Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Tiga Musuh Bansos

10/7/2025 05:00
Tiga Musuh Bansos
Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

BANTUAN sosial atau bansos pada dasarnya merupakan insiatif yang mulia. Itu ialah instrumen negara untuk melindungi ketahanan sosial ekonomi masyarakat. Bagi rakyat kecil yang masuk kelompok sasaran bansos, program yang sepenuhnya dibiayai negara itu sangatlah membantu meringankan beban hidup mereka, apalagi di tengah kondisi perekonomian yang mencekik leher seperti sekarang.

Namun, karena pada praktiknya banyak penyimpangan dan penyelewengan, terutama dalam hal pendistribusian, tujuan baik bansos jadi kerap tertutupi. 'Nama baik' bansos jadi tercoreng karena praktik penyimpangan terus saja terjadi. Sialnya, pencoreng nama bansos itu malah makin banyak belakangan ini. Bukan cuma dari sisi pengelola atau penyalur, melainkan juga penerima bansos.

Kita mulai dari sisi pengelola, yaitu pemerintah. Karena ada anggaran besar di situ, godaan untuk melencengkan pemanfaatan dana bansos menjadi besar pula. Sudah banyak contoh kasus bagaimana bansos dengan semena-mena diselewengkan dari tujuan awal demi tujuan lain.

Pertama tentu saja soal korupsi. Anggaran bansos yang seharusnya disalurkan untuk membantu mendongkrak daya beli masyarakat miskin, membantu keluarga miskin meningkatkan peluang keluar dari garis kemiskinan, sering kali malah ditilap para pejabat pemerintah. Anggaran untuk orang miskin dicuri pejabat kaya.

Gara-gara itu, ada yang kemudian dengan sarkas memelesetkan kepanjangan bansos menjadi 'bandit sosial' lantaran saking banyaknya bandit alias penjahat berkedok pejabat yang menjarah dana sosial. Dengan alasan yang sama, ada pula yang memanjangkan singkatan bansos menjadi 'bancakan sosial'.

Itu semata merupakan ekspresi kegeraman publik yang sudah demikian memuncak. Publik marah dan muak melihat kelakuan para pejabat karena bahkan dalam kondisi darurat bencana ataupun darurat nonbencana pun, bandit-bandit itu tak segan melancarkan aksi lancung mereka, menjadikan bansos sebagai bancakan korupsi.

Kalau mau contoh paling spektakuler, ya, kejadian saat pandemi covid-19 yang bahkan sampai menyeret menteri sosial kala itu ke balik jeruji penjara karena terbukti menerima suap bansos penanganan pandemi untuk wilayah Jabodetabek pada 2020. Kasus yang totalnya menyebabkan kerugian negara hingga Rp125 miliar itu juga menyeret beberapa orang lain di lingkungan kementerian lain dan swasta.

Penyimpangan berikutnya yang dilakukan pengelola ialah politisasi bansos. Bantuan yang seharusnya diniatkan sebulat-bulatnya untuk membantu mengentaskan masyarakat dari kemiskinan malah diembel-embeli tujuan politik kepentingan kelompok tertentu. Bansos jadi alat tawar politik, jadi instrumen untuk membarter elektoral.

Mau contoh? Lihat saja pelaksanaan dua pemilu terakhir, terutama pada Pemilu 2024 lalu. Suka tidak suka mesti kita akui politisasi bansos pada akhirnya berhasil menjadi salah satu faktor yang mengubrak-abrik prediksi elektoral pada Pemilu 2024, terutama dalam konteks pilpres. Kelompok yang ditengarai didukung penguasa yang memiliki kuasa atas anggaran bansos berhasil memenangi pemilu dengan skor telak.

Lantas kapan nama bansos tercoreng lantaran ulah penerimanya? Nah, ini ada temuan terbaru dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Menurut lembaga itu, ada lebih dari setengah juta penerima bansos yang diduga memanfaatkan dana bantuan yang mereka terima untuk bermain judi daring atau judi online (judol). Angka itu kurang lebih sama dengan 2% dari total penerima bansos tahun lalu.

PPATK memperoleh data itu setelah mencocokkan 28,4 juta nomor induk kependudukan (NIK) penerima bansos dan 9,7 juta NIK pemain judol. Hasilnya terdapat 571.410 NIK punya kesamaan identitas. Mereka sepertinya bukan pemain judol 'abal-abal', terbukti mereka bisa melakukan 7,5 juta transaksi dengan total deposit mencapai Rp957 miliar.

Bisa dibilang itu kesalahan level combo, dobel, sudah menyalahgunakan bantuan negara, disalahgunakannya pun untuk aktivitas ilegal. Levelnya tak lagi sebatas memanfaatkan dana bansos secara ngawur untuk membeli ponsel, rokok, atau belanja barang yang tidak penting, tapi menyalahgunakannya untuk kegiatan yang berpotensi melanggar hukum.

Negara juga tekor. Sudah setengah mati menggelontorkan triliunan rupiah untuk bansos, eh, sebagian malah dilarikan ke rumah-rumah judi. Pada saat yang sama, tujuan utama penyaluran bansos tidak kesampaian. Ekonomi masyarakat kecil tak kunjung terangkat, angka kemiskinan juga tak berkurang.

Ya, begitulah nasib bansos. Dananya dicoleng, nama baiknya pun dicoreng. Bansos tidak salah apa-apa, tapi konotasi negatif kian menempel padanya akibat penyimpangan-penyimpangan di segala sisi. Belum lagi masalah klasik terkait dengan pendataan penerima bansos yang tak pernah terselesaikan, yang membuat kejadian distribusi salah sasaran masih acap terjadi.

Nasib bansos tak lebih baik daripada nasib orang-orang yang seharusnya menerima bansos, tapi terpaksa gigit jari karena anggarannya keduluan dikorupsi. Sama mengenaskannya dengan nasib masyarakat miskin yang tak masuk daftar penerima bansos hanya lantaran sistem pendataan yang ngawur dan semrawut.

Dengan segala problematikanya, program bansos yang mengantongi anggaran besar memang harus dibentengi dengan aturan yang rigid. Tidak boleh sedikit pun yang abu-abu, jangan pula menyisakan celah, bila tidak mau bansos hanya dimanfaatkan untuk kepentingan lain selain untuk rakyat kecil. Nasib bansos akan jadi lebih baik kalau ia bisa dijauhkan dari tiga musuhnya saat ini: korupsi, politisasi, dan judi.



Berita Lainnya
  • Vietnam Melaju Kencang

    20/1/2026 05:00

    KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.

  • Suara Profesor 15 Januari

    19/1/2026 05:00

    SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.

  • Setan pun Minder

    15/1/2026 05:00

    INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.

  • Regenerasi Koruptor

    14/1/2026 05:00

    Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.

  • Angka Tiga

    13/1/2026 05:00

    PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).

  • Burung Diadili, Bencana Dibiarkan

    12/1/2026 05:00

    PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah

  • Kutukan Ekonomi Ekstraktif

    09/1/2026 05:00

    VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai

  • Maduro dan Silfester

    08/1/2026 05:00

    APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.

  • Negara Bahagia

    07/1/2026 05:00

    INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.

  • Angka Lima

    06/1/2026 05:00

    ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.

  • Demokrasi Donat Pilkada tanpa Rakyat

    05/1/2026 05:00

    SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.

  • Pertobatan Ekologis

    03/1/2026 05:00

    ADAKAH berita baik di sepanjang 2025? Ada, tapi kebanyakan dari luar negeri. Dari dalam negeri, kondisinya turun naik

  • Tahun Lompatan Ekonomi

    02/1/2026 05:00

    SETIAP datang pergantian tahun, kita selalu seperti sedang berdiri di ambang pintu. Di satu sisi kita ingin menutup pintu tahun sebelumnya dengan menyunggi optimisme yang tinggi.

  • Tahun Baru Lagi

    31/12/2025 05:00

    SETIAP pergantian tahun, banyak orang memaknainya bukan sekadar pergeseran angka pada kalender, melainkan juga jeda batin untuk menimbang arah perjalanan bersama.

  • Tunas Terempas

    30/12/2025 05:00

    SUARANYA bergetar nyaris hilang ditelan hujan deras pada senja pekan silam. Nadanya getir mewakili dilema anak muda Indonesia yang menjadi penyokong bonus demografi.  

  • SP3 Setitik Gadai Prestasi

    29/12/2025 05:00

    IBARAT nila setitik rusak susu sebelanga. Benarkah nila setitik bernama surat perintah penghentian penyidikan (SP3) mampu menggadaikan sebelanga prestasi KPK?