Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Beda Sri dan Purbaya

01/11/2025 05:00
Beda Sri dan Purbaya
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

PURBAYA Yudhi Sadewa dan Sri Mulyani punya pandangan sama tentang utang Indonesia. Uniknya, dampak dan penerimaan publik berbeda. Saat menjadi menteri keuangan, Sri Mulyani berkali-kali bilang tidak usah risau dengan utang negara kita. Semuanya terjaga dan dikelola dalam prinsip kehati-hatian.

Kini, posisi menteri keuangan dijabat Purbaya. Menteri keuangan jelas tidak mungkin berkelit dari pertanyaan soal utang. Karena itu, ketika ditanya soal yang sama, tentang kemampuan kita membayar utang yang lebih dari Rp9.000 triliun itu, jawaban Purbaya sama dengan Sri Mulyani, yakni kenapa mesti khawatir? Bedanya hanya diksi: risau dan khawatir.

Purbaya menanggapi kekhawatiran publik soal besarnya utang pemerintah yang pada Juni 2025 tercatat mencapai Rp9.138 triliun dengan rileks. Ia menegaskan kondisi fiskal Indonesia masih aman dan terkendali sehingga tidak ada alasan untuk panik terhadap kemampuan negara membayar kewajiban tersebut. "Kenapa Anda khawatir tentang utang?" tanya Purbaya dalam sesi diskusi dengan ekonom Indef, Aviliani, di acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia di Jakarta, awal pekan ini.

"Kata siapa uangnya enggak cukup untuk membayar? Kalau Anda belajar fiskal, kan, tahu rasio atau ukuran-ukuran satu negara bisa bayar utang seperti apa. Bayar mau atau mampu," tambah dia.

Purbaya lalu menjelaskan lembaga pemeringkat (rating agency) yang menilai kemampuan fiskal suatu negara berdasarkan dua indikator utama, yaitu deficit to GDP ratio (rasio defisit APBN terhadap produk domestik bruto) dan debt to GDP ratio (rasio utang terhadap produk domestik bruto). Dalam dua hal itu, posisi Indonesia masih sangat sehat.

Jika dilihat dari indikator paling ketat, yakni Maastricht Treaty alias Perjanjian Maastricht, sekalipun, masih aman. Dalam ukuran Perjanjian Maastricht, rasio defisit terhadap PDB yang aman 3%, sedangkan rasio utang terhadap PDB tidak lebih dari 60%.

Lalu, berapa Indonesia? Rasio defisit terhadap PDB di bawah 3%, dengan rasio utang terhadap PDB sekitar 40%. Jadi, dengan standar internasional yang paling ketat pun, kita masih prudent alias tetap terjaga.

Apalagi jika rasio utang kita dibandingkan dengan rasio utang sejumlah negara besar di dunia, Indonesia masih separuhnya, malah sepertiganya. Sejumlah negara Eropa memiliki rasio utang terhadap PDB mereka mendekati 100%. Amerika Serikat 100%, Jepang 275%, dan Singapura sekitar 90%. Jadi, posisi Indonesia masih jauh lebih aman. Karena itu, kata Purbaya, tidak perlu panik.

Purbaya memastikan pemerintah berkomitmen menjaga defisit anggaran dan rasio utang tetap terkendali dalam batas aman. Barulah bila perekonomian nasional tumbuh lebih kuat di masa depan, misalnya tumbuh 7%, pemerintah dapat mempertimbangkan langkah-langkah strategis untuk mengelola utang secara lebih fleksibel.

Tidak ada yang baru dari jawaban Purbaya. Menkeu sebelumnya, Sri Mulyani, berkali-kali menyatakan hal serupa saat ditanya soal utang negara. Pada September tahun lalu, misalnya, Sri Mulyani menilai masyarakat Indonesia cenderung sangat sensitif ketika mendengar kata utang. Padahal, menurut dia, utang itu tak selamanya buruk.

Sri Mulyani menjelaskan tingkat utang di banyak negara ketika itu juga membeludak, terutama karena pandemi covid-19. Sama dengan Purbaya, Sri juga mencontohkan Eropa. Di 'Benua Biru' itu banyak negara punya rasio utang yang meningkat menjadi sekitar 100% dari PDB, bahkan ada yang 120%.

Pada Agustus lalu, Sri Mulyani kembali meyakinkan publik bahwa negara punya kemampuan membayar utang. Pemerintah juga akan menjaga rasio utang terhadap PDB tidak akan lebih dari 60%. Begitu juga defisit, juga akan dijaga di bawah 3% dari PDB.

Terus, di mana perbedaan Purbaya dengan Sri Mulyani soal utang? Setidaknya ada dua yang berbeda. Pertama, tingkat kepercayaan publik terhadap Purbaya masih tinggi. Sebaliknya, kepercayaan terhadap Sri Mulyani mulai tergerus, bisa jadi karena faktor kejenuhan. Itu-itu terus.

Purbaya, baru menjabat dalam hitungan bulan. Masih segar. Ia media darling dan netizen darling. Karena itu, meski ucapannya sama, kadar kepercayaan publik berbeda. Setelah mendengar Purbaya mengatakan utang kita aman dan bisa dibayar, publik percaya dan tenang. Saat diminta tidak panik, publik manut dengan tidak panik.

Perbedaan kedua, ada pada keyakinan dan janji dari Purbaya bahwa jika pertumbuhan ekonomi membaik, misalnya 7%, akan ada langkah-langkah yang lebih fleksibel dalam pengelolaan utang. Ada optimisme bahwa ekonomi terus bergerak dan utang digunakan untuk hal-hal produktif.

Jadi, meski percaya bahwa utang negara terjaga, bukan berarti pemerintah bisa suka-suka dan menutup mata pada peringatan waspada. Percaya diri boleh, tapi terlalu percaya diri jangan.



Berita Lainnya
  • Vietnam Melaju Kencang

    20/1/2026 05:00

    KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.

  • Suara Profesor 15 Januari

    19/1/2026 05:00

    SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.

  • Setan pun Minder

    15/1/2026 05:00

    INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.

  • Regenerasi Koruptor

    14/1/2026 05:00

    Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.

  • Angka Tiga

    13/1/2026 05:00

    PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).

  • Burung Diadili, Bencana Dibiarkan

    12/1/2026 05:00

    PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah

  • Kutukan Ekonomi Ekstraktif

    09/1/2026 05:00

    VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai

  • Maduro dan Silfester

    08/1/2026 05:00

    APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.

  • Negara Bahagia

    07/1/2026 05:00

    INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.

  • Angka Lima

    06/1/2026 05:00

    ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.

  • Demokrasi Donat Pilkada tanpa Rakyat

    05/1/2026 05:00

    SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.

  • Pertobatan Ekologis

    03/1/2026 05:00

    ADAKAH berita baik di sepanjang 2025? Ada, tapi kebanyakan dari luar negeri. Dari dalam negeri, kondisinya turun naik

  • Tahun Lompatan Ekonomi

    02/1/2026 05:00

    SETIAP datang pergantian tahun, kita selalu seperti sedang berdiri di ambang pintu. Di satu sisi kita ingin menutup pintu tahun sebelumnya dengan menyunggi optimisme yang tinggi.

  • Tahun Baru Lagi

    31/12/2025 05:00

    SETIAP pergantian tahun, banyak orang memaknainya bukan sekadar pergeseran angka pada kalender, melainkan juga jeda batin untuk menimbang arah perjalanan bersama.

  • Tunas Terempas

    30/12/2025 05:00

    SUARANYA bergetar nyaris hilang ditelan hujan deras pada senja pekan silam. Nadanya getir mewakili dilema anak muda Indonesia yang menjadi penyokong bonus demografi.  

  • SP3 Setitik Gadai Prestasi

    29/12/2025 05:00

    IBARAT nila setitik rusak susu sebelanga. Benarkah nila setitik bernama surat perintah penghentian penyidikan (SP3) mampu menggadaikan sebelanga prestasi KPK?