Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Harapan (tak lagi) seperti Hujan

04/1/2025 05:00
Harapan (tak lagi) seperti Hujan
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

'Seperti hujan yang jatuh tanpa pernah bertanya, harapan selalu datang meski kita tak pernah memintanya' (Sapardi Djoko Damono).

MUNGKIN kita tidak sedang meminta agar harapan itu tiba. Barangkali kita tidak sedang meronta agar kebaikan, bahkan kegemilangan, segera menggamit kita. Seyogianya kita tidak mendesak Tuhan untuk secepatnya memperbaiki hidup kita. Itu semua karena harapan akan datang kendati kita tidak memintanya atau mendesakkannya.

Namun, faktanya, untaian kata-kata sastrawan Sapardi Djoko Damono yang menurut anak sekarang 'bikin merinding' itu sulit ditemukan saat ini, pada waktu-waktu sulit sekarang ini. Setelah tahun berganti, jutaan orang, baik yang terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi, baik secara keras maupun berbisik, meminta agar harapan datang dan terjaga.

Mereka menyangsikan bahwa harapan masih seperti hujan yang jatuh ke bumi, masih bisa datang tanpa diminta. Jutaan orang di negeri ini mungkin masih punya dan percaya bahwa harapan itu ada, tapi sinarnya kian meredup. Di lapangan ekonomi, sebagian orang mencoba menjaga harapan dengan bersandar pada keyakinan bahwa 'rezeki Tuhan yang mengatur', atau 'rezeki tidak akan tertukar'.

Namun, angka-angka statistik 'meneror' mereka detik demi detik. Mereka menengok ke kanan dan ke kiri, menoleh ke belakang, para pekerja formal bertumbangan diempas badai pemutusan hubungan kerja (PHK). Ada yang berikhtiar membuka usaha kecil-kecilan dengan membuat beragam produksi, tapi hasilnya tak maksimal diserap pasar.

Barang masih menumpuk karena tidak dibeli. Para konsumen yang biasanya royal membeli hasil produksi kini banyak yang menahan diri. Para konsumen melakukan 'efisiensi'. Mereka sekuat tenaga menjaga agar dompet tidak terus tergerus oleh kebutuhan yang perlu, tapi tidak mendesak. Mereka hanya 'membiarkan' dompet terbuka untuk berbelanja hal-hal yang perlu dan mendesak.

Dengan demikian, terkonfirmasilah keadaan itu dari data Badan Pusat Statistik (BPS) terbaru, data di pengujung 2024. BPS melaporkan inflasi 2024 sebesar 1,57% secara tahunan (year on year/yoy). Itulah laju inflasi terendah sejak 1958. Banyak yang mengira inflasi rendah berarti baik. Inflasi rendah sebangun dengan terbitnya harapan.

Namun, belum tentu. Inflasi yang terlalu rendah justru kian mengonfirmasi bahwa daya beli kita yang rontok, akhir-akhir ini, benar adanya. Mengapa bisa begitu? Karena inflasi rendah 2024 terjadi dipicu lesunya permintaan. Permintaan lesu karena daya beli melemah.

Kelas menengah dan mereka yang menuju kelas menengah menahan belanja karena mesti kompromi terhadap isi kantong. Konsumsi rumah tangga memang masih tumbuh, tapi pertumbuhannya mengerut, belum bisa menyamai, apalagi melampaui, angka pertumbuhan sebelum pandemi covid-19.

Sebelum pandemi, konsumsi rumah tangga sanggup tumbuh di atas 5% per tahun. Namun, sejak setahun terakhir, pertumbuhan konsumsi rumah tangga turun naik dan tidak pernah menyentuh 5%. Pertumbuhan konsumsi patut dicermati karena ia merupakan penyangga utama pertumbuhan ekonomi nasional kita. Sektor konsumsi rumah tangga berkontribusi lebih dari separuh bagi pertumbuhan ekonomi.

Di lapangan hukum, sebagian besar masyarakat juga nyaris kehilangan harapan. Hukum kian dirasakan tidak adil dan tidak tegak. Meminjam istilah kolumnis Mahbub Djunaidi, hukum kita 'doyong-doyong'. Doyongnya terlihat kepada orang-orang di 'level atas'.

Bagaimana tidak dikatakan doyong jika ada koruptor pengeruk uang negara hingga Rp300 triliun cuma dihukum penjara 6,5 tahun dan membayar ganti rugi kurang dari 0,1% dari kerugian negara yang ditimbulkan? Masak iya, hukuman penjara itu cuma beda 6 bulan jika dibandingkan dengan vonis atas pencuri sound system mobil di Ambon yang tidak merugikan negara, tapi merugikan orang lain enggak sampai Rp1 miliar.

Kini, setelah menghadapi kepahitan akibat tersungkurnya daya beli, banyak orang juga kena mental karena hukum membikin frustrasi. Ketidakpercayaan terhadap hukum menebal, di tengah isi dompet yang kian menipis.

Karena itu, wajar belaka bila publik curiga, jangan-jangan memang harapan sudah tidak lagi bisa datang seperti hujan. Jangan-jangan, harapan tidak lagi gratis. Harapan muncul jika dijemput, dijanjikan rupa-rupa sesaji dan fasilitas, diminta dengan meronta-ronta.



Berita Lainnya
  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.

  • Pesta Elite, Nestapa Rakyat

    21/1/2026 05:00

    REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk. 

  • Vietnam Melaju Kencang

    20/1/2026 05:00

    KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.

  • Suara Profesor 15 Januari

    19/1/2026 05:00

    SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.

  • Setan pun Minder

    15/1/2026 05:00

    INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.

  • Regenerasi Koruptor

    14/1/2026 05:00

    Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.

  • Angka Tiga

    13/1/2026 05:00

    PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).

  • Burung Diadili, Bencana Dibiarkan

    12/1/2026 05:00

    PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah

  • Kutukan Ekonomi Ekstraktif

    09/1/2026 05:00

    VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai

  • Maduro dan Silfester

    08/1/2026 05:00

    APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.

  • Negara Bahagia

    07/1/2026 05:00

    INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.

  • Angka Lima

    06/1/2026 05:00

    ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.

  • Demokrasi Donat Pilkada tanpa Rakyat

    05/1/2026 05:00

    SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.

  • Pertobatan Ekologis

    03/1/2026 05:00

    ADAKAH berita baik di sepanjang 2025? Ada, tapi kebanyakan dari luar negeri. Dari dalam negeri, kondisinya turun naik

  • Tahun Lompatan Ekonomi

    02/1/2026 05:00

    SETIAP datang pergantian tahun, kita selalu seperti sedang berdiri di ambang pintu. Di satu sisi kita ingin menutup pintu tahun sebelumnya dengan menyunggi optimisme yang tinggi.

  • Tahun Baru Lagi

    31/12/2025 05:00

    SETIAP pergantian tahun, banyak orang memaknainya bukan sekadar pergeseran angka pada kalender, melainkan juga jeda batin untuk menimbang arah perjalanan bersama.