Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Belajar dari Koin Jagat

17/1/2025 05:00
Belajar dari Koin Jagat
Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group(MI/ebet)

BAGAIMANA orang Indonesia memperlakukan ruang-ruang publik? Sebagian jawabannya bisa kita lihat dari topik yang belakangan hangat terkait dengan maraknya permainan Koin Jagat. Lewat permainan berbasis aplikasi tersebut, secara tidak langsung terkonfirmasi bahwa kepedulian sebagian masyarakat untuk menjaga ruang dan fasilitas publik masih minim.

Singkatnya, Koin Jagat ialah permainan berburu koin yang disebar secara fisik maupun virtual di ruang-ruang publik. Koin-koin yang didapatkan itu nantinya dapat ditukarkan dengan uang tunai. Nilainya lumayan, koin perunggu, misalnya, bisa bernilai Rp300 ribu hingga Rp1 juta. Nilai koin perak dan koin emas tentu lebih besar lagi.

Iming-iming hadiah uang sungguhan itulah salah satu yang membuat orang-orang, terutama anak muda, terpancing ikut memainkan Koin Jagat. Bukankah menjadi suatu kenikmatan tersendiri bisa mendapatkan uang dari aktivitas yang sifatnya hiburan seperti bermain gim?

Lagi pula, seperti dikatakan ahli sejarah Johan Huizinga, manusia pada dasarnya ialah makhluk bermain (homo ludens). Lewat bukunya, Homo Ludens: a Study of the Play Element in Culture (1938), Huizinga memperkenalkan konsep homo ludens dalam pengertian bahwa bermain ialah karakteristik yang mendasari budaya dan sifat manusia. Dengan konsep itu, bisa dikatakan naluri bermain merupakan salah satu unsur paling fundamental dalam kebudayaan manusia.

Naluri bermain yang dipunyai setiap manusia itulah yang pada era digital saat ini betul-betul dimanfaatkan para pengembang permainan daring untuk menciptakan gim-gim yang seru, atraktif, dan interaktif. Namun, sayangnya tak cuma itu, banyak pula gim daring yang aneh-aneh, termasuk mempromosikan kekerasan, pornografi, dan lain-lain.

Permainan Koin Jagat mungkin bisa dikategorikan dalam gim yang aneh-aneh itu. Permainannya berbasis virtual, tapi praktiknya sampai mengacak-acak fisik ruang publik. Niatnya mungkin mau memadukan teknologi digital dengan pengalaman nyata dalam perburuan koin, tetapi ujungnya malah menimbulkan dampak buruk karena lokasi yang dipilih penyedia aplikasi untuk 'menyimpan' koin-koin itu berada di area umum.

Contohnya banyak. Dari berita-berita yang kita baca belakangan ini, aktivitas perburuan Koin Jagat, salah satunya membuat kawasan Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta, menjadi berantakan. Sejumlah fasilitas umum, seperti taman dan lampu penerangan, rusak akibat perilaku pemain. Bahkan paving block sampai dicopotin hanya demi memburu koin-koin itu.

Kawasan Tebet Eco Park di Jakarta Selatan juga kena getah dari permainan itu. Kini, pengelolanya harus memasang pembatas untuk menghindari kerusakan lebih lanjut. Hal yang sama terjadi di Bandung, Surabaya, Bali, dan beberapa kota besar di Indonesia. Mungkin saking jengkelnya, Pemerintah Kota Surabaya sampai memperingatkan masyarakat dengan menyebarkan poster larangan di media sosial dengan pesan 'Stop rusak fasilitas umum hanya untuk berburu koin jagat'.

Begitu banyaknya kerusakan dan kerugian yang ditimbulkan permainan itu, apalagi yang kena sasaran ialah kepentingan umum, tak salah bila ada orang yang kemudian memelesetkan koin jagat menjadi koin jahat. Sebetulnya, sih, bukan koinnya yang jahat, melainkan pencipta gimnya, para influencer yang mempromosikannya, dan para pemain yang sradak-sruduk dan seenaknya merusak fasilitas publik.

Kini, developer Koin Jagat sudah 'bertobat'. Itu kabar baik. Mereka akan menghapus aktivitas berburu Koin Jagat dan menggantinya dengan Misi Jagat setelah Co-Founder Jagat, Barry Beagen, bertemu dengan Wakil Menkomdigi Angga Raka Prabowo. Misi Jagat, dalam fase awal, katanya akan mendorong perbaikan ruang publik. Itu juga harus diawasi, jangan sampai nanti melenceng lagi jadi misi jahat.

Akan tetapi, dalam konteks yang lebih makro, tentu persoalannya tak cukup selesai di situ. Sedikitnya ada dua problem besar yang mesti menjadi perhatian, terutama oleh negara. Yang pertama terkait dengan pengawasan gim-gim berbasis aplikasi online.

Sudah saatnya Kemenkomdigi lebih proaktif menyisir gim-gim yang berpotensi memunculkan dampak buruk ke masyarakat. Itu setidaknya bisa terindikasi dari gim-gim yang mengandung unsur kekerasan, pornografi, termasuk judi. Jadi, jangan cuma menunggu ekses buruknya viral dulu baru bergerak.

Problem kedua, kembali ke kalimat pembuka tulisan ini soal perlakuan publik terhadap ruang dan fasilitas publik yang masih cenderung abai. Memang, dalam hal ini kita tidak bisa menyalahkan negara 100% karena sesungguhnya penjagaan terhadap ruang dan fasilitas umum merupakan tanggung jawab bersama. Tanggung jawab itu menyebar (defuse responsibility) untuk semua warga.

Namun, sudah menjadi tugas negara untuk terus memberikan edukasi, meningkatkan literasi masyarakat tentang pentingnya keberadaan ruang-ruang publik yang aman dan nyaman. Dengan belajar dari koin jahat, kiranya penting juga bagi negara terus mengerek literasi digital masyarakat sehingga mereka mampu memahami dampak aktivitas online terhadap dunia nyata, termasuk etika bermain gim berbasis lokasi.



Berita Lainnya
  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

Opini
Kolom Pakar
BenihBaik