Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
TEMA 'Berkarya untuk Bangsa' yang diusung Kejaksaan dalam Hari Bhakti Adhyaksa ke-61 mendapatkan kritik dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras). Menurut Kontras, tema tersebut masih jauh dari realita penegakan hukum dalam menyelesaikan pelaggaran HAM berat masa lalu.
Koordinator Kontras, Fatia Maulidiyanti, dalam keterangan tertulisnya mengatakan drama bolak balik berkas kasus dugaan pelanggaran HAM berat masih terus terjadi antara pihak Kejaksaan Agung dan Komnas HAM. Kejagung dituding tidak menindaklanjuti berkas penyelidikan yang diselesaikan oleh Komnas HAM ke tingkat penyidikan.
"Dengan alasan tidak cukup bukti. Namun Kejaksaan Agung masih juga tidak memberikan perintah sebagai penyidik kepada penyelidik untuk melakukan upaya paksa sesuai Pasal 19 Ayat (1) huruf g UU No. 26/2000 (tentang Pengadilan HAM)," katanya, kemarin.
Kontras, lanjut Fatia, turut menyoroti keputusan Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin yang justru mengajukan kasasi terhadap orangtua korban Peristiwa Semanggi I dan II, yakni Sumarsih dan Ho Kim Ngo. Selain itu, Tim Khusus Penuntasan Dugaan Pelanggaran HAM yang Berat sampai saat ini juga belum membuahkan hasil signifikan.
Diketahui, Timsus HAM dibentuk oleh Burhanuddin pada Desember 2020 sebagai ejawantah dari arahan Presiden Joko Widodo yang menyebut Kejaksaan sebagai aktor kunci penuntasan pelanggaran HAM masa lalu. Belakangan, Timsus mengusulkan kepada pemerintah agar kasus-kasus HAM berat diselesaikan melalui jalur nonyudisial.
Direktur HAM Berat Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (JAM-Pidsus) Kejagung, Yuspar, mengakui bahwa sampai saat ini belum ada kemajuan secara yuridis untuk menyelesaikan kasus pelanggaran HAM berat. Mandeknya status kasus di tingkat penyelidikan disebabkan karena Komnas HAM belum memenuhi petunjuk penyidik sebagaimana ketentuan Pasal 20 Ayat (3) UU Pengadilan HAM.
"Artinya, sepanjang penyelidik Komnas HAM belum melaksanakan petunjuk penyidik secara yuridis, penyidik tidak dapat meningkatkan kasus pelanggaran HAM berat ke tahap penyidikan," jelas Yuspar kepada Media Indonesia, Jumat (23/7).
Yuspar pribadi menilai petunjuk-petunjuk yang telah diberikan penyidik Kejaksaan sudah cukup jelas. Kendati demikian, Komnas HAM sebagai penyelidik disebut tidak berani mengambil sikap untuk menentukan perkara dalam penyelidikan sebagai pelangaran HAM berat atau bukan sesuai petunjuk penyidik.
Sebab, lanjut Yuspar, jika Komnas HAM tidak memasukannya sebagai pelanggaran HAM berat, maka bisa ditindaklanjuti ke aparat penegak hukum lainnya. "Misalnya kasus Paniai (2014), kalau tidak memenuhi unsur dari pelanggaran HAM berat, penyelidik Komnas HAM bisa menindaklanjuti ke penyidik Polri setempat," papar Yuspar yang juga ditunjuk sebagai Koordinator Timsus HAM.
Yuspar turut menilai organisasi baru dalam Korps Adhyaksa, yakni Jaksa Agung Muda Bidang Pidana Militer (JAM-Pidmil) bisa menjadi solusi untuk menuntaskan kasus pelanggaran HAM jika tersangkanya berasal dari aparat militer. "Kalau tersangkanya aparat militer, sekarang kan sudah ada JAM-Pidmil, saya rasa koordinasinya nanti lebih cepat," pungkasnya.
Diketahui, Burhanuddin telah melantik Laksamana Muda TNI Anwar Saadi sebagai JAM-Pidmil pertama pada Rabu (14/7) lalu. Ia berharap kehadiran JAM-Pidmil bisa mencegah dualisme kebijakan penuntutan yang selama ini terjadi. Menurut Jaksa Agung, dualisme itu kerap menimbulkan disparitas pemidanaan terhadap jenis pidana yang sama. (OL-13)
Baca Juga: Dewas Hentikan Kasus Dugaan Pelanggaran Etik Pimpinan KPK Terkait TWK
Pendalaman dilakukan dengan menghimpun informasi dari berbagai pihak.
PROSES pemulihan Aktivis KontraS Andrie Yunus diperkirakan mencapai dua tahun. Andrie Yunus menjadi korban penyiraman air keras yang diduga dilakukan oleh oknum anggota TNI, awal Maret 2026.
Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) menjamin seluruh biaya pengobatan dan pemulihan Andrie Yunus.
Fokus investigasi tidak hanya terpaku pada luka fisik, tetapi juga dampak psikologis jangka panjang yang dialami oleh Andrie Yunus akibat siraman air keras tersebut.
Komnas HAM mengecam keras penyiraman air keras terhadap aktivis Kontras Andrie Yunus yang kini masih menjalankan perawatan intensif di RSCM Jakarta.
Komnas HAM juga menyoroti posisi Kepolisian RI yang kerap berada dalam situasi dilematis.
Hal ini menunjukkan kondisi KBB 2025 masih masalah serius dan tidak menampakkan perbaikan yang signifikan.
Pasukan Israel serbu belasan desa di Ramallah, tahan satu pemuda, aniaya warga, hingga sita rumah dan uang tunai penduduk dalam operasi militer Kamis malam.
Amnesty International Indonesia menilai kematian pelajar 14 tahun di Tual, Maluku, memperpanjang dugaan pembunuhan di luar hukum oleh aparat dan mendesak reformasi struktural Polri.
Komisi Pencari Fakta (KPF) Masyarakat Sipil menyerahkan laporan lengkap hasil investigasi kerusuhan Agustus 2025 ke enam lembaga negara
Komisi XIII DPR RI menyatakan komitmen penuh untuk mengawal kasus dugaan pelanggaran pidana dan Hak Asasi Manusia (HAM) yang menimpa seorang warga lanjut usia, Nenek Saudah.
Video terverifikasi mengungkap skala mengerikan tindakan keras pemerintah Iran terhadap demonstran. Jenazah menumpuk di rumah sakit meski internet diputus total.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved