Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
SELASA, 2 Juli 2024, Mark Rutte resmi menyerahkan jabatannya sebagai perdana menteri Belanda kepada Dick Schoof. Sirkulasi kekuasaan bukan sesuatu yang aneh. Yang aneh, seusai meneken dokumen serah terima, Rutte meninggalkan kantor dengan menaiki sepeda.
Bagi banyak orang, buat para pemimpin dunia lainnya, mengakhiri jabatan penting di sebuah negara seperti itu bisa jadi tak normal, tapi tidak buat Rutte. Tak hanya meninggalkan kantor dengan bersepeda, Rutte yang masih mengenakan jas lengkap bahkan pergi tanpa pengawalan atau rombongan yang mengantar. Laporan media Belanda, NRC Handelsblad, juga menyebutkan Rutte menolak diberi kado apa pun. Baginya, menjadi PM Belanda selama 14 tahun tak mesti ditukar dengan imbalan spesial.
Rutte memang terbiasa dengan hidup apa adanya. Saat masih menjabat, dia tidak menggunakan fasilitas negara. Dia memilih tetap tinggal di apartemen sederhana dan pergi pulang ke kantor dengan bersepeda. Setelah tak lagi menjabat, dia tetap hidup biasa, di tempat biasa, bukan di rumah atau apartemen mewah pemberian negara. Semua itu dilakukan dari hati, bukan demi citra diri.
Presiden Uruguay 2010-2015, Jose Mujica, juga hidup amat sederhana. Dia bahkan dijuluki sebagai presiden termiskin di dunia. Satu-satunya harta berharga yang dimiliki ialah mobil Volkswagen Beetle keluaran 1987. Saat memerintah, dia menyumbangkan sebagian gajinya untuk amal. Bahkan, setelah mundur dari posisi senator selepas mengakhiri jabatan sebagai presiden, dia menolak uang pensiun.
Mujica tak berubah. Bersama istrinya, dia tinggal di sebuah perkebunan sederhana di pinggiran Montevideo. Sebagai mantan presiden, dia tidak lantas menjalani sisa hidupnya di rumah megah pemberian negara.
Rutte dan Mujica ialah dua contoh pemimpin dunia yang saat berkuasa dan setelahnya hidup bersahaja. Bagaimana dengan di negeri ini, Indonesia? Bolehlah kita bersyukur karena juga punya pemimpin berintegritas tinggi semacam itu. Ambil contoh Bung Hatta.
Wakil Presiden Pertama RI itu dikenal sederhana, juga jujur. Tidak ada mentang-mentang dalam kamus hidupnya. Sebagai pejabat tinggi, tentu sangat mudah baginya untuk berangkat haji diongkosi, tapi dia tak melakukannya. Hatta ke Tanah Suci dengan biaya hasil menabung dari honor menulis. Saking sederhananya, Hatta tidak ingin dimakamkan di taman makam pahlawan saat meninggal.
Mohammad Natsir sama saja. Dia perdana menteri 1960-1951. Tokoh politik berbahasa santun itu juga pernah menjadi menteri penerangan 1946-1947 dan 1948-1949. Namun, semua itu tak membuatnya lupa diri.
Natsir pernah menolak hadiah mobil mewah. Bahkan, negarawan kelahiran Alahan Panjang, Sumatra Barat, 1908, itu beberapa kali terlihat memakai jas tambalan. 'Pakaiannya sungguh tidak menunjukkan dia seorang menteri dalam pemerintahan', begitu tulis Guru Besar Universitas Cornell, George McTurnan Kahin, dalam buku Natsir, 70 Tahun Kenang-kenangan Kehidupan dan Perjuangan.
Kalau Mujica dijuluki presiden termiskin di dunia, Ir Sutami ialah menteri paling miskin di Indonesia, bahkan mungkin sejagat. Padahal, ia menyandang jabatan basah sebagai menteri pekerjaan umum di era Presiden Sukarno dan Pak Harto. Akan tetapi, Sutami tetap membumi, tetap sederhana. Atap rumahnya di Jl Imam Bonjol, Jakarta Pusat, yang dicicil dan baru lunas menjelang pensiun, bocor. Karena ia telat membayar, aliran listrik di kediamannya pernah dicabut. Bahkan, lantaran tak punya uang, Sutami tidak kuasa berobat ke rumah sakit saat jatuh sakit.
Kita patut bangga punya pemimpin sumber keteladanan. Mereka rela hidup sederhana, bahkan menderita, sama seperti kebanyakan rakyat mereka. Namun, itu dulu, dulu sekali. Kalau sekarang? Kisahnya berkebalikan.
Baik pada saat maupun setelah menjabat, kebanyakan pemimpin saat ini hidup enak. Ketika masih berkuasa, presiden Republik ini bergemilang fasilitas, setelah tak lagi berkuasa hadiah luar biasa terus membanjiri mereka. Ketika masih menjadi kepala negara, mereka tinggal di istana milik negara. Setelah lengser, mereka tetap hidup di istana pemberian negara.
Kecuali Bung Karno, semua mantan presiden mendapatkan rumah atau uang atau lahan. Pak Harto mendapatkan uang Rp20 miliar, BJ Habibie memperoleh rumah di Kuningan, Jakarta Selatan, Gus Dur mendapatkan lahan 2.000 m2 di Mega Kuningan, Megawati dapat rumah di Teuku Umar, Menteng, dan SBY diberi rumah di Mega Kuningan.
Jokowi ogah ketinggalan. Dia memilih lokasi di luar Jakarta, tepatnya di Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah, dengan luas lahan mencapai 12 ribu m2. Kebayang, kan, betapa luasnya?
Proses pembangunan rumah Jokowi bahkan sudah dimulai, sama seperti jatah untuk Wapres Ma'ruf Amin di Cimanggis, Depok. Kalau mantan-mantan presiden sebelumnya mendapat rumah setelah pensiun, Jokowi beda. Rumah itu sudah disiapkan saat dia masih berkuasa.
Tentu saja harga rumah atau lahan untuk mereka tersebut mahal tak terkira. Bisa ratusan miliar rupiah. Tentu pula, rumah itu, lahan itu, bukan buah dari Tapera, bukan hasil potongan gaji berpuluh-puluh tahun.
Pemberian rumah bagi mantan presiden dan wapres memang sah. Ada UU-nya, ada keppresnya, ada perpresnya, ada peraturan menkeunya. Pertanyaannya, patutkah mereka mendapatkannya sementara masih ada berjuta-juta rakyat untuk memiliki rumah paling sederhana pun tak bisa? Ah, seandainya kita punya Rutte, Mujica, atau Hatta, Natsir, Sutami hidup kembali, beruntunglah negeri ini.
KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.
ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.
BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.
REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk.
KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.
SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.
INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.
Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.
PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).
PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah
VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai
APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.
INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.
ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.
SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.
ADAKAH berita baik di sepanjang 2025? Ada, tapi kebanyakan dari luar negeri. Dari dalam negeri, kondisinya turun naik
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved