robi menulis sebuah puisi berjudul Tinta

Aku kira; senja tak mungkin indah tanpa melihatmu di terowongan ceria. Pelangi tanpa warna-warni, sebab yang kutahu hanyalah tinta hitam di benak. 

Aku kira; dawai hujan bernada meriah di stasiun, jauh keramahan. Bulan enggan tiba, sebab yang kutahu hanyalah embun. Orang-orang berteduh di ubun-ubun beton. 

2022 

Selain dua puisi di atas, ada juga karya seorang peserta lainnya, Nia Yuniarsih Ramlan, asal Jakarta. Ia adalah salah satu pembicara lainnya sebelum sesi saya dimulai. Sehari-harinya, Nia bekerja sebagai seorang ibu rumah tangga dan pendongeng. Berikut puisinya tanpa judul. 

Kelabu langit Jakarta ini siang 
orang lalu lalang 
payung warna warni 

Kelabu langit Batavia ini siang 
bising deru sais kereta 
meredam ragam bunyi 

Kutulis sepucuk sajak 
krik, krik, krik… 
ada cacing di perut bernyanyi. 

2022 

Tiga buah karya puisi di atas hanyalah contoh hasil coaching clinic. Para peserta menulis secara spontan di lokasi. Sebenarnya, ada beberapa karya puisi dari sejumlah peserta lainnya. Sayangnya, sebagian mereka tidak percaya diri untuk dibedah dan dibacakan. Ada yang menulis hanya sebagai ungkapan hati semata. Ada pula yang tidak menulis, namun materi yang diterima sedapat mungkin akan diajarkan kepada anak-anak mereka di rumah. 

Baca juga: Sajak-sajak Bresman Marpaung

Berpikir logis 

Ada pelbagai pengalaman menarik dalam coaching clinic kali ini. Sebagian besar peserta baru pertama kali menulis puisi. Mereka bukan dibentuk atau diberi doktrin untuk menjadi seorang penyair. Itu hanya untuk menyadarkan bahwa puisi adalah kehidupan. 

Kegiatan menulis dan membaca puisi sesungguhnya sangat penting sebagai daya berpikir logis dan analitis. Di Rusia, misalnya, ada sebuah lembaga puisi Live Classics. Lembaga puisi dipimpin Marina Smirnova. Sering kali mengadakan pelatihan dan festival. Mulai dari tingkat anak-anak sekolah sampai dengan tingkat penyair profesional. 

Kegiatan menulis puisi, sesungguhnya adalah langkah meningkatkan kebiasaan perilaku membaca di masyarakat. Sudah banyak lembaga di Indonesia yang menggelar kegiatan perpuisian serupa. 

Menulis puisi ibarat kegiatan mengabadikan secuil kehidupan di sekitar kita. Saya menulis puisi disebabkan berbagai faktor. Antara lain, mengabadikan suatu peristiwa, memotivasi diri sendiri, menangkap bunyi alam, dan menjaga pikiran logis. Ide-ide bertebaran di sekitar kita. 

Suara halilintar masih terdengar di wuwungan langit. Sesi diskusi tiba di penghujung waktu. Puisi Esok Pagi: saat embun pecah di atas dedaunan telah dikumandangkan secara sederhana dari Terowongan Kendal. 

Menjadi jalan tikus menuju era pascakontemporer Indonesia. Sebagaimana, impian generasi muda kita telah dipasung di Monumen Kapsul Waktu, Merauke, Papua. Kelak puisi-puisi dibuka dan dibacakan kembali pada 2085 mendatang. (SK-1) 

 

Baca juga: Sajak-sajak Acep Zamzam Noor 

Baca juga: Remy Sylado dan Indonesia Berpuisi

Baca juga: Sajak-sajak Inggit Putria Marga

 

 

 

 

Iwan Jaconiah, penyair, esais, wartawan Media Indonesia dan Metro TV. Peraih Beasiswa Unggulan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI (2015) dan Beasiswa Penuh Pemerintah Rusia (2015). Ia adalah pesastra Indonesia pertama peraih Diploma of Honor Award pada helatan X International Literary Festival "Chekhov Autumn-2019" di Yalta, Republik Krimea, Federasi Rusia. Buku terbarunya kumpulan puisi Hoi! (Terbit Press, 2020).