Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Daya Beli dan Keloyoan Ekonomi

09/11/2024 05:00
Daya Beli dan Keloyoan Ekonomi
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

PRESIDEN Prabowo Subianto pasti tengah berpikir sangat keras bagaimana mengupayakan terobosan agar di awal pemerintahan yang ia pimpin, ekonomi bisa cepat lari. Prabowo bahkan mesti berpikir lebih dari 'sangat keras' agar perekonomian tidak dimulai dari kondisi loyo. Sayangnya, fakta yang kedua itulah yang mesti ia hadapi.

Apa yang dikhawatirkan banyak analis ekonomi soal dampak dari rontoknya daya beli, yang bisa menjadi momok pemerintahan Prabowo, akhirnya terkonfirmasi. Sudah sejak di triwulan kedua, para ekonom dan sejumlah kalangan mewanti-wanti pemerintahan di bawah Presiden Jokowi waktu itu untuk serius menangani pelemahan daya beli. Namun, pemerintah bergeming dengan berkali-kali mengatakan daya beli masih aman.

Faktanya, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan perekonomian kita di triwulan ketiga 2024 ini (Juli, Agustus, dan September) hanya tumbuh 4,95%, alias melambat jika dibandingkan dengan triwulan kedua yang tumbuh 5,05%. Perlambatan itu terjadi karena makin loyonya daya beli.

Realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang hanya tumbuh 4,95% pada kuartal III 2024 secara tahunan, itu jauh di bawah 'konsensus' para ekonom dan lembaga ekonomi. Tadinya, mereka memprediksi perekonomian kita masih bisa tumbuh 5,03% di triwulan ketiga ini.

Itu artinya, pelemahan daya beli yang menjadi musabab loyonya pertumbuhan ekonomi berada dalam kondisi lebih dalam daripada yang diperkirakan. Pelemahan perrtumbuhan itu sangat jelas terlihat akibat penurunan laju konsumsi rumah tangga yang terus terjadi dengan hanya tumbuh di bawah 5% year on year, yakni 4,91% pada kuartal ketiga 2024.

Memang, konsumsi rumah tangga masih tumbuh, tapi terus melambat. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga kuartal ketiga kali ini lebih rendah daripada kuartal II 2024 sebesar 4,93%, kuartal III 2023 sebesar 5,05%, dan kuartal III 2022 sebesar 5,40%. Angka-angka itu menunjukkan konsistensi, sayangnya konsisten turun.

Pertumbuhan ekonomi di sektor yang sangat terkait dengan daya beli masyarakat, yakni sektor transportasi, pergudangan, akomodasi, makanan, dan minuman, juga melambat. Pada kuartal III 2024, pertumbuhan sektor transportasi dan pergudangan sebesar 8,64% yoy, padahal kuartal II 2024 masih tumbuh 9,56%. Untuk sektor akomodasi serta makan dan minum bahkan hanya tumbuh 8,33% dari kuartal sebelumnya yang mampu tumbuh dua digit, yakni 10,17%.

Tanda-tanda kian melambatnya konsumsi rumah tangga juga tecermin pada kontribusi sektor tersebut terhadap produk domestik bruto (PDB) yang kian menyusut, menjadi hanya 2,55 poin persentase (pp). Padahal, biasanya konsumsi rumah tangga berkontribusi sekitar 2,6 pp terhadap total PDB. Dengan pertumbuhan ekonomi 4,95%, kontribusi 2,55 pp itu setara dengan 51,55% terhadap total PDB.

Pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang lebih lambat itu disebabkan meningkatnya pengangguran. Hal itu ditandai dengan naiknya angka pemutusan hubungan kerja di Indonesia sebesar 31% yoy hingga Oktober, dengan jumlah hampir 60 ribu orang.

Belum lagi aktivitas manufaktur yang juga terkontraksi selama empat bulan berturut-turut, menandai kemerosotan sektor manufaktur terpanjang sejak 2021. Akibatnya, permintaan domestik melemah yang ujung-ujungnya berdampak pada konsumsi.

Dengan berbagai perkembangan itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia secara keseluruhan pada 2024 diperkirakan hanya di level 5%. Itu berarti lebih rendah daripada realisasi pertumbuhan ekonomi pada 2023 yang sebesar 5,05%. Jadi, tantangan jelas lebih berat dan upaya mencari terobosan harus lebih keras.

Butuh stimulan yang lebih, tidak hanya dari sisi fiskal pemerintah, tapi juga dari sisi moneter. Dari sisi fiskal, perpanjangan insentif fiskal yang terkait dengan insentif PPnBM untuk mobil listrik, properti, lalu tax holiday memang penting. Namun, bila ingin dampak insentif itu lebih terasa, mestinya rencana penaikan pajak PPN jadi 12% awal tahun depan sebaiknya dibatalkan.

Dari sisi moneter, data pertumbuhan kuartal III 2024 sebetulnya sudah menjadi sinyal bagi otoritas moneter, yakni Bank Indonesia, untuk segera menurunkan tingkat suku bunga acuan BI rate, yang saat ini masih tinggi di level 6%. Kalau suku bunga diturunkan dan lebih murah, aktivitas ekonomi akan meningkat, terutama dari sisi konsumen. Mereka butuh suku bunga lebih murah untuk membayar cicilan, untuk membayar terkait dengan biaya kredit bagi para pelaku usaha.

Tentu, itu semua butuh orkestrasi yang kompak, perlu kabinet yang segendang sepenarian. Para menteri dan otoritas moneter mesti berani jujur mengakui bahwa kebijakan mereka selama ini belum ramah terhadap daya beli. Dengan mengakui secara jujur tanpa menghibur diri, dipadu dengan nyanyian yang senada seirama, tantangan akan lebih mudah ditaklukkan.



Berita Lainnya
  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.

  • Pesta Elite, Nestapa Rakyat

    21/1/2026 05:00

    REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk. 

  • Vietnam Melaju Kencang

    20/1/2026 05:00

    KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.

  • Suara Profesor 15 Januari

    19/1/2026 05:00

    SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.

  • Setan pun Minder

    15/1/2026 05:00

    INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.

  • Regenerasi Koruptor

    14/1/2026 05:00

    Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.

  • Angka Tiga

    13/1/2026 05:00

    PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).

  • Burung Diadili, Bencana Dibiarkan

    12/1/2026 05:00

    PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah

  • Kutukan Ekonomi Ekstraktif

    09/1/2026 05:00

    VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai

  • Maduro dan Silfester

    08/1/2026 05:00

    APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.

  • Negara Bahagia

    07/1/2026 05:00

    INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.

  • Angka Lima

    06/1/2026 05:00

    ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.

  • Demokrasi Donat Pilkada tanpa Rakyat

    05/1/2026 05:00

    SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.

  • Pertobatan Ekologis

    03/1/2026 05:00

    ADAKAH berita baik di sepanjang 2025? Ada, tapi kebanyakan dari luar negeri. Dari dalam negeri, kondisinya turun naik

  • Tahun Lompatan Ekonomi

    02/1/2026 05:00

    SETIAP datang pergantian tahun, kita selalu seperti sedang berdiri di ambang pintu. Di satu sisi kita ingin menutup pintu tahun sebelumnya dengan menyunggi optimisme yang tinggi.

  • Tahun Baru Lagi

    31/12/2025 05:00

    SETIAP pergantian tahun, banyak orang memaknainya bukan sekadar pergeseran angka pada kalender, melainkan juga jeda batin untuk menimbang arah perjalanan bersama.