Headline

Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.

Membaca Pesan Alam dari Papua Lewat Film Teman Tegar: Maira–Whisper from Papua

Basuki Eka Purnama
11/2/2026 11:20
Membaca Pesan Alam dari Papua Lewat Film Teman Tegar: Maira–Whisper from Papua
Poster film Teman Tegar: Maira–Whisper from Papua(imdb)

"ALAM ini kasih kita banyak. Tapi kita tidak boleh kasih apa-apa selain bersyukur untuk alam ini.” 

Kalimat dialog sederhana namun mendalam ini merangkum esensi dari film terbaru karya sutradara Anggi Frisca, Teman Tegar: Maira–Whisper from Papua

Melalui perpaduan musikal dan petualangan, film anak ini membawa misi besar: membangun kesadaran manusia akan relasinya dengan alam.

Kisah bermula saat Tegar (M Aldifi Tegarajasa), bocah asal Bandung, berlibur ke kampung halaman pengasuhnya, Teh Isy (Joan Wakum) di Papua. 

Tegar datang dengan impian besar melihat burung Cendrawasih, sekaligus menapak tilas cerita hutan yang sering dikisahkan mendiang kakeknya. 

Di sana, ia bertemu Maira (Elisabet Sisauta), gadis masyarakat adat berusia 12 tahun yang menjadi pemandunya menyusuri rimba.

Persahabatan mereka tidak sekadar menjadi perjalanan wisata. Tegar dan Maira segera menyadari bahwa hutan tempat Cendrawasih bernaung sedang dalam bahaya. 

Konflik memuncak ketika masyarakat adat di pedalaman tempat tinggal Maira tertipu oleh Bos Besar, pemilik perusahaan pembalakan untuk tambang. 

Sebagai satu-satunya anak yang bisa baca-tulis di kampungnya, Maira berupaya menyelamatkan tanah ulayatnya dibantu oleh Tegar dan Teh Isy.

Selama lebih dari 90 menit, penonton disuguhi kontras visual yang kuat: keindahan alam Papua yang luar biasa bersanding dengan potret luka akibat krisis iklim, deforestasi, dan konflik lahan. 

Meski mengangkat isu serius, film ini dikemas dengan formula film anak yang ringan sehingga tetap ramah bagi semua kalangan usia.

Produser film, dr. Chandra Sembiring, menekankan bahwa film adalah alat kampanye yang efektif. Berdasarkan pengalamannya di wilayah konflik dan bencana, ia melihat masyarakat adat memiliki resiliensi kuat yang sering diabaikan pembangunan modern.

“Kami ingin membangun ekosistem. Setiap film adalah alat edukasi, alat kampanye dan benih gerakan,” ujar Chandra dalam keterangan resmi, dikutip Rabu (11/2).

Kekuatan utama film ini terletak pada karakternya. M Aldifi Tegarajasa membawakan sosok Tegar dengan natural, sosok yang datang untuk mendengarkan tanpa rasa paling tahu. 

Sementara itu, Elisabeth memerankan Maira dengan ekspresi yang kuat meski tanpa dialog besar. Salah satu adegan kunci adalah saat ia mengembalikan dokumen perusahaan—sebuah tindakan berani yang tulus dan menggerakkan.

Tidak hanya visual, elemen musikal juga menjadi jiwa dari film ini. Joan Wakum, aktris asal Papua yang juga memerankan tokoh utama, memimpin pengembangan musik dengan menggabungkan ritme tradisional Papua dan orkestrasi sinematik.

“Saya sangat berharap bahwa film ini bukan cuma sekedar film saja, lagu-lagu, apa yang ditunjukkan dalam visual di dalam film ini adalah kebanggaan kami anak-anak Papua. Ini tong punya tradisi yang akan kita bawa,” tutur Joan.

Film Teman Tegar: Maira–Whisper from Papua sudah tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 5 Februari 2026. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya