Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Maaf Enggan, Mundur tak Hendak

Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group
04/7/2024 05:00
Maaf Enggan, Mundur tak Hendak
Ahmad Punto Dewan Redaksi Media Group(Ebet)

'MAAF' sejatinya menjadi satu kata yang begitu ditunggu-tunggu publik dari pemerintah seusai insiden peretasan Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) 2 yang terjadi sejak 20 Juni lalu. Namun, hingga bulan berganti, kata sakti itu tak jua terucap lantang.

Ada permintaan maaf, tapi bukan secara resmi disampaikan pemerintah, terutama dari mereka yang semestinya bertanggung jawab langsung atas kegagalan menjaga aset data digital negara tersebut. Yang muncul justru perlombaan ngeles, saling menyalahkan, lempar tanggung jawab, dan ujungnya janji basi untuk melakukan evaluasi.  

Di awal-awal insiden peretasan, Kementerian Komunikasi dan Informatika sempat meminta maaf terkait dengan layanan imigrasi yang sempat terganggu akibat serangan ke PDNS. Lalu, lima hari setelah peretasan, Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Hinsa Siburian juga mengucap maaf karena PDNS diretas dan mengakibatkan sejumlah layanan publik terganggu. Namun, keduanya bukan ungkapan maaf untuk kegagalan mereka dalam melaksanakan tugas menjaga dan melindungi pusat data.

Padahal, dampak dari serangan tersebut teramat dahsyat. Jebolnya PDNS oleh serangan ransomware itu sedikitnya berdampak terhadap 282 layanan institusi pemerintah pusat dan daerah. Selain itu, dapat berisiko merugikan warga negara dalam beberapa aspek seperti pelanggaran kerahasiaan atau pengungkapan data pribadi secara tidak sah ataupun tidak disengaja. Sejauh ini, penguncian data itu belum bisa dipulihkan. 

Yang menjadi ironi, ungkapan maaf malah muncul dari si peretas alias hacker yang mengaku menyerang server PDNS. "Masyarakat Indonesia, kami meminta maaf atas fakta bahwa (serangan) ini berdampak ke semua orang," begitu kata ransomware geng Brain Chiper dalam bahasa Inggris yang diunggah akun @StealthMole pada platform X, Selasa (2/7). Mereka juga berjanji akan memberikan kunci akses data-data pemerintah yang dienkripsi secara cuma-cuma.

Bolehlah kita bilang kelompok itu sebagai hacker santun jika memang permintaan maaf yang mereka rilis didasari ketulusan. Namun, boleh jadi itu hanya sebuah manuver baru, berpura-pura meminta maaf demi tujuan lebih besar yang sedang mereka incar. Ibarat guyonan lama soal bajaj, hanya sopir dan Tuhan yang tahu manuver itu bakal mengarah ke mana.

Namun, terlepas dari apa pun motif mereka, tetap saja ungkapan maaf dari pihak penyerang itu menjadi sindiran telak buat pemerintah. Kebatuan pemerintah yang keukeuh tidak mau minta maaf atas insiden besar itu nyatanya malah dimanfaatkan oleh si penjahat untuk menarik simpati publik. Sebaliknya, simpati dan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah semakin anjlok.

Dalam konteks itu, saya sepakat dengan cibiran politikus PDIP Adian Napitupulu. Intinya ia menyebut hanya terjadi di Indonesia peretas minta maaf, tetapi menteri yang seharusnya bertanggung jawab malah enggan. 'Hanya di Indonesia hacker minta maaf, menteri kagak. Inikah yang disebut Indonesia maju?', tulis Adian yang diunggah di akun Instagram pribadinya, @adian__napitupulu, Selasa (2/7).

Oke, kalau ucapan maaf belum ada, lantas bagaimana dengan kabar desakan publik dan parlemen agar Menkominfo Budi Arie Setiadi mengundurkan diri sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kegagalan pemerintah menjaga 'pusaka' negara berupa data digital itu? Tampaknya, sih, makin mustahil dilakukan. Minta maaf saja berat, apalagi disuruh mundur. Sorryye

Lagi pula, kata orang, mengundurkan diri bukan budaya pejabat Indonesia. Pejabat mundur menjadi barang langka di negeri ini. Saking langkanya, keengganan mundur bagi pejabat bermasalah seolah menjadi sebuah standar moralitas baru. Seakan-akan mereka boleh saja mempertahankan kursi empuk jabatan sekalipun gagal mengemban tanggung jawab atau ada setumpuk kesalahan, pelanggaran, kelalaian yang mereka lakukan saat berada di kursi jabatan itu.

Rakyat harus mafhum meskipun sehari-sehari berkutat dengan urusan  berbau digital yang serbamodern, Menteri Budi tidak ada bedanya dengan rata-rata pejabat kita yang kolot dan selalu kukuh memegang prinsip: kalau masih bisa lanjut, kenapa harus mundur? Mundur hanya buat orang-orang lemah, kata mereka. 

Meski jelas-jelas gagal, walau nyata-nyata membuat kesilapan, kendati dibilang anggota DPR telah melakukan kebodohan nasional, sangat mungkin dia tak punya kehendak untuk mundur. Apalagi dia berasal dari organisasi yang dikenal sebagai pendukung die hard Presiden Joko Widodo. Tentu 'keamanan' posisi dia boleh dikatakan sangat terjamin. Kiranya Presiden sama enggannya untuk menyuruh dia mengundurkan diri. 

Kalaupun terus dipaksa melakukan dua hal berat itu, minta maaf dan mundur, saya khawatir pada akhirnya dia malah akan menjawab dengan memodifikasi kalimatnya menggunakan dua kata itu. "Maaf, saya tidak mau mundur."  Nah, lo, makin runyam jadinya, kan?



Berita Lainnya
  • Pengawas Mati, Korupsi Tumbuh

    26/1/2026 05:00

    KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.

  • Rupiah Vs IHSG

    23/1/2026 05:00

    ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.

  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.

  • Pesta Elite, Nestapa Rakyat

    21/1/2026 05:00

    REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk. 

  • Vietnam Melaju Kencang

    20/1/2026 05:00

    KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.

  • Suara Profesor 15 Januari

    19/1/2026 05:00

    SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.

  • Setan pun Minder

    15/1/2026 05:00

    INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.

  • Regenerasi Koruptor

    14/1/2026 05:00

    Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.

  • Angka Tiga

    13/1/2026 05:00

    PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).

  • Burung Diadili, Bencana Dibiarkan

    12/1/2026 05:00

    PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah

  • Kutukan Ekonomi Ekstraktif

    09/1/2026 05:00

    VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai

  • Maduro dan Silfester

    08/1/2026 05:00

    APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.

  • Negara Bahagia

    07/1/2026 05:00

    INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.

  • Angka Lima

    06/1/2026 05:00

    ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.

  • Demokrasi Donat Pilkada tanpa Rakyat

    05/1/2026 05:00

    SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.

  • Pertobatan Ekologis

    03/1/2026 05:00

    ADAKAH berita baik di sepanjang 2025? Ada, tapi kebanyakan dari luar negeri. Dari dalam negeri, kondisinya turun naik