Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
DEWAN Perwakilan Rakyat (DPR) belum mendapat kepastian jadwal pemilihan kepada daerah (pilkada) 2024. Hal itu yang ditanyakan DPR dalam rapat bersama KPU dan pemerintah, kemarin.
Anggota Komisi II DPR Fraksi PKS Mardani Ali Sera mengatakan kepastian tersebut memang belum didapatkan meski pun badan legislasi DPR (Baleg) telah rampung menyelesaikan revisi UU Pilkada yang jadwalnya maju menjadi September 2024.
"Ini kan memang sudah selesai dibahas revisi UU Pilkada tapi belum disetujui pemerintah jadi belum diketok. Sampe sekarang tetap November tapi masih mungkin jadwal ini berubah lagi," ucapnya, Kamis (18/1).
Baca juga : DPR Kritisi Sirekap hingga Jadwal Pilkada
Dalam pembahasannya ada beberapa partai politik yang tidak menyetujui perubahan jadwal itu menjadi September. Namun hingga kini belum ada surat balasan dari pemerintah tentang revisi yang sudah rampung tersebut.
"Soal suratnya saya belum tahu apa memang ketelingsut atau bagaimana?"
Baca juga : Jangan Intervensi Jadwal dan Tahapan Pilkada 2024
Sementara itu dalam RDP itu Ketua KPU Hasyim Asy'ari mengatakan KPU sebagai pelaksana undang-undang termasuk melaksanakan jadwal pilkada yang telah ditetapkan dalam UU Pilkada.
"Pada dasarnya KPU seperti yang disampaikan oleh pimpinan komisi 2 waktu itu, karena undang-undang yang berlaku sekarang ini untuk menentukan kapan hari pemungutan suara dalam undang-undang Nomor 10 Tahun 2016 maka kita gunakan itu. Bahwa kemudian dalam perkembangan berikutnya karena KPU merupakan pelaksanaan undang-undang dan dalam perjalanannya ada perubahan maka KPU akan menyesuaikan sebagaimana amanat undang-undang Pilkada," paparnya.
Di saat yang sama Plt Dirjen Kemendagri Togap Simangunsong menyebut perubahan jadwal merupakan usulan inisiatif dari DPR yang dimajukan menjadi September. Hal ini berdasarkan surat yang masuk kepada presiden.
"Jadi sekarang prosesnya menunggu supres dari presiden untuk disampaikan ke DPR. Kemarin memang pimpinan menanyakan supres yang belum ada dan kami langsung menindaklanjutinya dengan menanyakan ke sekretariat Kemensesneg untuk segera menyampaikan itu. Jadi memang kita harapkan RUU perubahan ini selesai paling lambat pada Februari ini," jelasnya.
Keterangan tersebut kemudian dibantah oleh Wakil Ketua Komisi II DPR Junimart Girsang yang mengatakan usulan pemajuan jadwal berasal dari pemerintah bukan DPR.
"Itu usul dari pemerintah bukan DPR. Silahkan bapak cek lagi," tukasnya. (Z-4)
Sudah cukup banyak kepala daerah yang bergerak cepat melakukan aksi kebersihan di wilayah masing-masing.
Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan membuka Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 yang digelar Kementerian Dalam Negeri.
Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) menyiapkan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 sebagai forum konsolidasi.
Tepat satu tahun memimpin Kota Sukabumi, Ayep Zaki menorehkan sejumlah capaian yang mulai dirasakan langsung oleh masyarakat.
Mendagri Tito juga mengingatkan agar daerah tidak menghambat investasi kecil dengan pungutan tidak perlu.
OTT yang kembali dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap sejumlah kepala daerah dinilai mencerminkan persoalan struktural dalam sistem pemerintahan daerah.
Anggota Komisi I DPR RI Amelia Anggraini mendesak pemerintah segera mengevakuasi WNI kru kapal yang terkatung hampir setahun di lepas pantai Afrika tanpa kepastian upah dan nasib.
Ketua Komisi Percepatan Reformasi Polri Jimly Asshiddiqie menilai reformasi Polri tak bisa instan karena 30 aturan internal perlu dibenahi.
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menyoroti penghapusan 11 juta peserta PBI BPJS dan meminta penonaktifan tidak mendadak serta disertai sosialisasi.
DPR RI memastikan layanan kesehatan peserta PBI BPJS tetap berjalan selama 3 bulan ke depan meski ada penonaktifan, dengan iuran ditanggung pemerintah.
Anggota Komisi VII DPR RI Samuel Wattimena menyoroti belum optimalnya penyerapan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) 2.
Abdullah juga mengaitkan temuan ini dengan aksi KPK sebelumnya yang menjaring pegawai Bea Cukai di Jakarta dan Lampung terkait kasus dugaan korupsi importasi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved