Headline

Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.

Kuda Mati

22/1/2025 05:00
Kuda Mati
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

MEMBACA tulisan Amos Mensah, seorang ahli di bidang ekonomi pertanian dan pengelolaan sumber daya alam, di sebuah portal membuat saya mengulum senyum. Mensah yang meraih gelar doktor bidang ekonomi pertanian dari Georg-August University Gottingen, Jerman, itu membahas relevansi the dead horse theory, alias teori kuda mati. Lengkapnya, artikel itu diberi judul The Dead Horse Theory: The Importance of Cutting Your Losses and Trying Something New.

Itulah ajaran yang berasal dari kearifan suku Indian Dakota, yang diwariskan dari generasi ke generasi. Inti 'ajaran' itu: 'saat Anda menyadari bahwa Anda sedang menunggangi kuda mati, strategi terbaik ialah turun dari kuda itu'.

Teori itu setara metafora satire yang menggambarkan bagaimana orang, komunitas, lembaga, bahkan suatu bangsa menghadapi masalah yang sudah terang benderang, tetapi mereka malah bersikap seolah-olah masalah itu tidak ada atau tidak dipahami. Dengan demikian, terjadilah penyangkalan-penyangkalan, mengabaikannya, berusaha mencari pembenaran, dan mengingkari kenyataan. Langkah-langkah dan strategi yang diambil pun akhirnya tidak masuk akal.

Langkah-langkah itu seperti membeli cambuk yang lebih kuat, untuk mencambuki kuda itu. Pendekatan itu didasarkan pada gagasan bahwa jika kita menerapkan lebih banyak kekerasan atau hukuman, kuda yang mati akan mulai bergerak lagi. Namun, strategi itu amat mungkin hanya akan menyebabkan lebih banyak penderitaan bagi kuda dan sangat mungkin tidak akan memberikan hasil positif.

Dalam pandangan Mensah, pajak yang lebih banyak bagi warga negara ialah contoh menunggangi kuda mati dengan memecuti kuda menggunakan cambuk lebih besar itu. Negeri ini nyaris memberlakukannya lewat penaikan pajak pertambahan nilai (PPN). Beruntung, langkah 'membeli cambuk lebih besar' itu dibatalkan.

Langkah lain yang tidak masuk akal ialah mengunjungi negara lain, melakukan studi banding, untuk melihat bagaimana negara itu menunggangi kuda mati (Mensah mencontohkan studi banding dengan mengunjungi Rwanda untuk belajar sanitasi). Strategi itu didasarkan pada gagasan bahwa jika kita melihat bagaimana budaya lain menangani kuda mati, kita mungkin menemukan solusi yang cocok untuk kita.

Namun, pendekatan itu mengabaikan fakta bahwa kuda tersebut masih mati, dan tidak peduli apa yang dilakukan budaya lain. Amat mungkin kuda tersebut tidak akan dapat dihidupkan kembali kendati berkali-kali menggelar studi banding.

Penyangkalan berikutnya, menurunkan standar dengan memasukkan kuda mati dalam kategorisasi baru. Strategi itu didasarkan pada gagasan bahwa jika kita mendefinisikan kembali apa artinya menjadi 'kuda hidup', kita dapat memasukkan kuda mati ke kandang kita. Namun, pendekatan itu sangat mungkin akan menimbulkan kebingungan dan dapat merusak kredibilitas. Kendati kuda mati dimasukkan ke kandang kuda hidup, ia akan tetap menjadi kuda mati yang tak bernapas, tak bernyawa.

Tidak kalah menggelikan ialah menyangkal dengan cara mengklasifikasi ulang kuda mati menjadi 'kerusakan hidup' sebagaimana yang dilakukan klasifikasi atas Bawumia sebagai Wizkid ekonomi. Strategi itu didasarkan pada gagasan bahwa jika kita mengubah cara berpikir kita tentang kuda mati, kita dapat meyakinkan diri sendiri bahwa kuda mati itu masih hidup. Namun, pendekatan itu tidak jujur dan dapat menimbulkan ketidakpercayaan di antara publik dan pemangku kepentingan.

Menyewa kontraktor luar negeri untuk menunggangi kuda mati juga bentuk langkah tidak masuk akal. Pendekatan itu didasarkan pada gagasan bahwa jika kita mengajak orang lain untuk mengatasi masalah tersebut, mereka mungkin dapat menemukan solusi yang tidak dapat kita temukan. Namun, pendekatan itu mengabaikan fakta bahwa kuda tersebut sudah mati. Siapa pun yang menungganginya, kecil kemungkina untuk ia dihidupkan kembali.

Bentuk penyangkalan lain ialah memanfaatkan beberapa kuda mati bersama-sama untuk meningkatkan kecepatan. Pendekatan itu didasarkan pada gagasan bahwa jika kita menambahkan lebih banyak kuda mati ke dalam campuran, kita mungkin bisa mendapatkan pergerakan dari mereka.

Namun, strategi itu tidak akan membawa hasil positif karena kuda-kuda tersebut sudah mati dan tidak dapat dihidupkan kembali. Begitu pula dengan langkah memberikan tambahan dana dan/atau pelatihan untuk meningkatkan kinerja kuda mati. Pendekatan itu didasarkan pada gagasan bahwa jika kita memberikan lebih banyak sumber daya kepada kuda mati, secara ajaib ia akan hidup kembali dan mulai tampil. Kuda mati tetaplah kuda mati terlepas dari sumber daya yang diberikan.

Langkah aneh lainnya ialah melakukan studi produktivitas untuk melihat apakah pengendara yang lebih ringan bakal meningkatkan performa kuda mati. Pendekatan itu didasarkan pada gagasan bahwa jika kita menemukan penunggang yang tepat, kuda yang mati itu mungkin akan mulai bergerak lagi. Namun, strategi itu mengabaikan fakta bahwa kuda tersebut sudah mati dan tidak dapat dihidupkan kembali siapa pun yang menungganginya.

Sebentar lagi, pemerintahan di bawah Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka bakal menapaki 100 hari. Tidak muluk-muluk, saya berharap kedua pemimpin Republik ini mampu memilah mana 'kuda hidup' dan mana 'kuda mati'. Kalau sudah, tinggal mengakui bahwa 'kuda mati' tetaplah 'kuda mati'. Jangan menapaki hari-hari berikutnya dengan menyangkal lewat berbagai cara agar 'kuda mati' bisa diyakini sebagai 'kuda hidup'.



Berita Lainnya
  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."