Headline

Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.

Biarkan Kaus Berbicara

14/3/2025 05:00
Biarkan Kaus Berbicara
Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

BEBERAPA waktu lalu saya tergelitik dengan tulisan di bagian punggung kaus seseorang yang kebetulan saya temui di sebuah minimarket. Saya sedang antre persis di belakang orang itu sehingga mau tidak mau tulisan itu terpampang jelas di depan mata. Bunyinya begini, 'Kabar buruk setiap hari dikirim oleh negara'.

Menarik, bukan? Sedikitnya ada dua hal yang bagi saya menarik untuk ditelaah. Yang pertama bahwa ini menunjukkan eksistensi kaus oblong sebagai medium untuk mengekspresikan pendapat atau alat kampanye terkait dengan sikap seseorang atau kelompok memang masih kuat. Yang kedua, tentu saja, tentang substansi tulisan yang menggambarkan aura keresahan yang amat kuat dari warga negara tentang situasi negaranya.

Mari kita bahas dari yang pertama. Kaus memang sudah sejak lama menjadi media untuk menunjukkan identitas, ekspresi, bahkan ideologi seseorang. Ia tak sekadar bagian dari fesyen dan gaya hidup. Melalui desain, gambar, kata-kata, sampai pilihan warnanya, kaus telah berkembang menjadi penyampai pesan, humor, sekaligus kritik.

"I speak through my cloth," kata filsuf dan novelis Italia, Umberto Eco. "Aku berbicara melalui bajuku." Dimensi berbicara lewat baju (kaus), tentu saja, bermacam-macam. Boleh jadi hanya berisi kalimat-kalimat guyon atau humor seperti tren yang puluhan tahun silam pernah diinisiasi produsen kaus Joger di Bali dan Dagadu di Yogyakarta.

Bisa pula bahasa humor digabung dengan pesan moral. Contohnya, saya pernah membaca kaus bertuliskan 'Kata Mama, jangan ngobat kalo ga sakit'. Pesan dari kalimat itu tentu ingin mengajak orang agar menjauhi atau tidak menggunakan narkoba. Namun, kalimatnya dibikin ringan dan berbau humor biar menarik buat kalangan anak muda.

Dalam tingkatan yang lebih tinggi, kaus juga bisa berbicara dengan bahasa dan kalimat kritik, dari yang bernada sindiran halus, sarkas, hingga yang to the point alias tanpa tedeng aling-aling. Kritiknya pun beragam level, mulai yang lembut sampai yang paling nyelekit sekalipun.

Pada titik itu, kaus tak ubahnya seperti mural di dinding-dinding kota yang sangat mangkus sebagai ekspresi kritik sosial. Senyap, tapi menohok. Kaus tidak lagi sekadar menjadi media komunikasi visual atau representasi kebudayaan, tetapi juga bisa menjadi simbol perlawanan sosial. Seperti mural pula, kaus dengan sindiran dan kritiknya pun bisa bikin baper dan senewen penguasa.

Anda mungkin masih ingat kejadian pada Agustus 2021 silam, ketika Riswan, desainer kaus di Tuban, Jawa Timur, sempat berurusan dengan polisi gara-gara mengunggah kaus dagangan di akun Twitter (sekarang X) bergambar atau bertuliskan '404:Not Found'. Ketika itu, tulisan tersebut dinilai menyindir Presiden Joko Widodo. Riswan akhirnya dianggap melecehkan simbol negara dan dihukum meminta maaf kepada publik. Ada-ada saja.

Oke, sekarang kita kupas hal kedua, yaitu soal substansi dari kalimat 'Kabar buruk setiap hari dikirim oleh negara'. Secara riil apakah memang sudah sebegitu banyaknya negeri ini dijejali kabar buruk? Saya sebetulnya pengin mengatakan tidak, tetapi makin ke sini, apa yang tertulis di kaus itu rasanya justru makin mendekati fakta. Meskipun tidak datang setiap hari, kabar buruk dari negara betul-betul akrab dengan kita beberapa waktu terakhir ini.

Sebut saja mau mulai dari mana? Soal korupsi, misalnya, nyaris tak ada kabar baik. Yang ada justru berita-berita 'mengerikan' tentang kian murahnya integritas para pejabat pemerintah dan BUMN. Juga tentang makin entengnya mereka mengembat uang negara yang notabene berasal dari rakyat. Satuannya tak lagi juta atau miliar, tapi triliun. Bahkan kini makin banyak korupsi dengan nilai kerugian sampai ratusan triliun.

Soal tata kelola pemerintahan pun sama, isinya lebih banyak kabar buruk ketimbang kabar baik. Ada ketimpangan yang masih menganga antara kebijakan pemerintah dan kebutuhan masyarakat. Ada gap yang terlampau jauh antara das sollen (yang seharusnya) dan das sein (yang nyata, yang terjadi). Pemerintah dan rakyatnya enggak nyambung, bukankah itu kabar buruk?

Dalam konteks itu, kebijakan distribusi elpiji yang amburadul beberapa waktu lalu pasti akan selalu menjadi contoh ketidakbecusan tata kelola pemerintahan. Minimal dalam hal komunikasi. Amsal terbaru ialah polemik penundaan pengangkatan calon aparatur sipil negara (CASN) yang menimbulkan ketidakpastian dan menyebabkan keresahan luar biasa buat para CASN.

Pada saat yang bersamaan, justru ada kementerian, yang menterinya merupakan kader PSI, dengan seenaknya dan tanpa malu-malu memasukkan teman-temannya di partai ke tim Operation Management Office Indonesia’s Forestry and Other Land Use Net Sink 2030. Nepotisme sudah demikian telanjang. Apakah seperti itu kabar baik buat rakyat dari negara? Tentu tidak. Sekali lagi, tulisan di kaus itu tidak salah.

Sektor ekonomi juga penuh dengan kabar buruk. Terlebih ketika ribuan buruh PT Sritex mesti menerima pemutusan hubungan kerja (PHK) karena perusahaannya pailit. Kabar buruk itu akan berlanjut kalau pemerintah tak segera mengambil kebijakan tepat untuk mencegah hal yang sama merembet ke pabrik-pabrik lain, bahkan ke sektor industri yang lain.

Itu semua bukti bahwa keresahan publik yang ditumpahkan lewat kaus itu sesungguhnya tulus. Mereka tak punya 'speaker' yang gelegarnya bisa menjangkau penguasa maka jalan satu-satunya agar suara mereka didengar ialah menuangkannya dalam kalimat di kaus mereka.

Jadi, biarkanlah kaus berbicara. Negara seharusnya dengan senang hati membacanya, tak perlu baper, tak usah alergi.



Berita Lainnya
  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."