Headline

Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.

Merayakan Kekalahan

28/11/2024 05:00
Merayakan Kekalahan
Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

ORANG bijak pernah mengatakan, 'jika kau tak mampu menerima kekalahan, kau tak mampu merayakan kemenangan'. Kalau orang-orang berjiwa optimisme tinggi mendengar kalimat itu, mereka akan langsung menimpali, 'kenapa tidak sekalian saja kita merayakan kekalahan alih-alih cuma menerima kekalahan?'.

Bagi mereka, sekadar menerima kekalahan tidaklah cukup. Kekalahan mesti diterima tanpa ratapan, tanpa kesedihan, tanpa kekesalan, dan tanpa penyesalan. Itulah level tertinggi dari keikhlasan seseorang saat merespons kekalahan dalam konteks kontestasi atau kompetisi. Ekspresi dari keikhlasan tingkat itu ialah merayakan kekalahan.

Tentu cara merayakan kekalahan tidak sama dengan perayaan kemenangan. Tidak perlu ada pesta, tidak ada hura-hura. Lebih senyap, menghindari keramaian. Cara merayakan kekalahan ialah dengan mensyukuri proses yang telah dilalui sekaligus memahami bahwa kekalahan bukanlah akhir dari segalanya.

Mungkin ini terdengar klise, tetapi sejatinya memang selalu ada hikmah dan pelajaran yang bisa diambil dari setiap kekalahan. Kata orang, kegagalan ialah kesuksesan yang tertunda. Begitu juga kekalahan, adalah kemenangan yang tertunda. Maka itu, rayakanlah kekalahan, jangan ratapi kekalahan.

Konsep berpikir seperti itu kiranya pas untuk digaungkan mumpung sedang ada momentum Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024. Hajatan lokal sekaligus nasional itu, kemarin baru saja menyelesaikan tahapan pemungutan suara. Ada 1.556 pasangan kandidat kepala daerah di 545 daerah meliputi 37 provinsi, 415 kabupaten, dan 93 kota yang berlaga memperebutkan suara rakyat pada pilkada serentak tersebut.

Pemilihan umum sering diibaratkan sebuah kompetisi atau pertandingan politik. Di akhir kompetisi nanti, hasilnya tentu ada pihak yang menang, ada kubu yang kalah. Tidak ada hasil seri dalam kontestasi demokrasi.

Sepanas-panasnya atmosfer pertandingan, pada akhirnya semua mesti menerima hasil akhir itu. Kubu yang menang tentu akan menyambutnya dengan sukaria, terkadang ditingkahi pula dengan sikap jemawa. Sebaliknya, yang kalah biasanya akan merasa kecewa, sering kali juga ditambah gerundelan dan kemarahan.

Sebagai respons awal, barangkali hal itu wajar, lumrah. Sangat manusiawi apabila seseorang merasa sedih atau kecewa ketika mendengar kabar kekalahan. Namun, sungguh tak elok jika sikap itu menjadi keterusan. Kemarahan, kekecewaan, dan gerutuan kiranya menjadi tidak lumrah bila diterus-teruskan atau dibiarkan berlarut-larut.

Pun, kekalahan tidak bisa dibilang sebagai kemenangan yang tertunda kalau cara penerimaan atas kekalahan itu lebih didominasi rasa kecewa yang berlebihan. Menerima hasil kompetisi, sekalipun prosesnya terkadang menyakitkan, ialah modal untuk kita mau dan mampu move on, beranjak lepas dari bayang-bayang kekecewaan.

Itulah sejatinya hakikat dari merayakan kekalahan. Toh, sebesar apa pun kekecewaan yang diterima, the show must go on, pertunjukan tetap jalan terus. Kehidupan akan terus berjalan. Bukankah hidup bukan melulu soal kemenangan atau kekalahan? Bukankah hidup itu sendiri mesti terus dirayakan meskipun terkadang di dalamnya menyempil satu-dua kekalahan?

Dalam konteks pilkada, dengan mampu merayakan kekalahan, para kandidat semestinya juga bisa mengajak masyarakat untuk menyikapi hasil pemilihan itu sebagai realitas politik dan demokrasi. Politik ialah permainan panjang. Boleh saja kita kalah hari ini, tapi kita masih punya banyak babak mendatang untuk menunjukkan kemampuan.

Ada nasihat bijak yang rasanya perlu diresapi oleh seluruh peserta pilkada dan para pendukung mereka agar sanggup merayakan apa pun hasilnya nanti karena sesungguhnya pilkada ataupun pemilu diselenggarakan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat. 'Pemilu ialah refleksi keinginan masyarakat pada suatu waktu tertentu. Mari dengarkan dan belajar dari kekalahan ini untuk memahami lebih baik kebutuhan dan aspirasi rakyat'.

Kendati demikian, kesanggupan untuk merayakan kekalahan juga bukan berarti menormalisasi pelanggaran, kecurangan, bahkan keculasan yang mungkin saja terjadi selama proses pilkada. Penerimaan atas kekalahan itu tetap harus disertai dengan catatan-catatan kritis terkait dengan penyelenggaraan, pengawasan, dan seluruh proses kontestasi yang telah.

Percayalah, catatan kritis dari orang yang sanggup merayakan kekalahan akan lebih dihargai dan dihormati ketimbang ketika catatan-catatan itu disampaikan oleh orang yang selalu ngotot mengingkari kekalahan. Jadi, terutama bagi pihak yang kalah, tak perlu ragu, mari rayakan juga kekalahan kita.



Berita Lainnya
  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.