Headline
Prabowo kembali gelar rapat terbatas bahas dampak perang di wilayah Timur Tengah.
Prabowo kembali gelar rapat terbatas bahas dampak perang di wilayah Timur Tengah.
Kumpulan Berita DPR RI
KASUS Hogi Minaya di Sleman, Yogyakarta, serta perlakuan intimidatif terhadap penjual es gabus di Jakarta, karena pemahaman keliru jiwa korsa di tubuh kepolisian yang dianggap jadi pemicu arogansi aparat.
Peneliti Institute for Security and Strategic Studies (ISSES), Bambang Rukminto mengatakan konsep solidaritas internal jiwa korsa yang seharusnya menjaga profesionalisme, justru berubah menjadi praktik saling melindungi dan menutupi kesalahan sesama aparat.
“Esprit de corps atau code of conduct yang disalahpahami membuat solidaritas internal bergeser menjadi upaya melindungi kesalahan sejawat. Ini tidak hanya terjadi di level bawah, tetapi juga sampai ke Propam dan Wassidik, seperti yang sangat jelas terlihat dalam kasus Ferdy Sambo,” kata Bambang kepada Media Indonesia, Kamis (29/1).
Menurutnya, budaya salah tafsir tersebut masih terus berlangsung hingga kini. Ironisnya, tidak ada lembaga yang benar-benar memiliki kewenangan kuat untuk memastikan pengawasan internal di kepolisian berjalan efektif dan independen.
Selain itu, Bambang menilai fungsi pengawasan eksternal juga belum berjalan optimal. Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), kata dia, kerap dipersepsikan hanya bersifat simbolis, sementara DPR dinilai belum maksimal menjalankan peran pengawasan.
“Kompolnas lebih terlihat simbolis, sedangkan DPR sering kali tampil sebagai kelompok politisi yang sarat kepentingan. Fungsi pengawasan yang seharusnya melindungi kepentingan publik justru tidak berjalan serius,” ujarnya.
Menurut Bambang, akibat lemahnya pengawasan tersebut masyarakat pun mengambil peran sebagai pengawas terakhir dengan cara mendorong kasus-kasus pelanggaran polisi ke ruang publik melalui media sosial. Fenomena viral akhirnya menjadi alat tekan terhadap Polri maupun lembaga politik.
“Viral di media sosial adalah bentuk desakan publik melalui delegitimasi institusi. Namun, ini berbahaya karena ujungnya bisa melahirkan apatisme masyarakat terhadap Polri, pemerintah, dan DPR,” kata Bambang.
Bambang mengingatkan, jika pola penyalahgunaan kewenangan aparat dan lemahnya pengawasan ini terus dibiarkan, kepercayaan publik terhadap negara dan aparat penegak hukum akan semakin terkikis. (H-4)
Pedagang kaki lima, kata Musni, kerap menjadi sasaran tindakan represif, sementara pendekatan persuasif dan edukatif justru diabaikan.
kasus yang menimpa Hogi Minaya di Sleman, Yogyakarta serta arogansi terhadap penjual es gabus menunjukkan polisi tidak lagi menghayati perannya sebagai pelayan masyarakat.
Aiptu Ikhwan dan Serda Heri Purnomo yang diduga memfitnah dan menganiaya penjual es gabus, Sudrajat harus diproses hukum.
Trunoyudo menyebutkan bahwa momentum bulan suci Ramadan turut melandasi semangat kedua belah pihak untuk saling memaafkan dan melakukan introspeksi diri.
ANGGOTA Komisi III DPR RI dari Fraksi PKB, Abdullah menyoroti penembakan remaja oleh oknum polisi di Makassar, Sulawesi Selatan. Perlu evaluasi SOP senjata api
Dewan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (Dema PTKIN) Se-Indonesia mengapresiasi pola pengamanan kepolisian dalam aksi unjuk rasa mahasiswa.
Sarah Nuraini Siregar dari BRIN menyoroti penggunaan istilah "oknum" untuk anggota polisi, menegaskan tindakan individu mencerminkan institusi.
Kapolres Metro Jakarta Timur Kombes Alfian Nurrizal menyatakan pelaku penganiayaan karyawan SPBU di Cipinang, Jakarta Timur, positif sabu dan ganja usai tes urine.
Transparansi digital melalui media sosial membuat kasus-kasus tersebut kini lebih mudah terungkap ke permukaan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved