Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
ANGGOTA Komisi II DPR RI Muhammad Khozin menyoroti dana Pemerintah Daerah (Pemda) yang mengendap di bank hingga mencapai Rp234 triliun. Ia mempertanyakan alasan dana sebesar itu hanya “terparkir” di perbankan dan tidak segera digunakan untuk kepentingan publik.
“Pemda mesti mengklarifikasi atas mengendapnya dana publik ratusan triliun itu. Apakah dana tersebut sengaja ditempatkan di bank atau disimpan karena mengikuti pola belanja yang meningkat di akhir tahun?” kata Khozin melalui keterangan tertulis, Jumat (24/10).
Menurutnya, Pemda wajib memberikan penjelasan agar publik mengetahui apakah dana tersebut merupakan bagian dari perencanaan anggaran atau justru bentuk kelalaian dalam realisasi belanja.
Khozin menilai, jika dana APBD sengaja disimpan di bank untuk mencari bunga atau karena tidak adanya perencanaan matang, hal itu dapat berdampak negatif terhadap pelayanan masyarakat.
“Kalau dana APBD sengaja diparkir, ini yang jadi soal, karena akan mengganggu pelayanan publik dan menjadi penghambat tumbuhnya ekonomi di daerah,” ujarnya.
Politikus Fraksi PKB itu juga menegaskan bahwa dana publik seharusnya segera digerakkan untuk mendukung program prioritas daerah dan mempercepat pemerataan ekonomi.
Lebih lanjut, Khozin mengatakan jika dana Pemda mengendap karena mengikuti siklus penyerapan anggaran yang meningkat di akhir tahun, maka pemerintah perlu meninjau ulang pola tersebut.
“Tren penyerapan anggaran meningkat di akhir tahun ini terjadi di pusat dan daerah. Menkeu Purbaya mestinya dapat mengubah pola klasik ini agar anggaran negara betul-betul dimanfaatkan untuk publik secara berkesinambungan,” katanya.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkap data Kementerian Keuangan (Kemenkeu) per akhir September 2025 yang menunjukkan adanya dana Pemda mengendap sebesar Rp234 triliun. Purbaya menilai, kondisi itu menunjukkan realisasi belanja daerah masih lambat meskipun pemerintah pusat telah menyalurkan dana dengan cepat.
Khozin menegaskan pentingnya transparansi dan efisiensi dalam pengelolaan APBD agar seluruh alokasi anggaran benar-benar dirasakan masyarakat. Ia juga meminta agar pemerintah pusat memberikan evaluasi berkala terhadap daerah yang memiliki tingkat penyerapan anggaran rendah.
“Tujuannya agar tidak ada lagi dana publik yang hanya tersimpan di bank tanpa memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tutupnya. (Faj/I-1)
Alokasi anggaran sebesar Rp200 juta untuk mendukung berbagai program kebersihan, meskipun saat ini teknis pelaksanaan masih akan dibahas lebih lanjut.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memangkas anggaran subsidi Transjakarta hingga Rp1,1 triliun pada 2026 seiring turunnya total Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
Dengan capaian tersebut, APBD tahun 2025 mencatatkan surplus sebesar Rp41,7 triliun. Sementara itu, net pembiayaan daerah pada tahun yang sama mencapai Rp67,1 triliun.
Peraturan Daerah (Perda) Nomor 4 Tahun 2025 tentang APBD Tahun Anggaran 2026 resmi diundangkan pada 23 Desember 2025.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menyebutkan Pemprov DKI Jakarta tengah merevitalisasi sejumlah ruang publik, namun tidak sepenuhnya bergantung pada APBD.
Ketua DPRD Klungkung mengingatkan bahwa persetujuan anggaran tersebut, khususnya terkait skema pinjaman daerah, harus disertai dengan catatan pengawasan yang serius.
Back to Back Loan merupakan program pinjaman yang memungkinkan nasabah memperoleh kredit dengan menjaminkan dana simpanan mereka sendiri di bank yang sama.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menerbitkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 24 Tahun 2025 tentang Pengelolaan Rekening pada Bank Umum
AFTECH dan Perbanas menegaskan komitmennya untuk memperkuat sinergi antara perbankan dan fintech sebagai langkah krusial dalam memperluas akses kredit nasional.
Menurutnya, pemerintah daerah justru membutuhkan anggaran untuk dibelanjakan untuk pembangunan daerah.
Finnet aktif membantu proses penyidikan kasus dugaan korupsi pengadaan mesin electronic data capture (EDC) di salah satu Bank BUMN.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved