Headline

Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.

Mudarat Paling Kecil

27/1/2026 05:00
Mudarat Paling Kecil
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra. Di satu sisi, langkah itu dipandang sebagai peluang diplomatik untuk ikut memengaruhi arsitektur perdamaian global. Di sisi lain, ada kegelisahan yang sahih, yaitu jangan-jangan keikutsertaan tersebut justru menyeret Indonesia ke pusaran skema yang mengaburkan keadilan, khususnya bagi Palestina.

Langkah bergabung ke Dewan Perdamaian untuk Gaza itu menempatkan Indonesia kembali pada posisi yang tak asing. Apa itu? Berjalan di lorong sempit antara idealisme politik luar negeri dan realitas konstelasi kekuasaan global. Bagi Indonesia, isu Palestina bukan sekadar soal politik luar negeri, melainkan juga amanat konstitusional dan moral historis.

Karena itu, keikutsertaan dalam Dewan Perdamaian mestinya tidak boleh menghilangkan prinsip keadilan bagi rakyat Palestina. Indonesia harus tetap berdiri tegak memperjuangkan kemerdekaan Palestina, bukan tergelincir ke jalan kompromi yang beraroma neokolonialisme, yakni ketika ketimpangan relasi kuasa dibungkus dengan jargon perdamaian.

Jikapun Indonesia memilih masuk, keputusan itu semestinya dipahami sebagai upaya mencari mudarat paling kecil di antara mudarat yang ada. Seperti kaidah dalam ushul fiqh yang masyhur, yakni yurtakabu akhaffu al-dararayn, yang artinya, pilihlah atau lakukan mudarat yang lebih ringan di antara dua mudarat. Apalagi dunia hari ini memang bukan ruang steril bagi idealisme murni.

Namun, realisme politik tidak boleh berubah menjadi kepasrahan moral. Bergabung bukan berarti membenarkan. Keikutsertaan Indonesia seharusnya tidak berhenti pada simbol kehadiran. Indonesia dituntut mampu mengubah dinamika internal dewan tersebut, bukan sekadar mengikuti arus kepentingan Washington. Keterlibatan yang menempatkan Indonesia dalam posisi subordinat justru akan menggerus martabat politik luar negeri yang selama ini dibangun di atas prinsip bebas aktif.

Indonesia tidak boleh tergelincir menjadi 'antek-antek Trump', apalagi jika kehadiran itu berujung pada peran sebagai satpam proyek tertentu, termasuk pengamanan skema real estat di Gaza, melalui pengiriman pasukan Pasukan Stabilisasi Internasional. Di titik itu, batas antara misi perdamaian dan agenda tersembunyi menjadi kabur.

Apalagi posisi Israel dalam dewan tersebut menyisakan tanda tanya besar, yakni apakah Israel ditempatkan sebagai aktor setara yang netral ataukah diakui sebagai occupying power yang selama puluhan tahun melanggar hukum internasional? Mengabaikan pertanyaan itu sama saja dengan menerima kerangka perdamaian yang timpang sejak awal.

Keterlibatan tanpa prinsip berisiko menjadikan Indonesia sekadar legitimasi moral atau bahkan bemper, bagi skema politik yang justru merugikan perjuangan kemerdekaan Palestina. Nama besar Indonesia sebagai negara dengan komitmen antikolonial dapat digunakan untuk memperhalus agenda yang problematik tanpa benar-benar menyentuh akar konflik.

Memang Indonesia berada dalam kemelut dilema. Menolak secara frontal berarti berhadapan langsung dengan Amerika Serikat, kekuatan global yang pengaruhnya tak bisa diabaikan. Menerima tanpa syarat, sebaliknya, membuka peluang Indonesia terseret dalam permainan yang bertentangan dengan nilai-nilai yang selama ini diperjuangkan. Jalan keluar dari dilema itu ialah diplomasi yang berprinsip, vokal, dan cerdas.

Indonesia harus memastikan sejak awal dan secara terbuka bahwa proyek Dewan Perdamaian ala Trump benar-benar ditujukan untuk mewujudkan perdamaian yang adil, termasuk kemerdekaan Palestina, bukan sekadar stabilitas semu yang melanggengkan pendudukan. Perdamaian tanpa keadilan bukanlah perdamaian, melainkan penundaan konflik.

Lebih-lebih lagi meski Dewan Perdamaian itu lahir dari kebutuhan transisi pascakonflik di Gaza, pembentukannya tidak sepenuhnya berangkat dari semangat perdamaian sejati. Wacana bahwa lembaga itu disiapkan sebagai alternatif, bahkan pengganti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), menguatkan kesan bahwa kepentingan nasional AS menjadi faktor dominan. Jika demikian, pertanyaan mendasarnya ialah sejauh mana ruang bagi keadilan substantif bagi Palestina?

Pemerintah, melalui Menteri Luar Negeri Sugiono, memang telah menepis kekhawatiran bahwa Dewan Perdamaian hanyalah alat politik Trump. Menurutnya, badan tersebut merupakan mekanisme tambahan yang lahir dari kepedulian bersama untuk menciptakan perdamaian dan stabilitas di Gaza, yang sejalan dengan politik luar negeri Indonesia yang konsisten memperjuangkan Palestina. Keputusan bergabung, kata Menlu Sugiono, diambil melalui konsultasi intensif dengan kelompok negara Group of New York yang melibatkan negara-negara Timur Tengah dan Asia dengan kepentingan langsung terhadap isu Palestina.

Komposisi pendiri, yakni Arab Saudi, Emirat Arab, Qatar, Yordania, Turki, Pakistan, Mesir, dan Indonesia, memberikan sinyal bahwa dewan tersebut tidak sepenuhnya berada dalam kendali Barat. Bahkan, hingga kini, selain AS belum ada negara Barat lain yang bergabung. Fakta itu membuka ruang tafsir bahwa Indonesia dan negara-negara Global South masih memiliki peluang untuk mengawal arah dewan agar tidak melenceng dari tujuan awal, yakni kemerdekaan Palestina dan solusi dua negara.

Namun, peluang tidak otomatis menjadi jaminan. Sejarah panjang konflik Palestina mengajarkan bahwa banyak inisiatif perdamaian berakhir sebagai legitimasi status quo. Karena itu, ukuran keberhasilan Indonesia bukan pada keberaniannya duduk di meja yang sama dengan kekuatan besar, melainkan pada konsistensinya menjaga prinsip.

Dalam situasi global yang sarat kepentingan, bergabung mungkin menjadi pilihan realistis. Namun, realisme tanpa kewaspadaan hanya akan menjerumuskan Indonesia menjadi figuran. Tantangannya kini ialah memastikan kehadiran Indonesia benar-benar menggeser arah, bukan sekadar menghaluskan agenda yang sejak awal problematik. Layakkah kita yakin?

 



Berita Lainnya
  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.

  • Tuas Rem Trump-Khamenei

    03/2/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di bibir jurang.

  • Etika Mundur di Pasar Modal

    02/2/2026 05:00

    PATUT dicatat sebagai rekor nasional. Bila perlu dengan tinta tebal. Hanya dalam satu hari, lima pejabat otoritas keuangan mengundurkan diri.

  • Keadilan dalam Sepotong Es Gabus

    30/1/2026 05:00

    HUKUM dan keadilan mestinya berada dalam satu tarikan napas. Hukum dibuat untuk mewujudkan keadilan.

  • Kejar Jambret Dikejar Pasal

    29/1/2026 05:00

    DI negeri ini, keadilan tak jarang tersesat di tikungan logika dan persimpangan nalar.

  • Noel agak Laen

    28/1/2026 05:00

    IMANUEL 'Noel' Ebenezer memang bukan sembarang terdakwa korupsi.

  • Pengawas Mati, Korupsi Tumbuh

    26/1/2026 05:00

    KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.

  • Rupiah Vs IHSG

    23/1/2026 05:00

    ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.

Opini
Kolom Pakar
BenihBaik