Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Kabinet Gitu-Gitu Aja

18/9/2025 05:00
Kabinet Gitu-Gitu Aja
Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

PRESIDEN Prabowo Subianto sudah merombak Kabinet Merah Putih sebanyak tiga kali. Yang paling baru dilakukan pada Rabu (16/9), terutama dengan sejumlah pengisian jabatan menteri dan wakil menteri yang masih kosong lantaran belum terakomodasi pada reshuffle kabinet gelombang kedua pada pekan sebelumnya, Senin (8/9).

Kini kursi menteri koordinator bidang politik dan keamanan (menko polkam) dan menteri pemuda dan olahraga (menpora) yang sempat kosong sudah terisi. Begitu pun dengan posisi wakil menteri ketenagakerjaan dan wakil menteri koperasi yang tak lagi lowong.

Di perombakan gelombang ketiga ini ada pula kocok ulang anggota kabinet yang ditunjuk untuk mengisi jabatan baru. Contohnya Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Angga Raka Prabowo yang didapuk menjadi Kepala Badan Komunikasi Pemerintah. Badan itu merupakan transformasi dari Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO). Selain itu, Presiden mengangkat sejumlah kepala lembaga dan jabatan strategis lain.

Banyak perspektif yang muncul memaknai langkah Presiden me-reshuffle kabinetnya itu, khususnya reshuffle gelombang kedua dan ketiga. Sebagian kalangan melihat itu sebagai bentuk respons Prabowo atas kinerja sejumlah kementerian selama 10-11 bulan terakhir yang harus diakui kurang atau bahkan tidak menggigit. Beberapa malah lebih sering bikin gaduh ketimbang menunjukkan hasil kerja mereka.

Dengan merombak pembantunya, Presiden kiranya ingin segera memperbaiki 'keompongan' kinerja itu sehingga saat masuk tahun kedua pemerintahan, Oktober nanti, kerja kabinet lebih trengginas. Itu sekaligus menjadi cara untuk mengembalikan kepercayaan publik terhadap pemerintah yang sempat rontok saat situasi politik memanas beberapa waktu lalu.

Pada sudut pandang yang lebih politis, ada juga yang mengaitkan perombakan kabinet ini dengan upaya Prabowo melepaskan diri dari pengaruh pendahulunya, Joko Widodo alias Jokowi. Karena itu, sejumlah orang yang pernah menjadi menteri di kabinet Jokowi, seperti Budi Arie Setiadi dan Dito Ariotedjo, ikut dicopot pada reshuffle jilid kedua.

Melalui reshuffle itu Prabowo juga dinilai sedang mengonsolidasikan kekuasaan atau dengan kata lain ingin memperlihatkan bahwa kendali penuh terhadap kekuasaan ada di tangan dia. Itu bisa dilihat dari menteri dan pejabat yang dilantik pada reshuffle jilid II dan III yang sebagian besar ialah mereka yang berada di lingkaran Presiden.

Benar atau tidaknya pandangan dan penilaian itu barangkali hanya Prabowo yang tahu. Bukankah reshuffle kabinet merupakan hak prerogatif Presiden? Hak prerogatif ialah hak yang mutlak dimiliki Presiden sebagai kepala pemerintahan. Saking mutlaknya, andai kata kocok ulang kabinet itu dilakukan tidak disertai alasan sekalipun, itu sah-sah saja.

Namun, apa pun itu, yang namanya reshuffle akan selalu jadi topik menarik untuk didiskusikan, dibincangkan, didebatkan, bahkan dikritik. Itu juga sah-sah saja. Enggak ada larangan untuk mendebat atau mengkritik kebijakan pemerintah di negara demokrasi ini, kan?

Paling tidak, di level masyarakat akan muncul pertanyaan, apakah substansi dari tiga kali reshuffle yang dilakukan Presiden Prabowo itu sudah memenuhi ekspektasi mereka? Jangan-jangan ini sekadar 'pertunjukan' tanpa makna, jauh dari substansial, yang niatnya hanya untuk memperlihatkan kepada publik, 'ini lo pemerintah sudah berusaha memperbaiki diri seperti tuntutan kalian'.

Sejujurnya, masih cukup banyak ekspektasi masyarakat yang belum terakomodasi dari tiga tahap reshuffle itu. Yang pertama ialah harapan publik yang menginginkan Presiden mengganti menteri-menteri yang dianggap 'bermasalah', kerap bikin gaduh, yang kerja dan ucapannya sering tidak menunjukkan empati malah menyakiti rakyat. Harapan itu, harus diakui, tak tereksekusi sepenuhnya di reshuffle tiga jilid itu.

Apa contohnya? Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, misalnya, yang beberapa waktu lalu kedapatan main domino dengan orang yang pernah menjadi tersangka pembalakan liar. Sebagai menteri kehutanan, tindakan Raja itu dinilai tidak etis. Ia bahkan sempat dipanggil Prabowo ke istana untuk menjelaskan perilaku gegabahnya itu. Namun, alih-alih diberi sanksi, ia tidak dicopot dari kabinet. Sekadar digeser pun tidak.

Lalu, sosok seperti Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang tidak hanya sekali menelurkan kebijakan kontroversial. Mulai aturan soal distribusi gas elpiji 3 kilogram yang membuat masuyarakat sulit mendapatkan gas. Saat itu, persoalan mereda setelah Presiden turun tangan membatalkan aturan tersebut.

Belakangan ia kembali melempar rencana nyeleneh perihal tata kelola impor dan distribusi BBM untuk perusahaan swasta. Bahlil meminta SPBU swasta yang kini tengah digempur kelangkaan pasokan agar membeli BBM dari Pertamina. Itu juga bikin heboh, istana pun sudah menyoroti isu itu. Namun, dengan segudang kontroversi itu, posisi Bahlil di kabinet nyatanya aman-aman saja.

Ekspektasi publik berikutnya yang tidak tergambar dari reshuffle ala Prabowo ialah soal postur kabinet. Setelah dirombak, 'diobrak-abrik' sampai tiga kali pun, kabinet tetap gemuk. Jumlah menteri dan wamen malah bertambah setelah dibentuk Kementerian Haji dan Umrah.

Padahal, langkah perombakan semestinya jadi momentum untuk melangsingkan kabinet. Sudah terbukti, selama 10 bulan berjalan, kabinet tambun tak berjalan efektif dan lamban. Teramat sayang Prabowo tak memanfaatkan kesempatan itu untuk merampingkan kabinet sekaligus melajukan kerja mereka.

Melalui perombakan kabinet, sesungguhnya publik menaruh harapan tinggi. Ada antusiasme saat mereka menunggu-nunggu pengumuman reshuffle. Karena itu, ketika perubahan yang dihasilkan dari kocok ulang itu ternyata cuma minimal, kiranya wajar kalau publik kecewa. Jadi, biar enggak kecewa berkali-kali, kalau tahun depan ada tanda-tanda bakal reshuffle kabinet lagi, turunkan saja ekspektasinya, tak perlu tinggi-tinggi. Toh, hasilnya bakal sama, gitu-gitu aja.



Berita Lainnya
  • Vietnam Melaju Kencang

    20/1/2026 05:00

    KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.

  • Suara Profesor 15 Januari

    19/1/2026 05:00

    SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.

  • Setan pun Minder

    15/1/2026 05:00

    INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.

  • Regenerasi Koruptor

    14/1/2026 05:00

    Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.

  • Angka Tiga

    13/1/2026 05:00

    PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).

  • Burung Diadili, Bencana Dibiarkan

    12/1/2026 05:00

    PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah

  • Kutukan Ekonomi Ekstraktif

    09/1/2026 05:00

    VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai

  • Maduro dan Silfester

    08/1/2026 05:00

    APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.

  • Negara Bahagia

    07/1/2026 05:00

    INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.

  • Angka Lima

    06/1/2026 05:00

    ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.

  • Demokrasi Donat Pilkada tanpa Rakyat

    05/1/2026 05:00

    SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.

  • Pertobatan Ekologis

    03/1/2026 05:00

    ADAKAH berita baik di sepanjang 2025? Ada, tapi kebanyakan dari luar negeri. Dari dalam negeri, kondisinya turun naik

  • Tahun Lompatan Ekonomi

    02/1/2026 05:00

    SETIAP datang pergantian tahun, kita selalu seperti sedang berdiri di ambang pintu. Di satu sisi kita ingin menutup pintu tahun sebelumnya dengan menyunggi optimisme yang tinggi.

  • Tahun Baru Lagi

    31/12/2025 05:00

    SETIAP pergantian tahun, banyak orang memaknainya bukan sekadar pergeseran angka pada kalender, melainkan juga jeda batin untuk menimbang arah perjalanan bersama.

  • Tunas Terempas

    30/12/2025 05:00

    SUARANYA bergetar nyaris hilang ditelan hujan deras pada senja pekan silam. Nadanya getir mewakili dilema anak muda Indonesia yang menjadi penyokong bonus demografi.  

  • SP3 Setitik Gadai Prestasi

    29/12/2025 05:00

    IBARAT nila setitik rusak susu sebelanga. Benarkah nila setitik bernama surat perintah penghentian penyidikan (SP3) mampu menggadaikan sebelanga prestasi KPK?