Headline

Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa. 

Ajak Masyarakat Tak Golput Lewat Layar Perak

Insi Nantika Jelita
15/3/2019 23:13
Ajak Masyarakat Tak Golput Lewat Layar Perak
(ANTARA)

'NANTI tanggal 17 April, saya minta kalian menyuarakan suara kalian setidaknya untuk kampung ini, pilih Pemimpin yang terbaik, yang peduli pada kita.  Seruan itu dilontarkan Nurlaila dalam film Suara April.

Tokoh Nurlaila dalam film Suara April diperankan oleh Amanda Manoppo. Nulaila merupakan seorang guru di SMA Sri Sulastri yang bersama dengan Chandra, relawan demokrasi, diperankan Juan Bione Subiantoro, mencoba mengajak warga sekitar untuk peduli terhadap Pemilu danmenggunakan hak pilihnya.

Film yang digagas oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) itu juga menampilkan konflik dalam perhelatan Pemilu. Seperti sikap ayah Nurlaila yang merupakan jawara kampung di Desa Rampangrejo dan pemimpin orkes dangdut yang acuh terhadap sosialisasi Pemilu.

Ada juga pertarungan antar calon anggota legislatif bernama Rosalina, diperankan oleh Dewi Gita yang bertarung merebut hati masyarakat dengan caleh lainnya di daerah pemilihan yang sama, hingga kemudian mengajak kampanye damai.

Ketua KPU Arief Budiman yang turut menyaksikan pemutaran perdana film Suara April di Jakarta, Jumat (15/3) malam, mengatakan, pesan moral film yang Emil Haradi dan Wicaksono Wisnu Legowo itu ialah agar masyarakat menggunakan hak pilihnya secara bertanggung jawab.

Baca juga : Jokowi Ajak Pendukungnya Cegah Golput

Selain itu juga menyisipkan pesan kampanye damai dan menolak politik uang.

"Mudah-mudahan film ini nanti bukan hanya memberi pesan kepada anda semua yang ada disini, tetapi pesan ini juga nanti akan keluar dari ruangan ini. Maka kita harus menggunakan hak pilih kita memilih pemimpin yang terbaik 17 April 2019," kata Arief.

Komisioner KPU, Wahyu Setiawan mengatakan film  yang diproduseri oleh aktor Darius Sinathrya itu menjadi bagian dari sosialisasi Pemilu 2019 dan momentum menjelang pemungutan suara.

"Jadi film ini ditempatkan salah satu instrumen untuk melakukan sosialisasi dan pendidikan pemilih khususnya pemilih milenial. Karena kan pemilih kan beragam, tentu saja instrumen beragam. Kurang lebih 30 hari jelang pemungutan suara ini akan kita jadikan media sosialisasi. Ini pilihan momentum saja," kata Wahyu.

KPU turut ambil andil memberi masukkan dari skenario, sutrada, penulis naskah, untuk memastikan bahwa konten film yang diproduksi Nightbus Pictures dan Limelight Pictures itu  mencerahkan bukan malah menggelapkan.

Adapun persiapan film tersebut, kata Wahyu, dibuat selama setahun. "Jadi mencerahkan bahwa pemilu itu harus riang gembira, pemilu itu harus saling menghormati. Pemilu itu bukan dalam suasa mencengkam, itu pesan moral yang kita sampaikan," tandasnya. (OL-8)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Ghani Nurcahyadi
Berita Lainnya