Headline

Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.

Akhirnya Komisaris

11/7/2025 05:00
Akhirnya Komisaris
Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

PENUNJUKAN seseorang menjadi petinggi badan usaha milik negara alias BUMN tak jarang memantik pertanyaan. Di antara sekian kontroversi ihwal itu, kiranya pengangkatan Ade Armando termasuk yang paling kontroversial.

Ade baru saja mendapatkan jabatan empuk di PT PLN Nusantara Power (PLN NP). Di anak perusahaan PLN pada sektor pembangkit tenaga listrik itu, dia masuk jajaran komisaris bersama Suharyono, M Pradana Indraputra, Adam Muhammad, dan Muhammad Syafi'i. Pradana ialah Staf Khusus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Ada pula Edi Srimulyanti sebagai komisaris utama merangkap komisaris independen.

Seempuk kursi komisaris, kantong Ade tentu akan semakin tebal. Gajinya ratusan juta rupiah. Belum lagi beragam tunjangan lain, THR, dan yang utama tantiem. Bagi kebanyakan rakyat Indonesia, mimpi pun dilarang untuk mendapat penghasilan sebanyak itu saban bulan. Mustahil.

Begitulah Ade akhirnya menjadi komisaris. Dia mendapat kabar penunjukan tersebut pada 2 Juli lalu. Akhirnya? Ya, itulah narasi yang bertebaran di media sosial. Narasi berintonasi negatif, reaksi bernada miring. Doktor ilmu komunikasi dari Universitas Indonesia itu dinilai tak sia-sia menjadi pendukung garis keras kekuasaan selama lebih dari 10 tahun terakhir. Kegigihannya, semangatnya, ketekunannya membela Jokowi dan keluarga dinilai tak percuma, ada hasilnya.

Dulu, saban kali mati-matian membela Jokowi dan trahnya, tiap kali melawan habis-habisan para oposan keluarga Solo itu, netizen selalu berpesan Ade untuk sabar. Sabar menunggu giliran mendapatkan jabatan. Entah menteri, wakil menteri, staf khusus, atau komisaris.

Pesan yang tentu saja merupakan sindiran, nyinyiran. Ade memang terbilang telat mendapat jabatan. Banyak kolega sebarisan yang sudah lebih lama ketiban cuan kekuasaan. Kini, kesabaran itu berbuah manis. Akhirnya. Kata itu sindiran, nyinyiran.

Amat banyak komentar buruk atas penunjukan Ade sebagai komisaris PLN NP. Mereka yang sejak awal berlawanan galak mengecam. Mereka yang dulu teman, sama-sama di barisan Jokowi, tapi kemudian berselisih jalan, tak kalah garang. Saking galaknya, saking garangnya, ada yang menyebut Ade akhirnya menjadi komisaris karena sangat konsisten. Konsisten dalam hal apa? Menjadi penjilat. Duh, begitu burukkah stigma seorang Ade? Sebegitu rendahkah label untuk mantan dosen UI yang kini menjadi politikus PSI itu?

Penjilat ialah sebutan paling hina, sangat nista. Sejak ribuan tahun lalu, filsuf seperti Plato, Aristoteles, Seneca, atau Francis Baron sudah mengingatkan bahaya penjilat. Ia, yang selalu ingin menyenangkan orang lain, terutama pemangku kuasa, dapat merusak integritas dan kebijaksanaan seseorang. Apalagi jika orang yang dijilat memang suka dijilat. Sempurnalah daya rusaknya.

Kembali ke pertanyaan awal, benarkah Ade penjilat sehingga akhirnya menjadi komisaris? Sulit memastikan itu. Yang pasti, Bang Ade memang luar bisa mendukung Jokowi dan keluarganya. Puja-puji kerap kali terlontar dari mulutnya. Dia surplus keyakinan untuk menjuluki Jokowi sebagai presiden terbaik Indonesia.

Tak cuma buat sang bapak, Ade juga menyanjung setinggi gunung Gibran Rakabuming Raka, anak mbarep Jokowi. Kata dia, Gibran yang baru menjabat sekira delapan bulan ialah wakil presiden terbaik sepanjang sejarah. Artinya, Gibran lebih baik ketimbang Bung Hatta, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Adam Malik, Try Sutrisno, BJ Habibie, atau wakil-wakil presiden sebelumnya. Hebat, kan?

Lidah tak bertulang. Ade kiranya juga demikian. Dulu, dia luar biasa memusuhi Prabowo. Bahkan, menjelang Pilpres 2024 saat masih pro Ganjar Pranowo, dia membeberkan enam alasan kenapa Prabowo tak layak menjadi presiden. Mulai keterlibatan dalam pelanggaran HAM, hubungannya dengan Cendana, hingga komitmen memberantas korupsi yang diragukan.

Namun, seluruh rakyat negeri ini tahu, Ade berubah haluan. Ganjar ditinggalkan, Prabowo dia jagokan. Alasannya suka-suka dialah. Namanya juga politikus.

Karena itu, tak salah kalau kemudian banyak yang mengaitkan kursi komisaris buat Ade ialah buah dari konsistensinya menjadi fan keluarga Jokowi. Bagaimanapun sang mantan masih berpengaruh. Apalagi ada Gibran sebagai orang nomor dua di Republik ini. Ade akhirnya dapat jabatan tentu juga lantaran berubah sikap mendukung Prabowo.

Perihal kemampuan? Saya, sih, sepakat dengan anggapan kursi mahal itu sekadar menjadi medan bagi-bagi jabatan. Banyak banget, kok, orang yang tak jelas kapasitas dan kapabilitasnya ujug-ujug jadi komisaris.

Pendukung bisa menjadi fan, fan cenderung menjadi pemuja, dan pemuja dapat menjadi penjilat. Apakah Ade demikian? Banyak yang menuduhnya begitu. Tentu dia membantah. Itu haknya.

Terlepas dari kasus Ade, ada pitutur untuk tak menjadi penjilat. Dalam lagunya, Nak-2, legenda hidup Iwan Fals membuat satire luar biasa tajam. Begini petikan liriknya:

'...Sekolahlah biasa saja

Jangan pintar-pintar percuma

Latihlah bibirmu agar pandai berkicau

Sebab mereka sangat perlu kicau yang merdu

Sekolah buatmu hanya perlu untuk titel

Peduli titel didapat atau titel mukjizat

( ya ya ya ya )

Sekolah buatmu hanya perlu untuk gengsi

Agar mudah bergaul tentu banyak relasi

Jadi penjilat yang paling tepat

Kariermu cepat uang tentu dapat

Jadilah Durna jangan jadi Bima

Sebab seorang Durna punya lidah sejuta...'

 



Berita Lainnya
  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."