Headline
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Kumpulan Berita DPR RI
NAMANYA Bassirou Diomaye Faye. Dia terbilang masih muda untuk ukuran seorang kepala negara. Dia lahir pada 25 Maret 1980 yang berarti usianya baru 45 tahun kurang dikit. Faye ialah presiden Senegal yang akhir-akhir ini menjadi perbincangan lintas negara.
Bisa jadi banyak yang tidak tahu Senegal. Negara itu kurang familiar karena memang tak terlalu punya nama di dunia. Senegal ialah negara di Benua Afrika dengan luas 197 ribu kilometer persegi dan berpopulasi sekitar 15 juta orang. Di timur, ia berbatasan dengan Mali, di selatan dengan Guinea dan Guinea Bissau, di sebelah barat dengan Samudra Atlantik, serta di utara dengan Mauritania.
Senegal boleh saja asing bagi orang awam. Namun, bagi penggemar olahraga, utamanya reli dan sepak bola, ia pasti akrab di telinga. Dulu, Senegal identik dengan reli dunia Paris-Dakar. Reli yang menempuh jarak ribuan kilometer dari Paris, ibu kota Prancis, ke Dakar, ibu kota Senegal.
Dulu dan kini, Senegal ialah gudangnya bintang sepak bola. Berderet pemain hebat meramaikan jagat si kulit bundar. Siapa coba yang tak tahu Sadio Mane, penyerang top yang pernah membela Liverpool, Bayern Muenchen, dan kini berkostum Al Nassr. Tak cuma apik di lapangan hijau, Mane juga baik di lapangan kehidupan. Dia dikenal dermawan, rajin menyisihkan hartanya untuk membantu sesama.
Kembali ke Faye. Presiden kelima dan termuda Senegal itu menyedot atensi karena kerendahan hatinya. Sudah lazim jika foto seorang pemimpin negara dipasang di berbagai tempat seperti kantor pemerintahan, sekolah, fasilitas kesehatan, dan layanan publik lainnya. Namun, tidak dengannya. Faye justru menolak fotonya dipajang.
Penolakan itu viral di media sosial setelah diberitakan Zambian Observer baru-baru ini. ''Saya tidak ingin foto saya ada di kantor,'' begitu kata Faye yang dilantik menjadi presiden Senegal pada 2 April tahun lalu.
Alasannya? Cukup menyentuh. Bisa bikin baper. Menurut Faye, meski menduduki kursi kepresidenan, menjadi orang paling berkuasa, dirinya bukanlah sosok yang patut dikultuskan. "Karena saya bukan dewa, bukan pula ikon, melainkan saya pelayan bagi bangsa. Sebaliknya, taruhlah foto-foto anak-anakmu.''
Kenapa mesti foto anak yang dipajang? Alasannya lebih menyentuh lagi. ''Agar kamu melihatnya setiap kali hendak mengambil keputusan. Jika godaan untuk mencuri muncul, perhatikan baik-baik foto keluarga Anda dan tanyakan kepada diri Anda sendiri apakah mereka pantas menjadi keluarga pencuri yang telah mengkhianati bangsa,'' begitu ujar Faye.
Faye memang bukan pemimpin yang punya nama di dunia. Bukan pula kepala negara besar yang menentukan percaturan internasional. Namun, apa yang dilakukan kiranya memberikan pesan luar biasa ihwal moral para pejabat negara. Dengan menolak fotonya dipajang, dengan meminta jajarannya memasang foto anak-anak mereka, dia ingin mengingatkan bahwa kekuasaan pantang didewakan lalu diselewengkan.
Sikap Faye bukan sekadar imbauan, melainkan juga tamparan bagi banyak pemimpin dan pejabat yang telah menjadikan jabatan di atas segalanya. Dia tidak ingin dikultuskan lewat jutaan foto yang dipajang. Dia hendak menekankan bahwa pemimpin bukanlah orang yang harus dipuja, yang mesti dicinta secara membabi buta, melainkan pelayan yang wajib melayani warganya.
Memajang foto anak atau keluarga di meja kerja sebenarnya pernah pula diterapkan di negeri ini, Indonesia. Dulu, delapan tahun lalu, ada kewajiban bagi para pegawai negeri sipil Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur melakukan itu. Namun, tujuannya lebih agar mereka mengingat keluarga. Maksudnya lebih sebagai penekanan bahwa orangtua ialah kunci menciptakan ketahanan keluarga. Bukan seperti Faye yang meminta para pejabat memasang foto anak agar selalu selalu ingat mereka jika ingin berbuat yang tidak-tidak.
Senegal juga bermasalah dengan korupsi. Itulah kenapa presidennya serius betul menjadikannya sebagai musuh utama. Dia merasa tak perlu fotonya dipajang, dihormati. Dia merasa foto anak lebih punya mantra bagi orangtua untuk berbuat sebagaimana mestinya.
Bahwa korupsi malah menjadi-jadi di negeri ini, Indonesia, itu juga mustahil dimungkiri. Benar belaka humor Gus Dur dan KH Zainuddin MZ bahwa di era Orde Lama korupsi terjadi di bawah meja, zaman Orde Baru di atas meja, sedangkan di Orde Reformasi mejanya sekalian dikorupsi.
Fakta terkini menegaskan itu. Korupsi terjadi di mana-mana, dilakukan siapa saja, tak peduli tua atau anak muda, nilainya pun bikin geleng-geleng kepala. Korupsi di PT Timah, misalnya, kerugian negara Rp300 triliun. Rasuah tata kelola minyak mentah dan pertamax oplosan oleh para bos anak perusahaan PT Pertamina selama 2018-2023 konon merugikan negara hingga Rp1 kuadriliun. Belum usai perkara minyak mentah, datang kasus pengurangan takaran minyak goreng Minyakita. Lagi-lagi rakyat yang ketiban sial.
Memajang foto anak di tempat kerja agar pejabat ingat anak jika ingin korupsi seperti yang dilakukan Faye boleh juga dicoba. Siapa tahu, ia menjadi resep mujarab untuk melawan rasuah yang seolah tiada obatnya. Siapa tahu pejabat akan urung korupsi begitu menatap foto sang buah hati.
Asal bukan malah kebalikannya, memajang foto anak justru membuat mereka makin bernafsu melakukan hal-hal yang tabu. Umpamanya mengakali konstitusi supaya sang anak yang belum cukup umur bisa meneruskan dirinya sebagai pemimpin negeri.
DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.
SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan
TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.
LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.
'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)
JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.
PATUT dicatat sebagai rekor nasional. Bila perlu dengan tinta tebal. Hanya dalam satu hari, lima pejabat otoritas keuangan mengundurkan diri.
HUKUM dan keadilan mestinya berada dalam satu tarikan napas. Hukum dibuat untuk mewujudkan keadilan.
DI negeri ini, keadilan tak jarang tersesat di tikungan logika dan persimpangan nalar.
RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.
KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.
ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.
BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.
REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved